Bapak Bangsa Pecinta Sepakbola

  Bapak bangsa pecinta sepakbola adalah Tan Malaka. Sejak kecil ia akrab dengan sepakbola. Pada thn 1913, saat usianya menginjak 16 tahun, ia melanjutkan pendidikannya ke Belanda. Rekan-rekannya di Belanda kagum kepadanya, karena meski tingginya 165 cm, Tan tangkas dalam menggiring bola. Tan bergabung bersama klub profesional Vlugheid Wint selama 2 tahun. Di klub itu, Tan dikenal sebagai […]

Bapak Bangsa Pecinta Sepakbola

 

Bapak bangsa pecinta sepakbola adalah Tan Malaka. Sejak kecil ia akrab dengan sepakbola. Pada thn 1913, saat usianya menginjak 16 tahun, ia melanjutkan pendidikannya ke Belanda.

Rekan-rekannya di Belanda kagum kepadanya, karena meski tingginya 165 cm, Tan tangkas dalam menggiring bola. Tan bergabung bersama klub profesional Vlugheid Wint selama 2 tahun. Di klub itu, Tan dikenal sebagai penyerang yang memiliki kecepatan dan tendangan keras meski bermain tanpa alas kaki.

Meskipun ia mencintai sepakbola, ia tetap ingat tugas utamanya yakni memperjuangkan nasib Nusantara. Ia pun memantau sejumlah perkembangan politik dunia dan perang yang berkecamuk .

Tan kemudian kembali ke Indonesia setelah 3 tahun di Belanda. Ia bertekad mengubah nasib bangsa, termasuk dalam urusan sepakbola.

Pada awal 1920-an, stigma kultural kolonial Belanda merasuk ke dlm sepakbola. Tak jarang ditemui papan peringatan bertuliskan “Dilarang  Masuk utk Pribumi & Anjing” di halaman lapangan sepakbola. Kemudian sejumlah klub sering berinteraksi dengan sejumlah tokoh seperti Tan Malaka.

Semangat sumpah pemuda mendorong pemuda bergabung melawan kebusukan NIVB. Saat itu PSSI yang ada di bawah pimpinan Ir. Soeratin mampu unjuk gigi tidak hanya kepada Belanda, tapi pada dunia. Pada era 1930-an, Nusantara yang memakai nama Hindia Belanda berhasil menduduki posisi elit sepakbola Asia. Nusantara menjadi tim sepakbola Asia pertama yg tampil di Piala Dunia.

Tan sering membantu rakyat kecil di daerah lewat sepakbola, ia memang tak berjuang secara langsung membela Nusantara di kancah sepakbola. Namun ia mengerti, pecinta sepakbola sejati pasti paham bahwa olahraga itu merupakan jati diri.