CEO PSIS Merasa Dibunuh Komdis PSSI

  • PSIS Semarang sukses dapatkan sanksi diskualifikasi. Pemain, pelatih, dan manajemen juga telah dihukum akibat kasus sepak bola gajah. Belakangan CEO PT Mahesa Jenar yang mengelola PSIS, AS Sukawijaya, merasa dibunuh Komdis PSSI.

PSIS Semarang sukses dapatkan sanksi diskualifikasi. Pemain, pelatih, dan manajemen juga telah dihukum akibat kasus sepak bola gajah. Belakangan CEO PT Mahesa Jenar yang mengelola PSIS, AS Sukawijaya, merasa dibunuh Komdis PSSI.

“Saya siap bertanggungjawab. Hujatlah saja, bunuhlah saya, tetapi jangan bunuh PSIS,” sembur pria yang kadang disapa Yoyok Sukawi itu.

“Sebelum saya ambil alih, PSIS sudah mati suri. Tak ada satupun yang sanggup mengelola karena memang butuh biaya besar. Pemerintah juga tak mau memfasilitasi agar PSIS bisa survive. Karena kecintaan saya pada sepakbola dan PSIS, maka saya ikhlas keluar banyak duit untuk membiayai.”

Perjuangan seluruh pemain dan manajemen agar bisa bertahan hidup akhirnya harus kandas karena tiga gol bunuh diri saat melawan PSS Sleman di Lapangan AAU Yogyakarta, Minggu 26 Oktober lalu.

”Saya ingin bertemu Ketua Komdis PSSI Hinca Panjaitan, karena saya yang paling bertanggung jawab. Kasihan pemain, pelatih. Larangan beraktivitas sepak bola seumur hidup sangat berat. Ini namanya tidak melakukan pembinaan melainkan pembinasaan bagi karier para pemain.”

Mantan manajer PSIS, Wahyu Winarto, juga merasa heran dengan keputusan Komdis PSSI. Menurutnya, secara jujur ia sudah mengaku yang menyuruh pemain bunuh diri. Itu pun aksi spontan karena kesal PSS melakukan dua gol bunuh diri terlebih dahulu.

“Kami terbuka. Tidak ada yang ditutup-tutupi dan direncanakan. Itu spontan di lapangan dan saya yang menyuruh. Anehnya, saat jujur malah dianggap menutup-nutupi dan disuruh berbohong. Saya siap kena sanksi  lima kali hukuman seumur hidup, tetap saya siap menerimanya, karena saya memang yang menyuruh mereka,” ujar Wahyu.

Ia ikut menjelaskan bahwa sehari sebelumnya ia mendengar kabar bahwa PSS akan mengalah. Jika terpaksa, PSS akan melakukan bunuh diri. Itulah sebabnya panitia pelaksana PSIS vs PSS mendadak memindah tempat pertandingan dari  Stadion Maguwoharjo ke Lapangan AAU, dan diupayakan tanpa penonton.

”Berita itu sudah keluar di media sehari sebelum pertandingan. Kenapa PSSI diam saja dan tidak segera melakukan penyelidikan. Bila kami tampil menyerang, mereka akan gampang bunuh diri. Bisa saja dengan skenario back pass, awalnya, kami tidak pernah berpikir PSS berani melakukan gol bunuh diri. Tapi ternyata mereka tetap berani melakukannya. Kami emosi dan kaget.”

Karena telah mengeluarkan banyak biaya, PSIS merasa disepelekan. Tak ada penghormatan dari tuan rumah kepada tim tamu. Bahkan yang terjadi malah penghinaan.

“Seakan-akan kalau mereka tak bunuh diri, kami tak bisa menang. Karena emosi, spontan saya tidak menginstruksikan menyerang. Sekaligus untuk membuktikan bahwa berita di media benar. Kalau mau jujur, PSIS sudah membantu PSSI menguak adanya kejanggalan di PSS,” tambah Liluk.

“Biarlah nanti masyarakat yang menilai, karena PSIS tak punya mental serendah itu. Sekali lagi karena kami merasa dilecehkan dan dihina, maka kami membalas penghinaan itu dengan lebih parah. Prinsipnya, kami selaku manajemen mohon maaf kepada masyarakat dan para pendukung jika telah salah langkah. Percayalah, sebenarnya langkah kami untuk menjaga kehormatan PSIS yang telah dilecehkan,” pungkasnya.