Laga PSS vs PSIS Akan Digelar di Lapangan Militer

Laga PSS vs PSIS akan digelar di lapangan militer. PSS Sleman tidak akan menggunakan Stadion Maguwoharjo saat melakoni laga pamungkas melawan PSIS Semarang pada tahap delapan besar Divisi Utama, akhir pekan ini (26/10/2014).

Liga Indonesia  - Laga PSS vs PSIS Akan Digelar di Lapangan Militer

 

Laga PSS vs PSIS akan digelar di lapangan militer. PSS Sleman tidak akan menggunakan Stadion Maguwoharjo saat melakoni laga pamungkas melawan PSIS Semarang pada tahap delapan besar Divisi Utama, akhir pekan ini (26/10/2014).

Hal tersebut terpaksa dilakukan karena pihak kepolisian tidak mengeluarkan izin pertandingan yang akan sangat menentukan bagi kedua klub untuk menjadi juara Grup N itu.

Sebagai gantinya, PSS akan menggunkaan lapangan militer milik Akademi Angkatan Udara (AAU) Adisutjipto Yogyakarta, Berbah, Sleman pada laga itu.

“Siang ini saya dan Pak Kamto (Sukamto, Ketua Panpel) berangkat ke Polres (Sleman) untuk mengambil surat jawaban penolakan izin pertandingan yang sudah kami ajukan,” jelas Sekretaris Panitia Pelaksana (Panpel) Pertandingan PSS Ediyanto, Kamis (23/10/2014).

Ediyanto sendiri menilai alasan Polres Sleman tidak mau memberi izin cukup dimengerti. Selain karena suporter timnya yang tengah dalam pantauan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, situasi terakhir terkait suporter pun masih memanas.

Terlebih ditambah insiden meninggalnya suporter Persis Solo saat pecahnya kericuhan yang melibatkan suporter dengan polisi, Rabu (22/10/2014) di Stadion Manahan Solo. Kondisi merugikan itu makin membuat pihak keamanan berat memberikan izin.

“Surat penolakan dari Kapolres penting bagi kami sebagai dasar untuk disampaikan ke PT Liga Indonesia guna memproses pengajuaan stadion pengganti yakni Stadion AAU Adisutjipto,” ucap Ediyanto.

Meski Stadion Maguwoharjo telah memenuhi syarat karena PT LI sudah memverifikasinya, Ediyanto mengaku masih ragu. Oleh karenanya pihaknya langsung mengajukan lapangan AAU dengan cepat ke PT LI agar  dapat jawaban boleh dipakai atau tidak.

Ediyanto tak lupa menjelaskan dengan tidak menggelar pertandingan di kandangnya sendiri dipastikan kehilangan pemasukan dari penjualan tiket penonton. Setidaknya Rp 400 juta dipastikan tak masuk kantong.

“Kalau rata-rata setiap laga kandang kami memperoleh Rp 300-Rp 400 juta saat pertandingan normal,” pungkasnya.