Piala AFF: Inikah Penyebab Indonesia Tampil Buruk?

Penampilan Firman Utina dan kawan-kawan di Piala AFF 2014 ini benar-benar jauh dari harapan. Mereka bermain seperti tak punya visi, determinasi dan skema.

Penampilan Firman Utina dan kawan-kawan di Piala AFF 2014 ini benar-benar jauh dari harapan. Mereka bermain seperti tak punya visi, determinasi dan skema.

Saat melawan Vietnam, Indonesia berada di bawah tekanan sepanjang pertandingan. Sedangkan saat melawan Filipina, para pemain sering melakukan kesalahan-kesalahan mendasar. Hanya keberuntungan yang membuat Tim Merah Putih bisa menahan imbang Vietnam 2-2. Tapi benar-benar tak berkutik kala dicukur Filipina 4-0.

Apa yang salah dari tim besutan Alfred Riedl ini? Sang pelatih punya dua argumentasi mengapa timnya bermain buruk.

Argumentasi pertama, waktu persiapan latihan menjelang Piala AFF yang terlalu singkat. Menurutnya, latihan dengan pemain lengkap baru bisa dilakukan sepekan sebelum berangkat ke Hanoi, Vietnam, 18 November lalu. Latihan lengkap tidak bisa dilakukan pada waktunya karena banyak pemain yang masih mengikuti babak 8 besar ISL.

Argumentasi kedua, kondisi pemain yang baru bergabung ke timnas tidak fit. Setelah membela klubnya di babak semifinal dan final Liga Super Indonesia (ISL) 2014, mereka masih kelelahan, sehingga tidak dalam stamina bugar saat bergabung dengan timnas.

“Stamina pemain kami tidak bagus. Persiapan dengan tim yang lengkap hanya seminggu, karena pemain harus menyelesaikan kompetisi,” ungkap Riedl kepada wartawan di Hanoi, seusai timnya ditekuk Filipina, Selasa (25/11).

“Sebenarnya kami punya pemain tinggi, yakni Sergio van Dijk. Namun kami tetap berusaha bermain bola pendek. Lagi-lagi, kami tidak punya pemain dengan fisik prima. Jadi, permainan bola pendek tidak berjalan baik. Solusinya paling mudah adalah memberikan umpan lambung ke depan,” tutur pelatih.

Tapi jika melihat pemain-pemain di Eropa sana, yang antara jadwal liga dengan pertandingan internasional (timnas) hanya jeda sepekan, tampaknya argumentasi Riedl kurang bisa diterima. Misalnya, pertandingan kualifikasi Piala Eropa 2016, itu diadakan berselang seminggu setelah pertandingan liga domestik.