Sepakbola gajah di Indonesia (1)

  • Skandal dalam sepakbola bukan hanya terjadi di Italia. Di Indonesia, skandal sudah lama ada. Dalam catatan sepakbola nasional, ada istilah sepakbola gajah di mana salah satu tim sengaja mengalah untuk menyingkirkan atau menghindari lawan tertentu. Sepakbola gajah yang terkenal adalah partai antara Persebaya Surabaya vs Persipura Jayapura pada Minggu, 21 Februari 1988 yang berakhir dengan […]

Skandal dalam sepakbola bukan hanya terjadi di Italia. Di Indonesia, skandal sudah lama ada. Dalam catatan sepakbola nasional, ada istilah sepakbola gajah di mana salah satu tim sengaja mengalah untuk menyingkirkan atau menghindari lawan tertentu.

Sepakbola gajah yang terkenal adalah partai antara Persebaya Surabaya vs Persipura Jayapura pada Minggu, 21 Februari 1988 yang berakhir dengan skor 0-12. Padahal, materi pemain Persebaya saat itu maha hebat. Mereka memiliki bintang seperti Subangkit, Yongki Kastanya, Budi Johanis, hinga bintang muda Mustaqim. Apalagi mereka bertindak sebagai tuan rumah karena berlaga di Stadion Gelora 10 November.

Apa motifnya? Supangat, salah satu pengurus Persebaya mengakui, “kekalahan” itu sebagai bagian dari strategi untuk menghindari lawan berat, dalam hal ini PSIS Semarang. Maklum di final Perserikatan sebelumnya (1986-87) Persebaya kalah 1-2 di partai final melawan PSIS Semarang. Persebaya yang unggul 1-0 harus mengakui kehebatan Mahesa Jenar berkat gol balasan Ribut Waidi dan Syaiful Amri. Motif balas dendam menjadi salah satu sebab lahirnya sepakbola gajah.

Sebenarnya Bajul ijo tak perlu melakukan hal ini karena di babak penyisihan Grup Timur Persebaya dua kali menang melawan PSIS Semarang. Di kandang menang 3-1, dan tandang unggul 1-0.