Tanggapan PSSI Terkait Kasus ‘Si Penjual Jus’

  Masih ingat ‘Si Penjual Jus’? PSSI akhirnya bersedia angkat bicara terkait kasus mantan pemain PSLS Lhokseumawe, Sergei Litvinov, yang menderita penunggakan gaji dan sampai membuat si pemain Rusia tersebut dideportasi. Bagi yang belum tahu, Sergei sudah sejak setahun lalu belum menerima gajinya dari PSLS Lhokseumawe, dengan total Rp 124 juta. Berbagai cara dia lakukan […]

Liga Indonesia  - Tanggapan PSSI Terkait Kasus ‘Si Penjual Jus’

 

Masih ingat ‘Si Penjual Jus’? PSSI akhirnya bersedia angkat bicara terkait kasus mantan pemain PSLS Lhokseumawe, Sergei Litvinov, yang menderita penunggakan gaji dan sampai membuat si pemain Rusia tersebut dideportasi.

Bagi yang belum tahu, Sergei sudah sejak setahun lalu belum menerima gajinya dari PSLS Lhokseumawe, dengan total Rp 124 juta. Berbagai cara dia lakukan demi bisa mencari uang untuk makan sehari-hari, hingga tak malu berjualan jus buah di Solo.

Sergei sebelumnya juga sudah mengadukan nasibnya kepada APPI (Asosiasi Pesepakbola Profesional), klub dan PSSI. Ironisnya, mereka belum memberikan bentuk tanggung jawab nyata.

Akhir cerita, Sergei pun ditangkap oleh pihak imigrasi pada Jumat (27/06/2014). Sempat ditahan beberapa hari, dia pun dipulangkan ke Rusia pada Rabu (02/07/2014) lalu. Selain kecewa, pemain 27 tahun itu juga berjanji akan membawa kasus tersebut kepada FIFA.

“Terus terang saja masalah ini sudah berhari-hari menjadi diskusi kami di PSSI. Karena PSSI ingin melihat solusi untuk jangka pendek atau pun jangka panjang,” ujar Sekjen PSSI Joko Driyono, Minggu (06/07/2014).

Ia menilai kasus Sergei sebenarnya adalah tanggung jawab pihak klub. Namun, PSLS Lhokseumawe disebutnya juga tidak jelas.

“Ini adalah tanggung jawab klub. Tapi klubnya saja jangankan bangkit, berkompetisi pun juga tidak ikut. Ya, konsekuensinya pasti berdampak pada jatah PSSI yang ada di FIFA,” tambahnya.

Joko tak lupa mengklaim kedepannya pihaknya bakal membuat perencanaan yang lebih matang terhadap klub-klub. Ketegasan juga terutama terkait masalah keuangan.

“Kami mencoba membuat perencanaan yang lebih sistematis. Yang paling mudah adalah dari sisi enforcement (pelaksanaan) regulasi. Misalnya, utang-utang klub-klub ISL yang kemarin dilalui dulu kemudian musim berikutnya kami lebih represif lagi,” pungkasnya.