Beginilah Nasib Mayoritas Pemain Bola Setelah Pensiun

169

Pekan lalu kita membaca berita soal satu legenda bola Jerman, Andreas Brehme, yang hampir saja bekerja sebagai pembersih toilet di Jerman karena bangkrut dan dililit utang sebesar Rp 3,3 Milyar. Brehme berjasa bagi sepakbola Jerman karena menadi eksekutor satu tendangan penalti ke gawang Argentina, yang membuat Jerman keluar sebagai juara dunia tahun 1990. Sebenarnya pemain sepakbola […]

Liga Inggris Liga Jerman  - Beginilah Nasib Mayoritas Pemain Bola Setelah Pensiun

Pekan lalu kita membaca berita soal satu legenda bola Jerman, Andreas Brehme, yang hampir saja bekerja sebagai pembersih toilet di Jerman karena bangkrut dan dililit utang sebesar Rp 3,3 Milyar.

Brehme berjasa bagi sepakbola Jerman karena menadi eksekutor satu tendangan penalti ke gawang Argentina, yang membuat Jerman keluar sebagai juara dunia tahun 1990.

Sebenarnya pemain sepakbola bangkrut adalah barang jamak.

Menurut penelitian Xpro, sebuah badan amal untuk kesejahteraan mantan pemain pro di Inggris, sebanyak 33 persen pemain akan bercerai dalam waktu satu tahun setelah pensiun, 40 persen dinyatakan pailit dalam waktu lima tahun usai memainkan laga terakhir mereka, dan 80 persen akan menderita osteoarthritis (penyakit pengapuran sendi yang menyebabkan kesakitan bergerak dan berjalan).

Para pemain yang memasuki masa pensiun dari dunia profesional, entah di usia 29 tahun, 33 tahun, atau 37 dan 40 tahun, akan sangat berbeda dibandingkan masa jaya mereka. Kondisinya jauh dari gemerlap, tidak bisa bergaya hidup glamor, tidak ada tabungan puluhan milyar di bank, tidak ada rumah-ranch-istana, tidak ada mobil mewah rapi di garasi.

Direktur pelaksana Xpro Dean Holdsworth adalah mantan penyerang klub Bolton dan Wimbledon.

Ia mengatakan, mereka membantu para mantan pemain pro dengan segala macam masalah, mulai dari rehabilitasi untuk kecanduan ini-itu, membantu meringankan gangguan kesehatan yang terkait dengan stres, menghilangkan kekhawatiran utang, pekerjaan dan pelatihan ulang untuk mendapatkan pekerjaan lain.

“Setiap pesepakbola dianggap sama [kayanya] dengan 10 atau 20 persen dari para pemain Premier League,” tukas Holdsworth.

“Banyak orang tidak percaya ketika Anda menjalankan badan amal untuk sepakbola profesional. Umumnya orang akan bilang mereka tidak butuh itu. Dalam beberapa kasus itu memang benar.”

“Kami mengelola mayoritas [mantan pemain] bukan minoritas. Cukup banyak pemain di Liga Premier tidak akan memerlukan bantuan keuangan atau kesejahteraan.”

Biro akuntansi Deloitte memperkirakan bahwa sementara rata-rata gaji di Premier League adalah Rp 449 juta per minggu, jumlah ini turun menjadi hanya Rp 97 juta per pekan di Championship, liga kasta kedua di Inggris.

Holdsworth mengatakan, banyak sekali pemain yang tidak merencanakan masa depan mereka dari karir yang sangat singkat. Para pemain pro biasa menghabiskan semua uang yang mereka terima. Umumnya telepon pertama yang Xpro terima dari sebagian besar pemain adalah sebuah panggilan panik ketika kontrak mereka menjelang berakhir.

“Untuk pemain top masalah [pensiun] adalah hilangnya status sosial, tetapi untuk pemain yang dilepas oleh Accrington [salah satu klub Divisi Dua Inggris, kasta terbawah di Liga Inggris] kekhawatirannya mungkin bagaimana membayar cicilan rumah.”