Ngambek, Pemain Liverpool Ini Minta Dirinya Dihukum UEFA

  • Nasib apes menimpa bek Liverpool, Mamadou Sakho. Pemain ini ngambek dan meminta UEFA menghukum dirinya sendiri setelah mengalami hal yang membuatnya menderita. Kasihan… Ya, pemain mana yang tidak sakit hati coba, jika kesempatannya bermain di Euro Prancis sirna bukan karena kesalahan sendiri. Melainkan akibat kelalaian otoritas sepakbola Eropa atau UEFA. Nah, hal inilah yang membuat […]

Nasib apes menimpa bek Liverpool, Mamadou Sakho. Pemain ini ngambek dan meminta UEFA menghukum dirinya sendiri setelah mengalami hal yang membuatnya menderita. Kasihan…

Ya, pemain mana yang tidak sakit hati coba, jika kesempatannya bermain di Euro Prancis sirna bukan karena kesalahan sendiri. Melainkan akibat kelalaian otoritas sepakbola Eropa atau UEFA.

Nah, hal inilah yang membuat bek Liverpool ini ngambek dan minta dirinya sendiri dihukum. Ceritanya begini.

Maret lalu saat berlaga di pentas Liga Europa melawan Manchester United, Sakho gagal lolos tes doping yang dilakukan UEFA. Dideteksi ia rupanya memakai obat pembakar lemak.

Akibatnya, Sakho kemudian tak bisa bermain di semua laga sisa Liverpool musim kemarin. Bahkan penderitaan Sakho bertambah runyam setelah ia dibuang pelatih Didier Deschamps dari skuat Prancis yang berlaga di Euro 2016.

Ini menyakitkan Sakho karena sebelumnya dia memang sudah masuk daftar pemain yang akan dipanggil dalam skuat Ayam Jantan. Namun, gara-gara mulut bocor UEFA yang bilang dia doping, yah jadi apes nasibnya.

Karena belakangan muncul berita mengejutkan dari UEFA. Akhir bulan Mei kemarin, tersiar kabar bahwa obat yang dipakai Sakho sama sekali tak masuk daftar obat hitam UEFA. Sakho pun bebas dari semua dakwaan.

Namun terlambat bagi Sakho. Liverpool sudah memainkan semua laga sisanya bahkan kalah di final Piala Europa melawan Sevilla. Sedangkan Prancis telah mengumumkan skuat final untuk berlaga di Euro.

Nah, karena terlanjur nasi sudah jadi bubur, Sakho hanya bisa pasrah. Pemain berambut pang ini lantas ngambek dan meminta UEFA menghukumnya saja larangan bermain selama 30 hari.

“Beberapa obat-obatan menyebabkan adanya hukuman larangan main secara otomatis. Dan lainnya ada yang tidak. Dalam kasus ini, sang pemain justru berharap dihukum untuk sementara atas kemauannya sendiri. Dan UEFA mengabulkan permintaannya itu,” ungkap salah satu staf medis UEFA Marc Vouillamoz kepada L’Equipe.

Menurut Vouillamoz, komite disiplin biasanya memberikan keputusannya secara cepat atas masalah ini. Informasi yang dibutuhkan diambil dari para ahli dan dokumen-dokumen, lalu diberikan pada sang pemain untuk melakukan pembelaan. Namun sudah terlambat.

“Sekarang sebenarnya sang pemain memiliki kesempatan untuk berbicara. Sekali sang pemain memberikan opininya, komisi disiplin biasanya segera memutuskan kasus itu dengan cepat,” terang Vouillamoz.