Yaya Toure Larang Anaknya Jadi Pesepak Bola Karena Alasan Sepele

Menjadi pemain top apalagi di klub-klub besar Eropa pastilah menjamin hidup enak. Tapi kenapa pula bintang Manchester City, Yaya Toure, melarang anaknya mengikuti jejak dia jadi pesepakbola?

Liga Inggris  - Yaya Toure Larang Anaknya Jadi Pesepak Bola Karena Alasan Sepele
Yaya Toure

Menjadi pemain top apalagi di klub-klub besar Eropa pastilah menjamin hidup enak. Tapi kenapa pula bintang Manchester City, Yaya Toure, melarang anaknya mengikuti jejak dia jadi pesepakbola?

Toure berpendapat bahwa menjadi pemain bola bukanlah pilihan karir yang bagus. Dia merasa bagaimana sengsasanya dia menjalani profesi itu selama 5 tahun di Inggris. Persoalannya adalah bukan pada masalah teknis bermain bola, tapi lebih karena perlakuan pihak luar terhadap pesepakbola, khususnya mereka yang berasal dari Afrika.

Pemain asal Pantai Gading itu selalu merasa media Inggris selalu mengungkit sisi negatif dari dirinya. Media tidak pernah melihat sisi positif, terutama menyangkut prestasinya di lapangan hijau.

Pemberitaan negatif tentang dirinya sudah dimulai ketika dia dibeli Manchester City dari Barcelona Juli 2010. Waktu itu dia dibeli seharga 24 juta poundsterling. Media Inggris menilai harganya itu tidak pantas karena terlalu mahal, untuk seorang pemain yang tidak terpakai di Barcelona.

“Saya datang sebagai pemain yang tak masuk tim inti Barcelona dalam beberapa bulan terakhir. Para jurnalis terus membahas besaran gaji dan mengatakan hal itu sebagai aib. Saya juga dianggap akan membunuh sepak bola,” ungkapo Toure, Senin (19/10/2015).

Untungnya Toure mampu membungkam kritik melalui penampilan di lapangan. Dia mengantarkan The Citizens menjuarai Piala FA pada 2010-11 dan Premier League 2011-12. Peran Toure makin vital ketika City kembali menjuarai liga pada 2013-14. Pemain berkebangsaan Pantai Gading tersebut mencetak 24 gol pada berbagai ajang, 20 di antaranya di Premier League.

“Akan tetapi, tak seorang pun membahas catatan (positif) tersebut saat kami gagal menjadi juara pada 2014-15. Kami tanpa pengakuan karena gagal meraih trofi,” ucapnya mengeluhkan.

“Di sini, saat ada sesuatu yang negatif, mereka akan menonjolkannya. Mereka menggunakan cara itu untuk mengasingkan saya,” tutur Toure yang dituding media Inggris sebagai biang kagagalan City merebut gelar juara musim lalu.

Perlakuan diskriminatif itulah yang membuat Toure begitu sakit hati. Dia tidak ingin anaknya akan mengalami nasib serupa nanti. Karena itulah dia tidak mengijinkan putranya untuk memilih karir sebagai pesepakbola.

“Saya tak mau mereka (anak-anaknya) melalui pengalaman yang pernah saya alami. Hal itu akan menyakiti saya,” kata ayah dari Dimitri Toure itu.

Sepakbola.cc