Inilah Rumor Terakhir Suasana Kamar Ganti Chelsea

  • Mungkin Pedro menyesal pindah ke Chelsea. Suasana kepelatihan klub juara Inggris itu diwarnai ketakutan staf, bisik-bisik di pojokan, rasa tidak puas karyawan dalam kasus Dokter Eva Carneiro dan rasa frustrasi Jose Mourinho sendiri.

Liga Inggris  - Inilah Rumor Terakhir Suasana Kamar Ganti Chelsea

Berita Bola : Mungkin Pedro menyesal pindah ke Chelsea. Suasana latihan klub juara Inggris itu diwarnai ketakutan staf, bisik-bisik di pojokan, rasa tidak puas karyawan dalam kasus Dokter Eva Carneiro dan rasa frustrasi Jose Mourinho sendiri.

Sumber-sumber yang dikutip Daily Mail melaporkan, saat Jose Mourinho memasuki tempat pelatihan, karyawan Chelsea pergi bersembunyi ke kamar-kamar samping atau mengintip di sudut-sudut guna menghindari bertatapan muka dengan manajer temperamental mereka.

Tak seorang pun ingin datang dan berhubungan dengan Mourinho hari-hari ini. Tidak ketika mood-nya tengah begitu jelek dan suasana begitu menekan.

Mourinho tidak akan pernah berkomentar soal teriakan ‘filho da puta’ (“bajingan!”) terhadap dokter klub, Eva Carneiro, selama laga imbang 2-2 dengan Swansea City pada hari pembukaan musim Premier League.

Dokter Eva adalah figur yang populer di klub dan hampir semua karyawan mendukung posisinya.

Ini adalah salah satu alasan mengapa Mourinho belum kunjung berhasil memotivasi ruang ganti. Kasus Dokter Eva itu menciptakan ketegangan antara dia dan para pemain.

Liga Inggris  - Inilah Rumor Terakhir Suasana Kamar Ganti Chelsea

Dokter Eva belum masuk kerja selama 36 hari terakhir, dengan kondisi menjadi penuh ketidakpastian karena Chelsea sebagai sebuah entitas bisnis tengah mempersiapkan diri menghadapi sebuah gugatan perdata dari sang dokter, yang dapat merugikan mereka sekitar Rp 5 Milyar atau lebih.

Mourinho sejauh ini menolak untuk minta maaf dalam kasus Dokter Eva.

Menurut Daily Mail, ada rumor di klub bahwa pasangan Roman Abramovich, Dasha Zhukova, bersama dengan para istri dan partner dari para pemain, merasa Mourinho terlalu keras dan sama sekali tidak sopan terhadap kaum perempuan dalam kasus Dokter Eva.

Mourinho sedang berjuang untuk menyatukan tim ini bersama-sama, untuk menyatukan ruang ganti setelah mereka merasakan kekalahan ketiga mereka musim ini di Everton pada hari Sabtu lalu.

Itu adalah sebuah kinerja yang menyedihkan. Tapi bahasa tubuh pemain ketika mereka turun dari bus tim menunjukkan bahwa mereka sudah kalah sebelum bertanding. Di mana keangkuhan sang juara, aura yang biasanya dikaitkan dengan tim pemenang gelar Mourinho?

Beberapa masalah dapat ditelusuri kembali ke musim lalu dan rasa frustrasi sang manajer terhadap Diego Costa berlanjut lebih dalam daripada sekedar frustrasi karena cedera otot paha belakang yang merepotkan striker senilai Rp 640 Milyar tersebut.

Setelah Chelsea memastikan gelar dengan kemenangan 1-0 atas Crystal Palace pada tanggal 3 Mei, Mourinho memberi hadiah para pemainnya dengan empat hari libur guna memberikan mereka waktu untuk merayakannya.

Costa, yang terbang ke Madrid untuk berpesta, bermanja-manja terlalu lama dan mengambil satu hari liburan ekstra. Mourinho menanggapinya dengan mencoret dia dari tim yang bermain imbang 1-1 melawan Liverpool pada 10 Mei, tapi pada saat itu masalah sudah mulai menumpuk untuk Costa.

Selama periode tiga minggu sebelum memastikan trofi, sudah ada banyak keluhan tentang kebisingan keras di sekitar kediaman Diego Costa. Pada saat itu, ia sudah tidak pernah menciptakan gol lagi.

Secara fisik pemain kelahiran Brasil itu sudah kembali dalam kondisi yang baik musim ini, dengan pemain Chelsea mencatat bahwa ia telah kembali ke kondisi puncak menyusul ekses musim panas ini. Meskipun demikian, ia beru satu kali mencetak gol.

Radamel Falcao, striker cadangan yang berbagi agen yang sama, Jorge Mendes, seperti Mourinho, dibayar Rp 3,2 Milyar per minggu oleh Chelsea sebagai bagian dari perjanjian dengan klub pemiliknya, Monaco. Dia telah membuat dampak yang kecil.

Ada juga resistensi di antara para pemain untuk sistem otoriter Mourinho – meski pun terbukti sangat sukses – yang menghasilkan dua gelar musim lalu. Ada pemain di tim – seperti Oscar, Willian dan Eden Hazard – yang lebih suka bermain dengan lebih banyak kebebasan bakat daripada sistem.

Untuk keluar dari lubang jebakan ini, sang manajer harus mengatasi perpecahan internal yang menciptakan begitu banyak konflik dan membawa pemain kembali kompak.