Gara-gara Spanduk Anti-Yahudi, Klub Ini Dijatuhi Sanksi

10

Peristiwa pembantaian jutaan orang Yahudi di bawah kekuasaan Nazi di Jerman dan Polandia selama Perang Dunia Kedua menyebabkan Eropa agak sensitif untuk semua hinaan anti-Semit (anti-Yahudi). Karena itu tidak mengherankan jika UEFA kemudian menghukum klub Serbia, Partizan, untuk menutup sebagian dari stadion tersebut pada pertandingan Liga Europa berikutnya setelah “perilaku rasis” oleh para penggemar mereka di […]

Liga Europa Liga Inggris  - Gara-gara Spanduk Anti-Yahudi, Klub Ini Dijatuhi Sanksi
Peristiwa pembantaian jutaan orang Yahudi di bawah kekuasaan Nazi di Jerman dan Polandia selama Perang Dunia Kedua menyebabkan Eropa agak sensitif untuk semua hinaan anti-Semit (anti-Yahudi).

Karena itu tidak mengherankan jika UEFA kemudian menghukum klub Serbia, Partizan, untuk menutup sebagian dari stadion tersebut pada pertandingan Liga Europa berikutnya setelah “perilaku rasis” oleh para penggemar mereka di pertandingan sebelumnya.

Suporter Partizan memperlihatkan banner anti-Semit yang menirukan logo sebuah komedi situasi British TV bertajuk “Only Fools and Horses” selama laga imbang 0-0 tuan rumah melawan Tottenham di Belgrade pada 18 September.

Tottenham Hotspur memiliki mayoritas penggemar dari komunitas Yahudi di London.

Bunyi kata-kata dalam spanduk itu akan dinilai menyakitkan untuk mereka yang keturunan Yahudi.

Partizan harus menutup sebagian dari stadion ketika klub Turki Besiktas datang berkunjung pada laga berikutnya, 23 Oktober, hukuman khas UEFA untuk pelanggaran kali pertama.

UEFA juga menjatuhkan denda sebesar 40.000 Euro, setara Rp 615 juta.

Hukuman UEFA untuk Partizan masih terasa ringan untuk sebuah negara yang memiliki sejarah panjang rasisme di sepakbola.

Penulis The Guardian Jelena Obradovic-Wochink mendedikasikan sebuah artikel dengan subjek serupa yang menyoroti insiden selama pertandingan U21 antara Serbia dan Inggris:

“Sementara sebagian besar pendukung sepak bola di Serbia tidak terorganisir di sekitar klub-klub ini, fans Serbia ini telah terlibat dalam daftar panjang insiden kekerasan baru-baru ini.”

“Pada tahun 2005, penggemar sepak bola Serbia memasang spanduk yang mengacu pada pembantaian Srebrenica di kualifikasi Piala Dunia melawan Bosnia-Herzegovina.”

“Setelah insiden kekerasan 2011 di Genoa pada kualifikasi Euro 2012, federasi sepak bola Serbia didenda 120.000 Euro.”

“Ini adalah titik krisis, dan mengikuti saran dari presiden UEFA Michel Platini, kemneterian interior Serbia membentuk unit khusus untuk mengatasi hooliganisme di sepakbola dan berusaha mencegah larangan bermain di kompetisi internasional.”

Meski terasa tidak adil untuk menganggap semua penggemar sepakbola Serbia adalah rasis, tak terbantahkan bahwa negara bekas pecahan Yugoslavia di era 1980-an itu memiliki masalah dengan perilaku beberapa penggemarnya.

UEFA memiliki kesempatan untuk mengirim pesan yang kuat setelah insiden terbaru itu, dan sekali lagi, agaknya akan gagal untuk memberi efek jera.

Penutupan stadion secara parsial dan denda 40.000 Euro tidak akan cukup, dan benar-benar tidak efektif. Seperti yang disebut oleh Football Serbia, manajemen Partizan saat ini sedang berusaha untuk meyakinkan para penggemarnya untuk berhenti melakukan tindakan bodoh karena hukuman berikutnya akan jauh lebih berat.

Larangan dalam wujud pertandingan di balik pintu tertutup telah menjadi senjata UEFA saat ini, meskipun hukuman tidak terbukti benar-benar efektif.

Baru minggu lalu, CSKA Moskow dipaksa menjamu  Bayern di Munich pada stadion yang kosong. Itu insiden kedua tim dalam satu tahun terakhir.

UEFA mengatakan panel disiplin juga akan menjatuhkan sanksi pada Partizan untuk aksi-aksi fans yang menyerbu lapangan, menyalakan kembang api dan menggunakan laser pointer untuk mengganggu pemain tim tamu.

Partizan mengeluarkan pernyataan bulan lalu bahwa mereka “sepenuhnya mengutuk pelaku tindakan ceroboh ini.”