Jose Mourinho Terbitkan Buku

15

Jose Mourinho akan menerbitkan buku berjudul The Manager pada akhir bulan ini. Buku itu akan mengulas pandangan serta pengalaman Mourinho selama menjadi pelatih profesional. Sebelumnya, Mou sempat berbicara dengan Mike Carson dari The Telegraph dan mengungkap sebagian rahasia kesuksesannya selama ini. Ia ¬†akan menjalani laga kompetitif perdananya sebagai pelatih Chelsea melawan Hull City akhir pekan […]

Liga Inggris Xtra Time  - Jose Mourinho Terbitkan BukuJose Mourinho akan menerbitkan buku berjudul The Manager pada akhir bulan ini. Buku itu akan mengulas pandangan serta pengalaman Mourinho selama menjadi pelatih profesional.

Sebelumnya, Mou sempat berbicara dengan Mike Carson dari The Telegraph dan mengungkap sebagian rahasia kesuksesannya selama ini.

Ia  akan menjalani laga kompetitif perdananya sebagai pelatih Chelsea melawan Hull City akhir pekan ini. Mou juga mengingat kembali periode pertamanya menjadi manajer di Stamford Bridge pada 2004.

Berikut beberapa kutipan tentang cara Mourinho menjalani kariernya sebagai salah satu pelatih sepakbola tersukses saat ini.

1. Mengapa Pilih Chelsea Pada 2004?

Chelsea pada 2004 adalah momen yang tepat dalam karier saya dan para pemain Chelsea. kami bertemu pada saat yang tepat dalam karier kami.

Saya datang dari Porto yang merupakan juara Eropa, tapi budaya sepakbola Inggris menuntut lebih. Inggris menuntut anda untuk sukses di tanah mereka, bukan di tempat lain.

Inggris adalah negara sepakbola. Mereka mengatakan: ‘Oke, kamu memang juara Liga Champions. Tapi buktikan di sini dan lakukan di sini.

 

2. Mengapa Bisa Langsung Sukses?

Saya rasa pemain Chelsea saat itu hanya butuh pemimpin yang bisa mewadahi ambisi mereka setiap hari. Saya tak bisa gembira hanya dengan memenangkan dua atau tiga pertandingan awal. Kami harus menang, menang dan terus menang.

Saya rasa, seorang manajer selalu menjadi pemimpin. Tapi anda bisa menjadi pemimpin yang berbeda dengan orang lain.

para pemain Chelsea saat itu butuh sosok yang bisa mewujudkan potensi mereka menjadi kemenangan. Saya rasa, pemimpin yang mereka butuhkan saat itu adalah saya.

 

3. Gaya Kepemimpinan Mourinho

Saat itu saya menjadi pemimpin konfrontatif karena saya menganggap itulah yang dibutuhkan klub. Saya menyebutnya gaya konfrontatif karena bukan hanya terjadi di dalam klub, tetapi juga di luar klub.

Kami tak takut berkata bahwa kami adalah yang terbaik. Kami tak khawatir mengatakan bahwa kami akan menang, menjadi spesial. Kami tahu kami akan membuktikannya dan itu sempurna bagi saya.

Musim 2004-05 adalah musim para pemain Chelsea bisa berkata bahwa mereka adalah yang terbaik di Inggris. Buat saya, musim itu saya bisa berkata bahwa saya tidak hanya bagus di Portugal tetapi juga di Inggris. kami semua merasa termotivasi.

 

4. Frank Lampard dan Ballon d’Or

Saya masih ingat mengatakan kepada Frank: Kamu adalah pemain terbaik dunia tetapi tak ada orang lain yang tahu’. Frank pernah menjadi finalis di Ballon d’Or. Saya rasa dia tidak menjadi pemenang karena tidak menjadi juara Liga Champions.

Selama 2004 hingga 2007 dia jelas adalah salah satu pemain terbaik dunia. Seandainya saja Frank memenangkan Liga Champions lebih awal, dia akan dipilih menjadi pemain terbaik.

Saya memotivasi grup dan juga individu. Buat Frank, saya hanya harus memberikan tantangan dan dia akan mempersiapkan diri untuk menuntaskannya.

 

5. Kesimpulan Periode Pertama di Chelsea

Chelsea lebih kuat pada era 2004-2008. Tapi itulah magis sepakbola.

Buat saya, fase itu adalah fase brilian. Saya belajar banyak dari para pemain dan saya rasa mereka juga belajar banyak dari saya. Pelajaran terbesar yang saya dapat adalah cara memotivasi grup kami lewat konfrontasi.

 

6. Kiprah di Internazionale

Inter selalu menerima akibat dari kesalahan para pemimpin, tapi saya tak melakukan kesalahan itu. tak ada pemain senior yang merasa saya datang untuk mengakhiri karier mereka.

Para pemain senior harus merasa akan memberikan segalanya sampai momen terakhir mereka. Jika bisa melakukannya, maka mereka bisa menjalani tahun-tahun terbaik dalam karier mereka.

Kesalahan yang dibuat banyak orang adalah tidak bisa membuat pemain senior merasa penting. Anda harus mengerti pikiran mereka: rasa frustasi, ambisi dan keraguan mereka.

 

7. Menangani Talenta Besar

Saya tak pernah punya masalah dalam menangani para talenta istimewa. Sama sekali tak pernah.

Saya tak mengerti ketika orang mengatakan bahwa tak boleh ada lebih dari satu talenta istimewa dalam satu tim. Saya justru ingin 11 pemain istimewa dalam tim saya.

Mungkin saya beruntung, tetapi saya tak pernah mengalami masalah. Hal terberat yang dialami pelatih adalah ketika tidak memiliki pemain dengan bakat istimewa dalam timnya.

 

8. Pendekatan Terhadap Pemain

Semakin anda mengerti para pemain, semakin mudah bagi anda untuk memimpin mereka. Saya tak suka tipe kepemimpinan di mana para pemain berkata: ‘Dia adalah pemimpin saya kadi saya harus menghormatinya’. Saya lebih suka jika mereka mengatakan: ‘saya menghormatinya dan dia adalah pemimpin saya.’

Itu adalah dua hal yang sangat berbeda. Mereka bisa saja berkata: ‘Saya melakukannya karena ia memerintahkan saya dan saya wajib mematuhinya’. Saya lebih senang jika mereka mengatakan: ‘Saya percaya kepadanya sehingga saya siap melakukan semua kata-katanya.’

Saya lebih suka pendekatan dengan empati seperti itu.

 

9. Berteman Dengan Pemain

Saya tahu bahwa banyak yang mengatakan bahwa pelatih tak boleh berteman dengan para pemainnya. Saya berani mengatakan yang sebaliknya.

Jika anda tidak berteman dengan para pemain, anda tak akan bisa mencapai potensi maksimal dari tim anda.

Pelatih harus bisa menjadi teman pemain. Tetapi pelatih juga harus bisa membuat pemain mengerti bahwa tidak semua jawaban yang mereka dapat akan menyenangkan. Penting untuk membuat pemain mengerti hal ini.

 

10. Mengutamakan Pemain

Pelatih boleh terbang dengan kelas bisnis jika pemain juga naik di kelas bisnis. Jika ruang di kelas bisnis tidak cukup untuk semua, maka pelatih dan para staf harus menuju kelas ekonomi.

Saya naik kelas bisnis karena pemain saya juga berada di sana. Jika ada masalah, saya yang akan ke belakang ke kelas ekonomi.

Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah klub pergi menjalani laga pramusim. Pelatih dan para staf naik ke kelas eksekutif sedangkan para pemain naik kelas ekonomi. Saya berpikir bahwa itu adalah awal yang buruk dan saya tak salah.

Sebagai pemimpin, ada satu hal yang harus selalu diingat: orang-orang anda lebih penting dari anda.

 

11. Para Pemain Baru

Untuk semua pemain baru, integrasi mereka ke tim adalah membuat mereka mengerti kami. Mereka harus tahu setiap aspek klub dan mengikutinya, termasuk pengaturan waktu, taktik dan kegiatan rutin.

Pemain baru yang harus melakukannya dan harus beradaptasi. kami tak akan berubah untuk pemain baru, sang pemain yang harus menyesuaikan.

Jadi, kami membuat pemain itu merasa istimewa. Tapi kami juga menegaskan bahwa klub kami lebih istimewa. Tim kami ingin berkembang dengan bantuan pemain baru itu.

 

12. Mengapa Kembali ke Inggris

Saya merasa beruntung. Sebagai pelatih, saya sudah bekerja di empat negara: Portugal, Inggris, Italia dan Spanyol.

Hal baiknya adalah saya bisa membandingkan berbagai emosi di banyak tempat. Saya juga mendapat pengalaman dalam banyak kompetisi. Kita selalu bisa bicara soal kualitas sepakbola, tetapi tidak dengan emosi di dalamnya.

Emosi dan atmosfer di Inggris tidak bisa dibandingkan dengan negara-negara lain. Buat orang-orang yang mencintai sepakbola seperti saya, Inggris adalah tempat terbaik untuk menikmati sepakbola.