Leicester City di Liga Champions, Sukses atau Terpuruk?

Masih sulit untuk dipercaya bagi sebagian orang bahwa Leicester City yang menjadi juara Inggris, bahkan untuk mantan manajer Sven-Goran Eriksson. […]

Masih sulit untuk dipercaya bagi sebagian orang bahwa Leicester City yang menjadi juara Inggris, bahkan untuk mantan manajer Sven-Goran Eriksson. Lalu bagaimana nasib mereka nanti di Liga Champions?

Leicester menyelesaikan salah satu prestasi olahraga terbesar sepanjang masa setelah membongkar kemustahilan dengan menjadi juara Liga Primer sebagai tim antah brantah.

Setelah hampir terdegradasi di musim 2014-15, skuad Claudio Ranieri bermain seperti tim juara sepanjang musim untuk menyelesaikan kompetisi dengan unggul 10 poin di puncak klasemen atas Arsenal di posisi kedua.

Diingatkan tentang Leicester yang menakjubkan ke puncak sepak bola Inggris, Eriksson – yang menghabiskan satu tahun bertugas 2010-2011 – sudah terpesona melihat apa yang terjadi selama kampanye mendatang.

“Itu benar-benar luar biasa. Saya sangat senang untuk para fans, klub, pemilik, dan beberapa pemain yang saya bekerja dengan mereka,” kata pelatih asal Swedia itu kepada Omnisport.

“Mereka tidak hanya memenangkan Liga Premier, mereka menang dengan gaya bermain mereka dan dengan banyak poin.”

“Mereka sejauh ini merupakan tim terbaik dan itu akan sangat menarik untuk melihat apakah mereka bisa mengulanginya lagi, yang akan lebih menakjubkan lagi.”

Liga Champions akan menjadi pengalaman pertama yang akan berlangsung di Stadion King Power musim ini sebagaimana Leicester menjadi juara Premier League.

Dan Eriksson percaya mereka dapat berbuat sesuatu di Eropa, bahkan tanpa gelandang N’golo Kante yang pergi ke Chelsea.

“Saya pikir mereka bisa membuat dampak di Eropa,” ujar Eriksson.

“Sebagian besar pemain tidak bermain di Liga Champions sebelumnya, tapi ada banyak tekanan untuk bermain pada hari Minggu dan Rabu atau apapun itu, sehingga Anda harus sangat siap untuk itu.”

“Misalnya di SIPG, kami telah memainkan begitu banyak pertandingan dan melakukan perjalanan begitu banyak, sehingga merupakan salah satu alasan kadang-kadang ketika kami berjuang. Kami lelah.”

“Sangat sulit untuk bermain selama seminggu juga.”

Sepakbola.cc