Mancini Bos Baru, Begini Cara Inter Milan Ubah Taktik Main Bolanya

Roberto Mancini adalah seorang striker selama masa jayanya sebagai pemain. Namun Mancini sangat menekankan pada strategi main bola sejak dari lini belakang, menekankan pentingnya untuk tidak kebobolan. Ia sangat suka mengatakan, tim punya peluang untuk menang sejauh tidak kebobolan. Saking senangnya pada strategi ini ia dikenal dengan kutipannya, “Saya suka dengan kemenangan 1- 0. Bila Anda tidak kemasukan gol […]

Liga Inggris Liga Italia  - Mancini Bos Baru, Begini Cara Inter Milan Ubah Taktik Main Bolanya

Roberto Mancini adalah seorang striker selama masa jayanya sebagai pemain. Namun Mancini sangat menekankan pada strategi main bola sejak dari lini belakang, menekankan pentingnya untuk tidak kebobolan.

Ia sangat suka mengatakan, tim punya peluang untuk menang sejauh tidak kebobolan.

Saking senangnya pada strategi ini ia dikenal dengan kutipannya, “Saya suka dengan kemenangan 1- 0. Bila Anda tidak kemasukan gol dan Anda memiliki pemain seperti Edin Dzeko, Carlos Tevez atau David Silva, Anda sudah 90% menang.”

“Saya lebih suka kita tampil membosankan selama dua sampai tiga pertandingan dan kami menang 1-0. Jika Anda memperhatikan maka tim yang memenangkan gelar selalu kebobolan sangat sedikit gol.”

Beberapa pengamat berpendapat Mancini adalah manajer dengan pendekatan “defence first” bukan “win first”, sebuah gaya yang telah dikritik oleh beberapa di media Inggris.

Namun, yang lainnya percaya bahwa pendekatan pragmatis dan hati-hati adalah kekurangan tim Manchester City selama ini, dan bahwa Mancini mengadopsi gaya guna memastikan Man City dapat memperebutkan trofi secara teratur.

Meskipun Mancini telah tampil defensif di banyak laga Manchester City yang kemudian mengundang kritik, harus diingat bahwa dia mewarisi tim ini dari Mark Hughes, yang sementara membuat banyak potensi di depan gawang lawan, tapi memiliki pertahanan yang rapuh di belakang.

Selama berbulan-bulan ia secara intensif melatih sistem pembelaannya, bahkan membawa pemain muda Dedryck Boyata dari tim muda Man City sehingga akhirnya memungkinkan dia mendapatkan hasil yang positif.

Di Serie A musim 2007-2008 saat mana Inter Milan juara, klub ini kebobolan gol paling sedikit di liga, hanya 26 tepatnya, 11 gol lebih sedikit dibandingkan Juventus dan Roma.

Di City, timnya telah secara bertahap mengumpulkan reputasi sebagai tim yang terorganisir dengan baik di lini belakang dan sulit untuk diterobos. Dalam musim pertama saat Mancini bertanggung jawab secara penuh di Man City, mereka kebobolan hanya 33 gol di Premier League, paling sedikit kebobolan bersama Chelsea dan mencatatkan 18 laga tanpa kebobolan, yang tertinggi di musim 2010-11.

Mancini diketahui menggunakan media untuk mengurangi tekanan dari para pemainnya.

Menyusul kekalahan City dari Arsenal pada musim 2011-12, timnya defisit 8 poin dengan rival Manchester United dengan hanya enam pertandingan tersisa sampai akhir musim. Setelah pertandingan Arsenal, ia menyatakan kepada media bahwa defisit 8 poin itu bisa dikejar.

Namun setelah City memenangkan pertandingan berikutnya secara meyakinkan melawan West Brom 4-0, Mancini sejak saat itu melakukan perang urat saraf dengan mengatakan pada wawancara pasca-pertandingan bahwa perburuan gelar sudah berakhir.

Manchester City kemudian memenangkan tiga pertandingan berikutnya, yang berarti kemenangan melawan Manchester United akan menempatkan mereka di puncak klasemen karena unggul selisih gol. City lalu mengalahkan United 1-0, dengan Mancini lalu mengakui di depan publik bahwa perburuan gelar itu terbuka kembali – tetapi bahwa United adalah favorit memenangkan dua pertandingan sisa.

Pendekatan ortodoks Mancini bekerja dengan baik, dan klubnya memenangkan liga dengan selisih gol setelah kedua tim sama-sama mencatatkan 89 poin dengan enam kemenangan liga berturut-turut dalam enam pertandingan terakhir.

Mancini percaya dengan bantuan media tekanan atas pemainnya bisa berkurang dan membantu City untuk menjuarai enam pertandingan liga terakhir yang membantu memenangkan gelar dengan selisih gol.

Mancini menyatakan kemudian bahwa ia selalu percaya secara pribadi anak-anak asuhannya bisa memenangkan gelar, tapi ingin para pemainnya membuktikan bahwa mereka bisa, meskipun pernyataan publik menunjukkan sebaliknya.