Pep, Barcelona-mu Jadi Sampah di Premier League!

Setelah menjalani awal yang baik di liga primer Inggris, skuad Manchester City asuhan Pep Guardiola yang bermain layaknya Barcelona mulai tertatih-tatih dan sudah tanpa kemenangan di lima laga terakhir. Masuknya Pep Guardiola di kursi manajer City begitu digembor-gemborkan. Xavi bahkan mengatakan bahwa kedatangan Pep akan merevolusi sepak bola Inggris yang selama ini dikenal dengan gaya […]

Pep Guardiola Jose Mourinho

Liga Inggris  - Pep, Barcelona-mu Jadi Sampah di Premier League!

Setelah menjalani awal yang baik di liga primer Inggris, skuad Manchester City asuhan Pep Guardiola yang bermain layaknya Barcelona mulai tertatih-tatih dan sudah tanpa kemenangan di lima laga terakhir.

Masuknya Pep Guardiola di kursi manajer City begitu digembor-gemborkan. Xavi bahkan mengatakan bahwa kedatangan Pep akan merevolusi sepak bola Inggris yang selama ini dikenal dengan gaya kick and rush.

Setali tiga uang, Pep datang ke Ettihad Stadium mengusung ambisi yang sama, bertekad memainkan filosofi permainannya di tim Manchester City. Sebagai langkah awal ia mendepak kiper favorit fans Joe Hart lantaran tak bisa bermain sesuai dengan filosofinya.

Claudio Bravo didatangkan dari Barcelona, bersamaan juga dengan John Stones ditebus mahal dari Everton lantaran mendukung filosofi permainan Pep, bek yang nyaman dengan bola. Bahkan ia dikabarkan masih memburu bek Leo Bonucci yang sempurna dalam filosofi bermainnya.

Dan setelah 3 bulan di Liga Inggris, Pep Gaurdiola harus merasakan pahitnya strateginya saat tidak berjalan maksimal di lima laga terakhir. Pep sudah tanpa kemenangan dengan dua kali kalah dan tiga kali imbang di berbagai ajang.

Terbaru mereka ditahan imbang tim tamu Southampton di Ettihad Stadium dengan skor 1-1, setelah sempat tertinggal lebih dulu lewat gol N, Redmond.

Lalu, mengapa Barcelona ala Manchester City di Liga Inggris yang diusung Pep gagal? Berikut analisinya.

Kualitas Skuad

Banyak perdebatan apakah Pep memang benar-benar menciptakan Barceloa tanpa saing, atau Pep Guardiola yang beruntung karena skuad Barcelona memiliki kualitas unggul sejak awal?

Filosofi permainan Barca yang dibawa Pep sesungguhnya warisan dari Frank Rijkaard, dan kualitas pemain Barcelona mendukung untuk menerapkan permainan ala tiki-taka yang terkenal. Yang dibutuhkan tim untuk memainkan tiki taka adalah tidak hanya sebelas pemain yang nyaman dengan bola, namun juga ada pemain-pemain pembeda berteknik tinggi untuk mengatur bola dan menguasai lini tengah. Barcelona memiliki Xavi dan Iniesta, dan dilengkapi dengan sosok pembeda dalam diri Messi. Akurasi umpan mereka pun di atas 90 %.

Sementara di City, Ilkay Gundogan, Fernandinho, Fernando, ataupun De Bruyne bukan tipe pemain seperti itu. Gundogan bagus dalam distribusi bola (80/84), namun kurang kreatif dan tidak skillfull. Fernandinho kualitas umpannya tak istimewa (71/81). Akurasi umpan pemain City yang di atas 90% hanya Gundogan, lainnya David Silva (83%) dan Sane (82 %).

Kultur Sepak Bola

Gaya sepak bola Spanyol, yang memeragakan sepak bola indah, dengan sepak bola Inggris, yang memiliki gaya sepak bola kick and rush sangatlah berbeda. Kekuatan otot dan energy besar dalam permainan dapat membuat pemain berskill tanpa power tak akan mampu berbicara banyak di Liga Inggris.

Dan karena bukan tipe pemain skillfull, ball possession City bisa mudah dirusak dengan permainan ngotot ala Inggris yang siap memberikan pressure tinggi dan memainkan sepak bola keras.

Kualitas Peserta Liga Merasa

Jika ada liga yang paling banyak menghadirkan kejutan dan paling banyak tim yang bersaing memperebutkan gelar di liga adalah Inggris. Jika Italia dan Jerman terlalu didominasi oleh Juventus dan Bayern, sementara La Liga berputar-putar pada Barcelona, Madrid, dan Atletico, liga Inggris semua tim bahkan bisa juara. Leicester City di musim lalu buktinya.

Di sini kualitas para peserta liga nyaris tak berbeda jauh, mungkin karena disebabkan gaya sepak bola mereka. Dan strategi Pep tak akan selamanya mulus dengan kualitas para peserta Liga Primer tak memiliki level rendah macam liga lainnya.

Disharmonitas Skuad

Lebih buruknya lagi Pep sejak kedatangannya sudah menimbulkan sedikit intrik di skuad City, mulai dari dengan Hart, Toure, dan terbaru Aguero. Di saat Bravo tak sukses menggantikan Hart, Yaya Toure pun masih belum ada pengganti sepada. Gelandang Pantai Gading itu merupakan kekuatan lini tengah City untuk menguasai permainan. Menerapkan ball possession akan membutuhkan jasa Toure, namun sayang ia sedang dibekukan oleh Pep Guardiola.

Rekrutan Anyar Belum Sesuai Harapan

Pemain-pemain yang didatangkan Pep sebenanrnya adalah untuk membantu dia mentransfer ide-idenya dalam permainan City. Lucunya, para rekrutan tak sepenuhnya moncer, bahkan flop. Bravo menjadi bahan bully-an berkat beberapa kecerobohannya dan bahkan mendapatkan kartu merah lawan Barca, Stones tak sepenuhnya tangguh seperti saat dipermainkan Messi dan kawan-kawan, sementara Sane secara karakter sudah bukan tipe pemain ball possession.

So, meski sudah membantah bahwa ia tak ingin mem-Barcelona-kan City dan mulai merendah dirinya datang bukan untuk mengubah sepak bola Inggris, namun jelas dalam ide-idenya bahwa Pep cenderung masih ingin ‘memaksakan’ filosofinya tanpa ada variasi dalam permainan.

Dengan lima laga tanpa kemenangan beruntun, sudah saatnya Pep Guardiola mulai memikirkan tentang filosofinya dan mulai beradaptasi dengan kenyataan kualitas skuad dan kultur liga. Jika tidak, ekspektasi tinggi yang dibebankan kepadanya akan melayang dengan ringan seperti kapas diterbangkan angin.

Sepakbola.cc