Position vs possession, tips Mourinho ungguli tim menyerang

“Kekalahan paling cantik dalam hidup saya,” kata Jose Mourinho, usai laga semifinal Champions Barcelona vs Inter Milan yang berakhir 1-0 di Camp Nou, di suatu hari di tahun 2010. Waktu itu ia masih pelatih Inter. Timnya baru saja kalah tapi ia mendapat selamat dari banyak orang karena untuk pertama kalinya sukses mematahkan reputasi Barcelona, menghadang […]

Liga Europa Liga Inggris Liga Italia  - Position vs possession, tips Mourinho ungguli tim menyerang

“Kekalahan paling cantik dalam hidup saya,” kata Jose Mourinho, usai laga semifinal Champions Barcelona vs Inter Milan yang berakhir 1-0 di Camp Nou, di suatu hari di tahun 2010.

Waktu itu ia masih pelatih Inter. Timnya baru saja kalah tapi ia mendapat selamat dari banyak orang karena untuk pertama kalinya sukses mematahkan reputasi Barcelona, menghadang mereka sehingga gagal melaju ke final. Di leg pertama di San Siro, Inter menang 3-1. Di musim itu Inter akhirnya juara Champions dengan mengalahkan Bayern Munich 2-0.

Orang kagum karena juara bertahan Barca selaku favorit gagal melaju ke final gara-gara Mourinho menemukan taktik baru. Daripada ikut-ikutan bersaing memperebutkan ball possession melalui tiki-taka, permainan bola antara dua-tiga pemain khas Barcelona, Mourinho memilih untuk position.

Jadi tak penting tak memegang bola (possession), asalkan bola tidak menerobos masuk (position).

Meski banyak pula yang mengecam strategi itu sebagai sebuah permainan bola pengecut, menunggu lawan lengah baru menyerang dengan serangan balik kilat, tapi pada kenyataannya cara yang sama kemudian dipakai di final Champions 2011/12 antara Chelsea vs Bayern Munich. Seluruh kendali permainan ada di tangan Bayern, tapi trofi dibawa lari Chelsea, thanks untuk pelatih Roberto di Matteo yang menafsir ulang strategi Mourinho.

Kini cara yang sama dipakai di Euro 2012. Spanyol jelas-jelas memainkan gaya permainan terbuka, menyerang, dan ball posession tinggi. Tapi taktik ala Mourinho sudah menemukan beberapa varian, misalnya pada laga Inggris vs Prancis, Italia vs Spanyol, Denmark vs Belanda, Jerman vs Portugal dan Irlandia vs Kroasia.

Perbandingan ball possessionnya bisa di kisaran 60-40 persen, bahkan 65 vs 35 persen. Tapi bukan berarti pemilik 40% bola tak bisa menjebol gawang lawan.

Entah apa istilah untuk taktik ala Mourino ini. Ada yang menamakannya sebagai “sepakbola reaktif.” Maksudnya tidak sama dengan apa yang diistilahkan sebagai sepakbola negatif, bertahan terus menerus sepanjang waktu. Itu cuma masalah sederhana saja, kalau lawan menguasai bola, kita tak perlu ikut-ikutan berlomba menguasai bola, tapi kuasai saja posisi atau wilayah.

“Mereka menguasai bola lebih sering dan lebih banyak, tapi bukan karena saya memerintah para pemain saya untuk memberi mereka bola, ‘Berikan saja bolanya, kita tidak kepengen.’ Bukan! Barca yang mengambil bola darimu dan tidak mau memberikan bolanya kembali,” kata Mourinho usai laga tersebut.

“Jika kamu bisa melawan tim dengan kualitas sebagus ini selama satu jam dengan hanya berkekuatan 10 orang saja, itu adalah sesuatu yang sungguh luar biasa.”

Tiki-taka Spanyol mungkin masih bisa menang dan sekalinya unggul bisa mempermalukan Irlandia seperti hari itu. Bedanya adalah kini tim lawan yang tak bisa bersaing dengan ball posession ala Spanyol punya strategi untuk merusak harmoni semacam itu. Belajarlah dari Jose Mourinho dan Roberto di Matteo.