Rahasia strategi dan taktik tendangan penalti yang sukses

51

Rahasia strategi dan taktik tendangan penalti yang sukses! Penalti yang diambil saat skor kedua tim sama kuat memiliki tingkat kesuksesan 92%. Sebaliknya, penalti yang diambil saat sebuah tim ketinggalan skor dan harus gol untuk bisa menyamakan kedudukan, hanya memiliki akurasi 60%. Kenapa bisa begitu? Karena tekanan besar menciptakan kecemasan, dan kecemasan pada gilirannya mempengaruhi penampilan […]

Rahasia strategi dan taktik tendangan penalti yang sukses!

Liga Europa Liga Inggris Liga Italia  - Rahasia strategi dan taktik tendangan penalti yang sukses

Penalti yang diambil saat skor kedua tim sama kuat memiliki tingkat kesuksesan 92%. Sebaliknya, penalti yang diambil saat sebuah tim ketinggalan skor dan harus gol untuk bisa menyamakan kedudukan, hanya memiliki akurasi 60%.

Kenapa bisa begitu? Karena tekanan besar menciptakan kecemasan, dan kecemasan pada gilirannya mempengaruhi penampilan karena orang di bawah tekanan akan kehilangan kontrol dan tidak fokus.

Di Euro 2012 ini kini hanya 8 tim yang akan masuk ke babak selanjutnya dengan sistem gugur. Semifinal dan final juga dengan sistem knockout. Ini memerlukan strategi laga yang berbeda. Kebanyakan tim akan bermain ekstra hati-hati, memilih bertahan ketat, tidak bermain secara terbuka. Karena gol di sistem 2×45 menit akan sangat fatal akibatnya jika tidak bisa membalas di waktu sisanya. Akibatnya, banyak laga di sistem gugur ini berakhir draw.

Sekedar data saja, dari 7 Piala Dunia terakhir, 10 dari 14 tim yang berlaga di final harus melakukan tendangan penalti untuk menentukan pemenangannya.

Karena itu setiap tim di sistem gugur ini harus melatih pemainnya melakukan adu penalti. Bukan saja latihan teknis mengenai penalti itu sendiri, serta pengetahuan probablilitas ke mana kiper lebih suka menjatuhkan tubuhnya, tapi juga aspek psikologi mengenai penalti itu sendiri.

Para ahli psikologi mengetahui bahwa penalti yang akan menentukan kemenangan atau keunggulan sebuah tim biasanya berakhir sukses. Tapi penalti yang dibayang-bayangi keharusan gol agar bisa menyamakan kedudukan, biasanya akan gagal.

Salah satu contoh paling populer adalah Roberto Baggio di adu penalti final Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Baggio adalah ekskutor keempat bagi tim Azzuri. Ia harus bisa gol agar posisi kembali sama kuat 3-3. Jika gagal maka Italia kalah. Apa hasilnya? Disaksikan 2 milyar pasang mata melalui televisi di seluruh dunia, Baggio menendang bola tinggi melewati tiang atas gawang Brasil, dan tim Samba menjadi juara dunia.

Roberto Baggio beberapa bulan sebelumnya baru saja dinobatkan menjadi pemain bola terbaik dunia. Bagaimana dia bisa gagal? Karena beban psikologis. Jika saja skor waktu itu sudah 3-3, dan tendangan Baggio bisa menentukan kemenangan Italia, maka 92% probabilitas ia akan berhasil gol. Tapi karena posisi waktu itu Azzuri ketinggalan 2-3 dan tendangan Baggio harus gol, maka seperti ditemukan para ahli, probabilitas masuknya turun drastis jadi hanya 60%.

Para peneliti yang dipimpin Geir Jordet, professor di Norwegian School of Sport Sciences di Oslo, Norwegia, juga menemukan bahwa beban psikologis yang sama muncul saat adu penalti yang biasanya diikuti 5 pemain.

Saat skor masih 0-0 jiwa lebih tenang daripada eksekutor ketiga atau keempat atau kelima. Tingkat kesuksesan eksekutor pertama adalah 86,6% untuk esekutor pertama, 81,7% untuk penendang kedua, 79,3% untuk yang ketiga. Demikian turun terus sampai penendang kelima.

Jadi seorang manager tim yang baik hanya akan menempatkan seorang yang mentalnya sangat kuat sebagai eksekutor kelima, dan menaruh eksekutor junior sebagai pelaku tendangan kedua dan ketiga. Pelaku tendangan pertama tetaplah seorang yang senior karena hasilnya akan mempengaruhi moral tim.

Inggris selama 20 tahun terakhir sudah lima kali tersingkir dari turnamen besar hanya gara-gara adu penalti. Bukan tugas mudah buat Roy Hodgson untuk menemukan formula menang via adu penalti.

Dalam tujuh Piala Dunia terakhir, 10 dari 14 tim yang juara di final harus melalui adu penalti.

Jadi apa tips dari ilmuwan agar tendangan penalti berhasil? Fokus pada ruang kosong di sisi kiper, jangan di bagian luar gawang. Instruksi yang kerap diberikan pelatih atau asisten pelatih adalah, “Jangan tembak bolanya ke kiper, nanti ditangkap!” Akibatnya mata pemain malah menjauh dari kiper, tapi biasanya menjadi terlalu jauh dan bola gagal menjebol gawang.

Riset memperlihatkan, pemain yang diingatkan untuk menjauhkan bolanya dari kiper, biasanya mengambil lebih sedikit waktu saat mengambil ancang-ancang dan lebih sedikit mengukir gol, demikian kata sebuah tulisan di Human Movement Science, hasil riset sekelompok peneliti di Amsterdam, Belanda.

“Di dalam otakmu, kamu tidak mau menendang ke arah kiper, dan itu yang akhirnya Anda lakukan,” tegas Olaf Binsh, salah satu penulis artikel tersebut. “Jika saya pelatihnya, saya akan menggunakan instruksi positif dan menghindari kata ‘kiper’ atau ‘jangan’ atau ‘tidak boleh’. Kata-kata seperti itu berasosiasi negatif di otak.”

Penelitian juga memperlihatkan bahwa kiper dengan seragam merah lebih sulit untuk dibobol dibandingkan kiper berbaju warna lain.

Jordet meneliti lebih dari 400 video tendangan penalti di Euro, Piala Dunia dan Copa América sejak tahun 1978. Mereka menemukan bahwa penalti yang diikuti dengan perayaan gila-gilaan seperti loncat-loncat dan teriakan keras akan mempengaruhi penendang lawan berikutnya menjadi gagal, dan tendangan berikutnya dari sesama pemain tim yang sama untuk berhasil.

Jadi ahli mengingatkan, rayakan setiap tendangan penalti. Jangan murung atau berjalan pelan-pelan saja seolah ada beban berat di pundak. Kemungkinannya malah bisa gagal sekalian.

Inilah video tendangan penalti Roberto Baggio di Piala Dunia 1994: