Siapa Lebih Bagus? Ancelotti atau Mourinho?

6

Carlo Ancelotti digadang-gadang sebagai manager terbaik di dunia. Alasannya, ia berhasil meraihnya bersama dua tim berbeda, Real Madrid dan AC Milan. Lemari trofinya juga penuh dengan gelar juara liga dari Italia, Inggris, dan Prancis. Manager Real Madrid berusia 53 tahun itu sudah memenangkan tiga Champions bersama dua klub berbeda (lainnya adalah AC Milan tahun 2003 […]

Siapa Lebih Bagus? Ancelotti atau Mourinho? - berita Liga Inggris Liga Spanyol

Carlo Ancelotti digadang-gadang sebagai manager terbaik di dunia. Alasannya, ia berhasil meraihnya bersama dua tim berbeda, Real Madrid dan AC Milan. Lemari trofinya juga penuh dengan gelar juara liga dari Italia, Inggris, dan Prancis.

Manager Real Madrid berusia 53 tahun itu sudah memenangkan tiga Champions bersama dua klub berbeda (lainnya adalah AC Milan tahun 2003 dan 2007), serta dua kali sebagai pemain AC Milan tahun 1989 dan 1990 ketika piala itu masih bernama European Cup.

Mereka yang menentang ide itu mengatakan, Ancelotti hanya bisa melakukannya bersama klub-klub besar. Sementara Mourinho melakukannya dengan klub yang tidak pernah terdengar sebelumnya: Porto. Kita juga harus menyebut nama manager Diego Simeone bersama Atletico Madrid.

Selain itu, saat melatih di AC Milan periode 2001-2009, Ancelotti memenangkan Piala Eropa dua kali tetapi hanya meraih satu gelar juara liga, yang dengan sendirinya tidak sangat mengesankan untuk sebuah karir panjang di klub. Memang, pada periode itu seluruh liga Italia diguncang suap dan pengaturan skor, tapi hasil ini masih tidak cukup baik untuk suatu jangka panjang dari permainan.

Pada sisi lain, Ancelotti juga tidak bisa dibilang buruk. Selama periode 2001-2009 saat melatih Milan, ia membawa klub itu tiga kali ke final Champions. Dua juara, satu kali gagal.

Begitu pun ketika masuk ke Chelsea tahun 2009, ia memenangkan juara liga dan dua trofi lain di tahun pertamanya. Tidak buruk mengingat keguncangan yang masih terjadi di klub itu sejak ditinggalkan Jose Mourinho tahun 2007.

Peran berikutnya, Ancelotti pindah ke Paris-Saint Germain, yang melakukan belanja besar serta sangat ambisius seturut masuknya investor Timur Tengah. Ancelotti gagal memenangkan liga di musim pertamanya, yang merupakan noda kecil mengingat sumber daya yang luar biasa besar bila dibandingkan dengan pemenang liga kala itu, Montpellier HSC. Di musim keduanya ia sukses menyampaikan gelar Ligue 1 dengan tim yang sangat mengesankan, hanya kalah gol tandang di perempat final Liga Champions vs Barcelona.

Di Real Madrid ia juga kehilangan gelar liga liga di tahun pertama, namun ia melakukan pekerjaan yang sangat mengesankan, memenangkan Copa Del Rey melawan musuh bebuyutan Barcelona, serta La Decima yang dinantikan Madrid sejak 2003.

Apa yang menyebabkan Ancelotti tidak kelihatan anggun dan elit adalah, ia tidak memiliki strategi bersifat eksklusif. Ia jauh lebih pragmatis. Tidak ngotot menggunakan taktik tertentu sebagaimana manager-manager seperti Mourinho, Pep Guardiola dan Diego Simeone. Ia mengakses setiap situasi dan merespons secara tepat.

Kita tidak akan pernah melihat Ancelotti mengambil alih managemen pelatihan dan kemudian merombak taktik secara besar-besaran sesuai ide-idenya. Sebaliknya ia membangun pada apa yang ada, yang ditinggalkan manager sebelumnya, dan mengubahnya sedikit di sana sini. Kini Ancelotti hanya harus berusaha meraih gelar La Liga tahun depan, dan ia sudah bisa mencatatkan rekor empat juara liga berbeda, sama seperti Mourinho.

Dan Chelsea mungkin akan meratapi kesalahannya memecat Ancelotti.