Van Persie produk broken home, nakal dan tak bisa duduk diam di sekolah

Robin van Persie baru saja merampungkan transfernya ke klub terpopuler di dunia, Manchester United. Namun tidak banyak yang tahu bahwa sebagai anak-anak ia termasuk nakal, tak bisa diatur, digolongkan anak bodoh di kelas, tak bisa duduk diam, dan hanya memikirkan tiga hal: sepakbola, sepakbola, sepakbola. Ia dikenang sebagai anak yang sering dikeluarkan dari kelas karena […]

Liga Inggris  - Van Persie produk broken home, nakal dan tak bisa duduk diam di sekolah

Robin van Persie baru saja merampungkan transfernya ke klub terpopuler di dunia, Manchester United. Namun tidak banyak yang tahu bahwa sebagai anak-anak ia termasuk nakal, tak bisa diatur, digolongkan anak bodoh di kelas, tak bisa duduk diam, dan hanya memikirkan tiga hal: sepakbola, sepakbola, sepakbola. Ia dikenang sebagai anak yang sering dikeluarkan dari kelas karena tidak memberi perhatian pada gurunya.

Lihat saja mukanya di foto di atas. Van Persie duduk paling depan, nomor tiga dari kiri.

Salah satu gurunya, Omar Verhoeven yang mengajarkan sejarah kepada Van Persie, menceritakan bagaimana semua upaya untuk menarik minatnya di bidang akademis gagal.

“Dia bukan murid yang baik,” katanya, tegas. “Bila Anda memiliki murid, Anda mencoba untuk mempersiapkan mereka masuk ke kompetisi pekerjaan yang ketat. Anda selalu mengatakan, ‘Jadilah murid yang baik, belajar dengan baik, dan mungkin Anda akan memiliki pekerjaan yang baik’.”

“Tapi ketika semua orang mengatakan pada usia 12 tahun bahwa Anda akan menjadi Johan Cruyff di masa depan, hal itu akan sangat sulit. Mengapa saya harus memiliki ijazah? Dia tahu bahwa sebagai pemain sepakbola, ia akan mendapatkan banyak dan banyak uang.”

Usianya masih lima tahun ketika kedua orangtuanya bercerai dan ia ikut dengan ayahnya, Bob van Persie, seorang pematung. Ibunya, José Ras, seorang pelukis dan perancang perhiasan memilih pindah ke kota lain.

Di usia lima tahun bakatnya sudah kelihatan. Aad Putters, seorang pelatih bola di klub SBV Excelsior yang ada di daerah itu mengingat pertemuan pertamanya dengan Van Persie.

“Biasanya anak-anak bergabung di usia 6 tahun, tapi Robin datang pada usia 5,5 tahun dan bertanya kalau sudah boleh bergabung jadi anggota. Jadi saya tes dia. Dan dari jarak 13 meter jauhnya ia bisa mengendalikan bola mati di bawah kaki kanannya, sesuatu yang menakjubkan untuk usianya.”

“Dia bisa menendang dengan kaki kanan sama baiknya dengan kaki kirinya. Itu sesuatu yang luar biasa untuk anak seusianya.”

“Di salah satu kesempatan latihan dibatalkan karena cuaca buruk, tapi Robin menelepon dan bilang akan datang. Jadi saya berlatih dengannya selama satu jam di bawah hujan deras.” Dedikasinya pada sepakbola luar biasa.