Juventus Kalah Justru Kabar Buruk Bagi Rival

20

Juventus kalah dari Genoa dengan skor 3-1, namun kekalahan mereka ini justru menjadi alarm bahaya bagi para rival mereka.

Liga Italia  - Juventus Kalah Justru Kabar Buruk Bagi Rival

Liga Italia  - Juventus Kalah Justru Kabar Buruk Bagi Rival

 

Juventus kalah dari Genoa dengan skor 3-1, namun kekalahan mereka ini justru menjadi alarm bahaya bagi para rival mereka.

Sebelumnya mereka telah menyerah dari dua klub yang berbasis di kota Milan, Inter Milan dan AC Milan, dan membuat mereka mengoleksi 33 poin dari 14 laga, dengan 11 kemenangan dan 3 kali kalah.

Hasil itu membuat mereka masih tetap bertenger di puncak klasemen, kendati jarak mereka dengan tim-tim di bawah mereka makin dekat dengan AS Roma dan AC Milan masing-masing memetik kemenangan di pekan ke-14 untuk terus membuntuti Juve.

Namun kekalahan ini justru bisa menjadi kabar buruk bagi para rival mereka, baik di Serie A maupun di Eropa. Loh bagaimana bisa?

Kekalahan ketiga ini, dan sempat kesulitannya mereka di Liga Champions, justru memberikan informasi bagi Juventus tentang kelemahan mereka di saat yang tepat, yaitu masih di awal musim, yang membuat mereka masih memiliki waktu untuk berbenah di bursa transfer musim dingin mendatang.

Sebenarnya telah diprediksi sejak awal musim bahwa dengan kepergian Pogba dan tak mampunya mereka mendatangkan gelandang anyar, lini tengah akan menjadi masalah bagi Juventus.

Meski memiliki lini belakang dan depan yang top, namun  sejujurnya Juventus kekurangan kualitas di lini tengah, terlebih jika mereka ingin berjaya di Eropa sebagaimana ambisi besar mereka di musim ini.

Di musim-musim sebelumnya, kekuatan Juve sebenarnya tidak terletak di belakang, melainkan di tengah yang berisi Andrea Pirlo, Claudio Marchisio, Arturo Vidal, dan Paul Pogba. Bahkan mereka disebut-sebut pemilik lini tengah terbaik di dunia saat itu.

Namun kini perlahan Juve hanya menyisakan Marchisio, yang juga telah rentan cedera, sementara Hernanes dan Miralem Pjanic yang didatangkan masih belum sesuai harapan.

Efek kurangnya kualitas di lini tengah pun terlihat di laga melawan Genoa, dengan akurasi passing mereka hanya 83 persen, padahal di era Pirlo dan kawan-kawan, bukan hal yang mengagetkan jika akurasi umpan mereka biasa di angka 90-an.

Selain itu tak banyak lagi sepakan-sepakan jarak jauh dari lini tengah yang sering diperagakan para gelandang era Paul Pogba, dan minim juga daya juang mereka di tengah seperti yang biasa diperagakan oleh Arturo Vidal. Juve bermain tanpa kekuatan yang membuat mereka mudah kalah saat lawan bermain fisik.

Lihatlah saat melawan Genoa, mereka hanya memiliki 8 pelanggaran berbanding 26 milik Genoa, padahal Juve seharusnya bisa bermain keras dan melakukan pelanggaran jika diperlukan. Namun seperti kata Allegri, juara Italia itu kurang memiliki daya juang untuk bertarung.

Beruntung bahwa kekurangan utama Juve ini sudah terdeteksi di paruh musim pertama, yang membuat mereka kini akan siap dan serius memburu gelandang berkualiats di bursa transfer.

Ada dua posisi yang harus didatangkan, terlebih dengan akan absennya pemain asal Afrika mereka seperti Kwadwo Asamoah ke Piala Afrika 2017, dengan pertama adalah gelandang petarung, pengganti kinerja Vidal yang sampai saat ini belum mereka miliki.

Beberapa nama sudah dikaitkan dengan mereka mulai dari Matuidi, Nemanja Matic, Hertor Herrera , hingga Steven N’Zonzi yang semua memiliki karakteristik yang setara dengan Vidal. Axel Witsel dan Marcelo Brozovic pemain bagus, namun mereka bukan kebutuhan utama untuk dipenuhi.

Dan kedua adalah gelandang kreatif atau playmaker, yang masih belum ditemukan oleh Juve sejak era Conte. Hernanes dan Pjanic yang didatangkan justru lebih diperankan sebagai gelandang sentral. Nampaknya minat mereka untuk memboyong Oscar, Isco, atau James Rodriguez harus dihidupkan kembali di musim dingin mendatang.

Jika Juventus telah benar-benar sadar dengan kelemahan mereka dan benar-benar menutupi kelemahan mereka di bursa transfer mendatang, kini justru mereka akan mendatangkan alarm berbahaya bagi rival-rival mereka.

Lini belakang dengan Buffon, Bonucci, Chiellini, Benatia, hingga Barzagli adalah garansi kekokohan tembok pertahanan, sementara lini depan Higuain, Dybala, Mandzukic akan menggaransi gol di lini depan. Kini tinggal gelandang sentral dan gelandang kreatif yang perlu mereka datangkan untuk menjadi tim lengkap yang siap untuk tak hanya menjadi raja Italia, namun juga raja Eropa!