Stefan Effenberg: Ada Cara Akhiri Dominasi Bayern Munchen

Stefan Effenberg, eks pelatih Bayern Munchen.
Stefan Effenberg, eks pelatih Bayern Munchen.

Stefan Effenberg punya ide mengakhiri dominasi Bayern Munchen di Liga Jerman sehingga klub-klub lain juga memiliki kans besar menjadi juara.

Saat ini Die Roten unggul 18 poin dari Bayer Leverkusen dan RB Leipzig yang duduk di peringkat kedua dan ketiga klasemen Bundesliga, dengan sisa 13 pertandingan lagi.

Dalam lima musim terakhir Bayern selalu menjadi juara Liga Jerman dengan selisih minimal 10 poin dan maksimal 19 poin sehingga Bundesliga dipandang kurang kompetitif.

Padahal sebelumnya berbagai tim bergantian menjadi juara, seperti yang dilakukan VfL Wolfsburg, VfB Stuttgart dan Werder Bremen, walau tidak bisa lepas dari dominasi Borussia Dortmund dan Bayern sendiri.

Menanggapi hal ini mantan pemain Bayern Munchen Stefan Effenberg mengakui kedigdayaan bekas klubnya namun menyodorkan satu ide agar menciptakan kesempatan bagi tim-tim lain untuk menjadi jawara.

Advertisement

Ia mengusulkan Bundesliga dibagi menjadi dua grup berbeda yang berisikan sembilan klub masing-masing dan bermain seperti biasanya sampai libur musim dingin pertengahan Desember.

Setelahnya, di akhir Januari, empat tim teratas dari tiap grup ditambah posisi kelima, bertarung kembali dengan nol poin sehingga menghasilkan satu juara.

Ia pun meramalkan sistem kompetisi ini akan membuat klub-klub meraih pemasukan lebih dari hak siar sehingga terjaganya persaingan antar tim.

“Hasil kompetisi tidak akan bisa ditentukan sejak Februari atau Maret, bahkan ramalan [siapa yang menjadi juara] akan sulit dilakukan karena semua klub memulai lagi [kompetisi baru] pada Januari dengan nol poin,” tulis Effenberg pada kolomnya di T-Online.

“Kompetisi [baru ini] menjanjikan kegairahan ganda, yang pertama adalah lolos kualifikasi dari Grup Pertama, dan kemudian berjuang untuk menjadi juara atau terdegradasi [untuk tim-tim papan bawah di Grup Pertama].”

“Ini akan menjadi kegiatan yang tidak hanya menarik perhatian di Jerman semata. Rating [pertandingan di televisi] akan melonjak drastis.”