33% Pemain Akan Cerai Usai Pensiun, 40% Bangkrut, 80% Sakit Sendi

  • Para pemain yang memasuki masa pensiun dari dunia profesional, bisa di usia 29 tahun, 33 tahun, atau 37 dan 40 tahun, akan sangat berbeda dibandingkan masa jaya mereka. Kondisinya jauh dari gemerlap, tidak bergaya hidup glamor, tidak ada tabungan puluhan milyar di bank, tidak ada rumah-ranch-istana, tidak ada mobil mewah rapi di garasi. Menurut Xpro, sebuah badan amal […]

Sempat tertinggal terlebih dulu, AS Roma sukses mengakhiri laga di ajang Liga Serie A dengan kemenangan 3-1 atas lawannya Chievo Verona.

Internasional Liga Inggris  - 33% Pemain Akan Cerai Usai Pensiun, 40% Bangkrut, 80% Sakit Sendi
Para pemain yang memasuki masa pensiun dari dunia profesional, bisa di usia 29 tahun, 33 tahun, atau 37 dan 40 tahun, akan sangat berbeda dibandingkan masa jaya mereka. Kondisinya jauh dari gemerlap, tidak bergaya hidup glamor, tidak ada tabungan puluhan milyar di bank, tidak ada rumah-ranch-istana, tidak ada mobil mewah rapi di garasi.

Menurut Xpro, sebuah badan amal untuk kesejahteraan mantan pemain pro di Inggris, tidak ada semua kemewahan itu. Realitas kehidupan masa pensiun untuk sebagian besar pemain jauh lebih menantang.

Organisasi itu mengatakan, sebanyak 33 persen pemain akan bercerai dalam waktu satu tahun setelah pensiun, 40 persen dinyatakan pailit dalam waktu lima tahun usai memainkan laga terakhir mereka, dan 80 persen akan menderita osteoarthritis (penyakit pengapuran sendi yang menyebabkan kesakitan bergerak dan berjalan).

Direktur pelaksana Xpro adalah Dean Holdsworth, mantan penyerang Bolton dan Wimbledon.

Ia mengatakan, mereka membantu para mantan pemain pro dengan segala macam masalah, antara lain rehabilitasi untuk kecanduan ini-itu, membantu meringankan gangguan kesehatan yang terkait dengan stres, menghilangkan kekhawatiran utang, pekerjaan dan pelatihan ulang.

“Setiap pesepakbola dianggap sama [kayanya] dengan 10 atau 20 persen dari pemain Premier League,” tukas Holdsworth.

“Banyak orang tidak percaya ketika Anda menjalankan badan amal untuk sepakbola profesional. Umumnya orang akan bilang  mereka tidak butuh itu. Dalam beberapa kasus itu memang benar.”

“Kami mengelola mayoritas [mantan pemain] bukan minoritas. Cukup banyak pemain di Liga Premier tidak akan memerlukan bantuan keuangan atau kesejahteraan.”

Sementara itu biro akuntansi Deloitte memperkirakan bahwa sementara rata-rata gaji di Premier League adalah Rp 449 juta per minggu, jumlah ini turun menjadi hanya Rp 97 juta per pekan di Championship, liga kasta kedua di Inggris.

Dan Holdsworth mengatakan, banyak sekali pemain yang tidak merencanakan masa depan mereka dari karir yang sangat singkat. Umumnya telepon pertama yang Xpro terima dari sebagian besar pemain adalah sebuah panggilan telepon panik ketika kontrak mereka menjelang berakhir.

‘Untuk pemain top masalah [pensiun] adalah hilangnya status, tetapi untuk pemain yang dilepas oleh Accrington [salah satu klub Divisi Dua Inggris, kasta terbawah] kekhawatirannya mungkin bagaimana membayar cicilan rumah.”

Baca soal mantan pemain pro di Brasil yang buka toko herbal usai pensiun, dirampok, dan dipenggal kepalanya.