Aksi telanjang fans Inggris masih lumayan. Ada yang lebih gila lagi!

131

Di laga perempatfinal Italia vs Inggris, saat adu penalti, seorang suporter pria Inggris tertangkap kamera memerosotkan celananya dan memperlihatkan kemaluannya waktu pemain Italia Alessandro Diamanti melakukan tendangan penentu. Namun aksi fans itu, yang dilakukannya dengan maksud mengganggu konsentrasi Diamanti sebelum menendang bola sebenarnya termasuk lumayan. Masih banyak aksi fans yang lebih gila lagi dari itu. […]

Internasional Liga Europa Liga Inggris  - Aksi telanjang fans Inggris masih lumayan. Ada yang lebih gila lagi!

Di laga perempatfinal Italia vs Inggris, saat adu penalti, seorang suporter pria Inggris tertangkap kamera memerosotkan celananya dan memperlihatkan kemaluannya waktu pemain Italia Alessandro Diamanti melakukan tendangan penentu.

Namun aksi fans itu, yang dilakukannya dengan maksud mengganggu konsentrasi Diamanti sebelum menendang bola sebenarnya termasuk lumayan. Masih banyak aksi fans yang lebih gila lagi dari itu. Dan jangan pernah anggap remeh fans karena mereka bisa melakukan apa saja, termasuk yang mustahil menurut aparat keamanan.

Salah satu yang paling terkenal adalah ketika satu rombongan fans menyerang gerombolan fans lawannya di dalam stadion! Disiarkan TV secara live pula!

Itulah insiden Haysel. Bukan yang paling berdarah, tapi yang paling dikenang orang karena disiarkan langsung melalui media televisi. Bukan salah TV-nya karena mereka ada di situ untuk siaran langsung laga bola.

Tidak kurang dari 39 orang tewas dan lebih 600 lainnya terluka akibat bentrokan ini.

“Heysel” adalah nama stadion tempat dilangsungkannya laga ini. Lokasinya di Brussel, Belgia. Peristiwanya sendiri adalah final European Cup (sekarang Champions) tahun 1985. Tanggalnya 29 Mei 1985. Waktu itu yang akan bertanding adalah Liverpool vs Juventus.

Stadion sudah penuh dengan fans kedua kesebelasan. Saat itu jam 7 malam waktu setempat. Sekitar satu jam lagi laga final akan dimulai. Fans Liverpool dan Juventus di sektor Y dan sektor Z stadion terpisah beberapa meter jauhnya oleh area kosong yang sengaja diciptakan polisi demi keamanan.Namun kedua kelompok fans mulai saling melempar satu sama lain dengan menggunakan potongan bata yang diambil dari dinding stadion di belakang mereka.

Sekitar 15 menit menjelang laga dimulai The Reds mulai mendorong pagar sampai roboh dan kemudian menyerang ke arah kumpulan Juventini. Fans klub asal Italia itu berlari mundur namun terjebak di depan sebuah tembok bata. Tembok itu pada akhirnya roboh dan menewaskan 33 fans Juventus, melukai 600 orang lainnya.

Mayat para korban diangkut ke luar stadion dan dijejerkan di lapangan serta ditutupi bendera fans. Namun kedatangan heli ke lokasi menyebabkan bendera-bendera tadi terbang dan kondisi mayat-mayat yang mengerikan terekspose secara jelas oleh televisi. Banyak dari mereka adalah remaja.

Akibat bentrokan yang dipicu fans Inggris tersebut, UEFA menjatuhkan hukuman larangan ikut serta dalam kompetisi Eropa kepada klub-klub bola asal Inggris selama 5 tahun berikutnya. Khusus Liverpool, hukuman berlaku selama 6 tahun.

Insiden lainnya yang melibatkan fans gila menimpa Andrés Escobar Saldarriaga (13 March 1967 – 2 July 1994) yang ditemukan mati di parkiran sebuah klub malam di kota Medellin, Kolombia.

Internasional Liga Europa Liga Inggris  - Aksi telanjang fans Inggris masih lumayan. Ada yang lebih gila lagi!

Laporan saksi mata mengatakan, sekitar pukul 3.30 dinihari ia kelihatan bertengkar dengan 3 lelaki dan seorang wanita yang berada di sekitar mobilnya di parkiran itu. Mereka terdengar menghina Escobar perihal caranya main bola. Escobar berteriak balik dan salah satu penyerangnya membalas dengan, “Thanks for the own-goal, hijueputa!” Atau, “Terima kasih untuk gol bunuh dirinya, dasar anak lonte!”

Sesaat kemudian terdengar 12 tembakan berturut-turut ke kepala dan tubuh Escobar. Gilanya, setiap kali tembakan diletuskan, si penembak meneriakkan suara khas penyiar bola Amerika Latin, “Goooool!”

Para penembak kemudian melarikan diri dengan sebuah pickup Toyota. Escobar dilarikan ke sebuah rumah sakit, namun dinyatakan meninggal 45 menit kemudian.

Polisi mempercayai penembakan itu berkaitan dengan gol bunuh diri Escobar yang terjadi saat laga Kolombia vs Amerika Serikat di laga Piala Dunia 1994 di Pasadena, California. AS menang 2-1 pada laga itu dan Kolombia yang lebih difavoritkan gagal maju ke babak kedua.

Dua hari kemudian polisi menangkap Humberto Castro Muñoz, yang bekerja sebagai sopir dan bodyguard untuk seorang pemimpin kartel narkoba Kolombia. Namun kaitannya dengan bos-bos besarnya sendiri tak bisa terbukti. Muñoz dijatuhi hukuman penjara 43 tahun, namun belakangan dibebaskan setelah 11 tahun di balik jeruji.

Sekitar 120.000 orang hadir saat upacara pemakamannya. Setiap bulan Juli fans timnas Kolombia membawa foto Andrés Escobar untuk memperingati kematiannya.