Anak Pemerah Susu Sapi Ini Main Bola di Liga Terbaik Dunia

Hanya dalam waktu sembilan bulan pemain sepakbola ini pindah dari negara asalnya, ke sebuah klub sepakbola Meksiko, lalu ke ajang Piala Dunia di Brasil, dan akhirnya ke sebuah klub di London Timur. Bagaimana mungkin? Bisa saja. Karena di negaranya jika sampai kalah main bola, ia akan dimusuhi dan dikejar massa pendukung klub di jalanan kota. Jadi […]

Internasional Liga Inggris  - Anak Pemerah Susu Sapi Ini Main Bola di Liga Terbaik Dunia
Hanya dalam waktu sembilan bulan pemain sepakbola ini pindah dari negara asalnya, ke sebuah klub sepakbola Meksiko, lalu ke ajang Piala Dunia di Brasil, dan akhirnya ke sebuah klub di London Timur. Bagaimana mungkin? Bisa saja.

Karena di negaranya jika sampai kalah main bola, ia akan dimusuhi dan dikejar massa pendukung klub di jalanan kota. Jadi mentalitas harus menang sudah tertanam sejak awal.

Saking pendeknya waktu sembilan bulan itu, pemain asal Ekuador ini sampai belum bisa berbahasa Inggris secara fasih. Ia kini menjalani kelas bahasa Inggris privat setiap hari.

Dengan setelan jas biru tua sempurna, potongan rambut rapi dan tajam, serta anekdot-anekdot nakal, orang akan mudah lupa asal usul striker West Ham, Enner Valencia.

Penampilan luar biasanya di Piala Dunia telah menempatkannya di salah satu klub London terbaik dengan nilai transfer sebesar Rp 235 Milyar.

“Saya berasal dari latar belakang yang sangat miskin. Untuk membeli sepatu bola pertama, saya harus pergi bekerja bersama ayah saya di sebuah pertanian dan memeras susu beberapa ekor sapi,” kenang pemain depan Ekuador itu. 

Tumbuh sebagai anak pemerah susu sapi, Valencia akan menjadi ujung tombak serangan The Hammers saat mereka bermain melawan Manchester United di Old Trafford pada hari Sabtu nanti. Seluruh dunia, termasuk para pemerah sapi tetangganya, akan menonton ia bermain bola di liga terbaik dunia.

Internasional Liga Inggris  - Anak Pemerah Susu Sapi Ini Main Bola di Liga Terbaik Dunia

“Saya sangat senang, sangat sangat bersyukur bisa berada di sini dan saya mencoba untuk menikmati setiap menitnya,” kata Valencia, yang mencetak gol pertamanya di Inggris dengan serangan frontal melawan Hull City.

“Saya terbiasa untuk menonton Liga Premier di televisi dan sekarang saya mewujudkan mimpi itu.”

Enner Valencia dibesarkan di sebuah peternakan sederhana di sisi pantai Pasifik Ekuador, memulai karirnya di klub Emelec di kota pelabuhan Guayaquil dan membantu mereka memenangkan gelar liga domestik tahun lalu.

Dia lalu pindah ke klub Meksiko Pachuca, di mana ia mencetak 18 gol dalam 23 pertandingan, mencetak tiga gol untuk Ekuador di Piala Dunia dan kemudian direkrut untuk West Ham United.

Manajer West Ham Sam Allardyce sedang menggunakan strategi penyerangan di laga-laga awal musim ini, yang antara lain menuai hasilnya dalam kemenangan 3-1 Sabtu lalu atas Liverpool, setelah menjalani musim yang sulit 2013-14.

Musim lalu beberapa fans tidak senang dengan gaya bermain WHU, bahkan mencemooh para pemain setelah satu kemenangan, atas Hull.

Namun, Valencia berhasil membuat perubahan.

“Di sini, kami kehilangan pertandingan pembukaan [melawan Tottenham] tetapi orang-orang tetap tinggal dan menunjukkan dukungan mereka,” dia tersenyum selagi jawabannya diberikan melalui seorang penerjemah.

“Di Amerika Selatan, jika Anda kalah, Anda bahkan tidak bisa pergi keluar di jalan.”

“Itu terjadi di Ekuador ketika saya bermain untuk klub saya sebelumnya, Emelec. Itu derby dan saingan utama kami berada di puncak klasemen.”

“Kami harus mengalahkan mereka agar sejajar dengan mereka pada jumlah poin yang sama dan kita tidak bisa menang dan itu sangat sulit bagi setiap orang untuk keluar dari stadion.”

“Ini persis apa yang saya harapkan dan apa yang saya sukai tentang Liga Premier bahwa siapa pun bisa mengalahkan siapa pun. Itulah yang menjadikan liga ini menarik.”

Dari Ekuador ke East London melalui Meksiko dan Brasil dalam sembilan bulan, namun Valencia masih sadar dirinya hanya anak tukang pemerah susu sapi. Respect!

Sepakbola.cc