Apakah Ini Akhir Era Tiki Taka?

  Kesuksesan taktik tiki taka yang terkenal dengan penguasaan bola, pertahanan yang rigid dan counter-attack super kilat telah mengevolusi strategi dalam dunia sepakbola dalam dasawarsa terakhir. Namun kini taktik tiki taka kembali dipertanyakan sejumlah pengamat menuyusul keterpurukan Barcelona dan Bayern Munchen di ajang Liga Champions tahun ini. Sebenarnya pendapat mereka tak sepenuhnya salah. Kini dunia sepakbola […]

Internasional  - Apakah Ini Akhir Era Tiki Taka?

 

Kesuksesan taktik tiki taka yang terkenal dengan penguasaan bola, pertahanan yang rigid dan counter-attack super kilat telah mengevolusi strategi dalam dunia sepakbola dalam dasawarsa terakhir. Namun kini taktik tiki taka kembali dipertanyakan sejumlah pengamat menuyusul keterpurukan Barcelona dan Bayern Munchen di ajang Liga Champions tahun ini.

Sebenarnya pendapat mereka tak sepenuhnya salah. Kini dunia sepakbola hidup dalam dunia yang ekstrim. Saat Barcelona pertama kali menerapkan tiki taka dibawah asuhan Pep Guardiola, mereka mencapai sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Untuk pertama kali, mungkin hampir dua dekade saat era Arrigo Sacchi melatih Milan, muncul sebuah filosofi baru dalam dunia sepakbola. Tiki Taka bukan hanya sebuah perubahan bentuk dalam bermain, tapi sebuah ‘gayabaru’ dalam bermain bola. Pemain centre-forward bisa saja secara tiba tiba mundur kebelakang ataupun maju kedepan lebih jauh membantu tekanan terhadap pertahanan lawan.

Butuh prinsip dasar gaya Total Football ekstrem yang tak terbayangkan sebelumnya – ini bisa terjadi karena sebagian pemain telah dididik dalam gaya yang sangat istimewa di La Masia,  peranan Guardiola yang visioner, dan juga strategi untuk memanfaatkan luas lapangan secara maksimal.

Saat Total Football diperkenalkan oleh Timnas Belanda pada era 70an, tujuan awalnya adalah pergerakan total dari para pemain Belanda. JB Bakema , seorang arsitek Belanda yang memperkenalkan teori Total Urbanisation, Total Environment and Total Energy,  mengatakan bahwa semua bangunan harus memiliki karakteristik individu tetapi harus dirancang dengan menyesuaikan posisi mereka di lingkungan secara keseluruh . Penerapan istilah Total Football masuk akal dalam teori Bakema, yang istilah ‘Total’ nya digunakan dalam Total Football – menurutnya, bermain sepakbola adalah bahwa pemain menyadari posisi mereka dalam sistem dan terus-menerus melakukan negosiasi (posisi) ulang untuk diri mereka sendiri. Ini adalah Total Football, semua pemain bisa melakukan segala sesuatu, defender harus bisa menyerang dan penyerang bisa menjadi defender.

Meski tiki taka mirip dengan Total Football dengan sistem pertahanan yang kokoh, pergantian posisi pemain dan penguasaan bola untuk menekan lawan, namun karakternya jauh berbeda dengan Total Football. Semuanya berubah karena cara memberikan passing. Pemain centre-forward menjadi false-nine karena ia harus membantu menciptakan sudut serangan baru untuk menjaga bola tetap bergerak; pemain full-back bahkan bisa maju ke depan lebih jauh; pemain midfielders dapat bermain sebagai pemain bertahan dan dapat membantu serangan dengan kemampuan passing jauh mereka dari belakang; bahkan sang kiperpun dalam tiki taka harus dapat memainkan bola dari area belakang.

Untuk beberapa waktu, dunia sepakbola dibuat bingung dengan strategi tiki taka ini dan tak tahu bagaimana harus bereaksi. Saat Chelsea begitu dekat untuk dapat menyingkirkan Barcelona di Liga Champions 2009, mereka hanya mampu menahan Barca dengan skor imbang di kedua leg dan harus tersingkir karena kalah agregat. Manchester United bahkan sama sekali tak berkutik melawan Barcelona di Final Liga Champions 2009.

Dan akhirnya di semi-final Liga Champions 2010, José Mourinho bersama Internazionale mulai memberikan perlawanan terhadap stategi tiki taka Barca. Mourinho mengandalkan taktik bertahan dan  serangan balik super cepat. Internazionale dibawah Mourinho  bahkan menyingkirkan Barcelona di semifinal dan mampu membungkam Bayern Munich dengan skor 0-2.

Dalam buku biografi kontorversial milik Diego Torres, ia menjelaskan secara gamblang strategi Mourinho saat bersama Real Madrid untuk menghadapi tim tim papan atas, terutama strategi saat bermain tandang:

“1) The game is won by the team who commits fewer errors. (Pertandingan akan dimenangkan oleh tim yang paling sedikit melakukan kesalahan)

2) Football favours whoever provokes more errors in the opposition. (Sepakbola ‘senang’ dengan tim yang memprovokasi kesalahan lawan)

3) Away from home, instead of trying to be superior to the opposition, it’s better to encourage their mistakes. (Bertanding tandang, daripada tampil superior didepan tuan rumah, lebih baik mendorong lawan berbuat kesalahan)

4) Whoever has the ball is more likely to make a mistake. (Siapapun yang menguasai bola akan lebih sering melakukan kesalahan)

5) Whoever renounces possession reduces the possibility of making a mistake. (Siapapun yang tidak menyerang akan lebih sedikit melakukan kesalahan)

6) Whoever has the ball has fear. (Siapapun yang memegang bola memiliki rasa takut)

7) Whoever does not have it is thereby stronger.” (Oleh karenanya, siapapun yang tidak memegang bola, lebih kuat)

Itulah teori yang digunakan Mourinho di leg pertama melawan Atletico dan minggu lalu melawan Liverpool . Tim lain yang juga menerapkannya adalah Real Madrid yang cukup senang untuk bertahan dan menyerap tekanan Bayern, baik di kandang dan tandang, Real Madrid memanfaatkan ketidakmampuan Bayern untuk melawan counter attack cepat Real Madrid.

Seiring dengan berjalannya waktu, beberapa tim kini mulai dapat meredam strategi tika taka, beberapa menerapkan strategi yang digunakan oleh Mourinho, bahlan deperbaiki dengan jauh lebih bagus. Kini tampaknya Barcelona kewalahan dengan taktiknya tersebut. Bayern Munich masih bertahan di liga lokal Bundesliga, namun tak berkutik melawan serangan balik Real Madrid. Apakah ini pertanda bahwa Tiki Taka telah berakhir masa kejayaannya?