Berita Bola - Baru Lima Gol, Ratusan Pergi, Caci Maki Presidennya -

Kekalahan Brasil 1-7 di semifinal vs Jerman bukan hanya pukulan bagi timnas, tapi juga bagi pemerintah Brasil, yang berusaha memberi hiburan untuk rakyat agar tidak terfokus pada duit setara Rp 130 trilyun yang sudah dihabiskan pemerintah untuk membangun semua infrastruktur Piala Dunia 2014.

Saat skor beranjak 0-5 sebelum babak pertama berakhir, sudah ada ratusan penonton berkaos kuning Brasil yang beranjak pergi dari kursi-kursi dengan tiket mahal di Estádio Mineirão di Belo Horizonte ini. Mereka mencaci maki pemerintah dan meneriakkan kata-kata makian yang melecehkan Presiden Dilma Rousseff.

Mimpi Piala Dunia tuan rumah runtuh sudah setelah tim Jerman mengamuk dan menjebol gawang Julio Cesar sebanyak tujuh kali. Bahkan dalam rentang waktu enam menit saja di kisaran menit 20-an Der Panzer yang bermain tenang menceploskan 4 gol.

Mereka juga menunjukkan disiplin dan kekejaman khas Jerman. Tidak mundur sedikit pun bahkan setelah unggul 0-5 di babak pertama. Dua gol lagi masuk di babak kedua, menandai skor terburuk yang pernah diderita tim Brasil dalam 100 tahun terakhir.

Hanya dalam waktu 64 tahun sejak hari berkabung nasional setelah kekalahan mereka pada tahun final 1950, Brasil kembali tercabik-cabik dalam sebuah kekalahan traumatis.

Jerman dengan demikian melaju ke final laga hari Senin WIB di Maracana.

Thomas Mueller memulai pembantaian dengan golpembuka di menit 11, memanfaatkan penjagaan yang longgar di sisi terjauh gawang Cesar, 1-0.

Brasil yang menderita karena kehilangan kapten dan bek handal Thiago Silva, mencoba untuk kembali solid tapi tidak ada jeda samas ekali dari pihak Jerman.  Gol berikutnya berturut-turut terjadi oleh Miroslav Klose pada menit ke-23 – yang membuatnya menjadi top scorer Piala Dunia sepanjang masa dengan 16 gol -, lalu Toni Kroos mencetak dua gol di menit 24 dan 26 untuk membuatnya 4-0 dan kemudian Sami Khedira membulatkannya menjadi 5-0 pada menit 29.

Mati dan digilas habis hanya dalam waktu setengah jam, kerumunan di Estádio Mineirão tertegun diam. Banyak gilabola menangis karena mereka berjuang untuk memahami betapa besarnya kekecauan yang telah terjadi. Setelah gol kelima, jauh sebelum paruh waktu, ratusan orang pergi meninggalkan kursi-kursi mereka yang mahal.

Satu bagian dari kerumunan meneriakkan kata-kata kotor sumpah serapah bernada seksual terhadap Presiden Dilma Rousseff, yang hingga kini masih bisa menikmati hari-hari tenang setelah menghabiskan uang sebesar Rp 130 trilyun untuk membangun semua fasilitas Piala Dunia.

Gilabola Brasil yang lain berteriak berdiri meninggalkan arena-arena nonton bareng di berbagai lokasi.

Meskipun Brazil melakukan rally demi rally pada awal babak kedua, penyiksaan ala Jerman dilanjutkan pada 69 menit ketika Andre Schuerrle menyapu dengan gol keenam Jerman. Schuerrle kemudian meraih gol keduanya pada 79 menit untuk membuatnya 0-7, dan memastikan kekalahan terburuk dalam sejarah Brasil.

Rekor kekalahan buruk sebelumnya adalah 0-6 vs Uruguay pada tahun 1920.

Gol kedua Schuerlle pada menit 79 itu disambut oleh ledakan tepuk tangan sebagai penghormatan gilabola Brasil terhadap pameran sepakbola menyerang yang indah dari kubu Jerman.

Gol hiburan di menit terakhir dari Oscar saja nyaris tidak disambut tepuk tangan oleh penonton Stadion Mineirao.

Brasil mengawali laga ini dengan gelombang emosi nasional, bertekad untuk meraih tempat di final guna menghormati striker Neymar yang cedera ruas tulang belakang. Penonton bersorak, “Neymar, Neymar” sebelum kick-off, saat melihat kapten David Luiz dengan bangga memegang jersey No.9 dari striker Neymar.

Kini Jerman akan menghadapi entah Belnda atau Argentina di babak final Senin dinihari pekan depan WIB.