Baru Real Madrid, Klub Yang Berani Larang Pemainnya Bela Timnas

  • Marco Reus Senin malam ini WIB dinyatakan cedera oleh klubnya, Borussia Dortmund, menyusul satu penampilan bersama tim nasional Jerman vs Skotlandia, dalam rangka kualifikasi Euro 2016. Beberapa hari lalu Diego Costa, pemain andalan Chelsea, dan salah satu pencetak gol andalan klub, dinyatakan cedera dalam salah satu partai yang dilakoni Spanyol. Hal-hal semacam inilah yang menimbulkan […]

Internasional Liga Jerman Liga Spanyol Piala Dunia Piala Eropa  - Baru Real Madrid, Klub Yang Berani Larang Pemainnya Bela Timnas
Marco Reus Senin malam ini WIB dinyatakan cedera oleh klubnya, Borussia Dortmund, menyusul satu penampilan bersama tim nasional Jerman vs Skotlandia, dalam rangka kualifikasi Euro 2016.

Beberapa hari lalu Diego Costa, pemain andalan Chelsea, dan salah satu pencetak gol andalan klub, dinyatakan cedera dalam salah satu partai yang dilakoni Spanyol.

Hal-hal semacam inilah yang menimbulkan ganjalan. Pemain dipinjamkan, cedera, marahlah klub terhadap tim nasional.

Pemain sepakbola top dunia selalu menemukan diri mereka terjepit di antara kepentingan sang klub majikan dan undangan untuk mewakili negara di tingkat internasional. Kompetisi untuk keduanya bisa sama-sama sengit. Sayangnya, kondisi bisa berubah menjadi tak tertahankan dengan munculnya klub yang terlalu agresif.

Klub selalu membenci masa jeda untuk laga-laga internasional dengan alasan sederhana. Bagaimana mungkin seorang pelatih yang tidak mereka bayar justru bertanggung jawab atas kesehatan dan perkembangan para pemain yang sudah susah payah mereka gaji?

Biasanya konflik ini muncul ke permukaan ketika seorang pemain (atau pemain yang rawan cedera) dipanggil oleh tim nasional untuk sebuah laga persahabatan tak penting-penting amat, dan pemain klub itu mengalami cedera. Sementara ada unsur kebanggaan bagi si  pemain Anda untuk bermain bagi laga internasional, klub membenci kondisi ketika pemain mereka kehilangan banyak waktu karena bekerja di luar struktur mereka.

Bisa dibayangkan kemarahan Juergen Klopp dan Jose Mourinho ketika menemukan penyerang andalan mereka kembali ke klub dalam kondisi kesakitan karena cedera.

Konflik ini telah memasuki tingkatan baru dengan munculnya berita di akhir pekan lalu bahwa Real Madrid ternyata mengeluarkan sebuah surat kepada PSSI-nya Argentina, melarang Angel di Maria untuk bermain di final Piala Dunia Juli lalu.

Ketika Angel di Maria cedera di partai perempat final melawan Belgia, presiden Madrid Florentino Perez yang flamboyan itu lalu berkirim surat kepada presiden asosiasi seapakbola Argentina, melarang pemain mereka bermain di final Piala Dunia.

Itu bukan meminta, tapi melarang.

Bayangkanlah sebuah tradisi atau preseden baru di mana klub melarang pemainnya membela tim nasional. Baru Real Madrid yang berani keluar dari tradisi dan mengeluarkan larangan semacam itu.

Untunglah (atau sayangnya), FA dan Angel di Maria memutuskan untuk merobek surat tersebut.  Sebuah klub melarang pemainnya tampil di sebuah pertandingan yang mungkin paling penting dalam karir mereka, belum pernah terjadi dalam sejarah sepakbola sebelumnya. Juga, mungkin tidak kebetulan, di Maria lalu meninggalkan Madrid di bursa transfer musim panas ini.

Real Madrid bukan sembarang klub, Florentino Perez juga bukan sembarang presiden. Klub melarang asosiasi sepakbola nasional menurunkan pemain mereka yang cedera memunculkan perdebatan baru. Tidak diragukan lagi bahwa banyak klub ingin melindungi investasi mereka terhadap para pemain dengan meminta negara-negara untuk tidak memainkan pemain mereka, tapi apakah ini ide yang baik?

Sementara klub membayar pemain dan membantu mereka mencari nafkah, kebanggaan nasionalistik telah diakui sebagai nilai kebajikan tertinggi sang pemain.

Sepertinya sudah saatnya dikeluarkan aturan baru soal peminjaman pemain semacam ini. Siapa yang akan bertanggung jawab dan membayar kompensasi jika ada pemain klub yang cedera saat membela tim nasional. Kalau tidak maka insiden Perez akan terulang kembali.