Beginilah Alasan Laga Manchester United vs Liverpool di Final Bakalan Sengit

6

Final Guinness Cup di Amerika Senin nanti waktu lokal akan berlangsung antara Manchester United melawan Liverpool. Meski pun ini bukan Premier League, namun pertemuan keduanya membangkitkan kenangan akan rivalitas kedua kota, yang jauh lebih dalam daripada sepakbola. Persaingan keduanya betul-betul sangat berlatar belakang ekonomi. Manchester dahulu kala dikenal karena kawasan industrinya. Liverpool karena memiliki pelabuhan. […]

Beginilah Alasan Laga Manchester United vs Liverpool di Final Bakalan Sengit - berita Internasional Liga Inggris

Final Guinness Cup di Amerika Senin nanti waktu lokal akan berlangsung antara Manchester United melawan Liverpool. Meski pun ini bukan Premier League, namun pertemuan keduanya membangkitkan kenangan akan rivalitas kedua kota, yang jauh lebih dalam daripada sepakbola.

Persaingan keduanya betul-betul sangat berlatar belakang ekonomi. Manchester dahulu kala dikenal karena kawasan industrinya. Liverpool karena memiliki pelabuhan. Penduduk Liverpool saat itu betul-betul menikmati kejayaan ekonomi karena semua ekspor di kawasan barat laut Inggris harus melalui kota pelabuhan ini.

Tapi pada tahun 1887-1894 dibangunlah sebuah kanal sepanjang 58 km yang memberi Manchester akses langsung ke laut. Mereka kini bisa mengekspor sendiri tanpa perlu keluar duit tambahan melalui Liverpool.

Sejak saat itu runtuhlah kejayaan Liverpool. Ribuan orang menganggur. Muncullah kebencian penduduk Liverpool terhadap kota Manchester. Kebencian ini diwariskan dari ayah pada anak-anaknya, anak pada cucu-cucunya, cucu pada buyut-buyutnya, dan seterusnya sampai saat ini.

Pada periode 1970-1980 kedua kota sama-sama menderita karena kelesuan ekonomi yang melanda seluruh dunia, termasuk Inggris. Tapi penduduk Liverpool masih bisa terhibur oleh penampilan The Reds yang mencapai puncaknya pada periode ini. Mereka juara liga sebanyak lima kali di masa ini. Sebanyak lima kali juga merebut trofi di level Eropa. Luar biasa!

Sementara di saat yang sama Manchester United (dan juga Manchester City) tengah mengalami periode lesu darah paling kelam dalam sejarah mereka. Ini menghasilkan semacam balas dendam dari Liverpool dalam bentuk ejekan-ejekan yang mendidihkan darah warga Manchester.

Mungkin juga kebangkitan Manchester diawali dari masa itu. Sebab setelah itu, giliran grafik prestasi The Reds yang terus menurun.

Sampai hari ini, rivalitas keduanya secara statistik membuktikan MU lebih unggul 75 vs 64, dengan 51 laga lainnya draw. Total gol Liverpool 245 vs MU 260.

Tidak heran jika pertarungan keduanya selalu merupakan salah satu laga yang paling ditunggu, bukan saja di tanah Inggris tapi juga oleh para gilabola di seluruh dunia. Laga derby Inggris terakhir, 16 Maret 2014, berujung dengan skor 0-3 untuk sang tamu, Liverpool.

Dalam empat pertemuan sebelum skor 0-3 itu, mereka saling mengalahkan dengan skor tipis.

Saking kerasnya persaingan antar keduanya, tak pernah ada transfer pemain antar kedua klub sejak tahun 1964. Kalau pun ada pemain salah satu klub yang akhirnya bermain di klub musuh bebuyutannya itu, mereka akan melalui klub lainnya terlebih dulu, misalnya adalah Michael Owen yang terlebih dulu main di Real Madrid dan Newcastle United. Selain itu juga ada nama legendaris Paul Ince yang terlebih dulu main di Inter Milan.

Entah apakah Louis Van Gaal yang orang Belanda itu bisa memahami rivalitas khas Inggris ini.