Beginilah Rahasia Menang Adu Penalti

Menurut para ahli, rahasia menang adu penalti terletak pada keputusan para eksekutor penendang bola, bukan penjaga gawang, seperti yang dikesankan oleh figur Tim Krul, kiper Belanda saat adu penalti Piala Dunia vs Kosta Rika. Katakanlah kita lagi melempar koin 1000 perak. Jika sudah dapat gambar angklung tiga kali berturut-turut, kamu pilih apa berikutnya? Angklung lagi? […]

Internasional Piala Dunia  - Beginilah Rahasia Menang Adu Penalti

Menurut para ahli, rahasia menang adu penalti terletak pada keputusan para eksekutor penendang bola, bukan penjaga gawang, seperti yang dikesankan oleh figur Tim Krul, kiper Belanda saat adu penalti Piala Dunia vs Kosta Rika.

Katakanlah kita lagi melempar koin 1000 perak. Jika sudah dapat gambar angklung tiga kali berturut-turut, kamu pilih apa berikutnya? Angklung lagi? Atau angka 1000? Cenderung pilih 1000, kan.

Ketika kita menyaksikan gambar angklung muncul berurutan, kita sering keliru percaya bahwa dalam waktu dekat angklung tidak akan muncul lagi.

Jika kita melihat hal yang sama terjadi beberapa kali, kita merasa seolah-olah situasi kebalikannya akan muncul dan menetralkan situasi. Dan karena itu lebih mungkin untuk mengharapkan hasil yang berlawanan.

Sebenarnya setiap kali uang logam dilempar peluang yang sama akan terjadi (50:50, baik untuk angklung atau 1000), terlepas dari apa yang telah terjadi sebelumnya. Keyakinan bahwa hasil berlawanan akan muncul karena urutan kejadian sebelumnya adalah apa yang disebut sebagai “fallacy of the maturity of chances” atau di kalangan orang awam dikenal sebagai “gambler’s fallacy” (kesalahan penjudi).

Ternyata cacat umum dalam cara berpikir ini juga mempengaruhi kiper, dan para eksekutor penendang bola gagal memanfaatkan ini. Beginilah rahasia menang adu penalti yang perlu dipelajari para eksekutor penalti.

Para peneliti dari University College London mempelajari 37 adu penalti yang terjadi di Piala Dunia dan Euro selama 36 tahun terakhir (1976 sampai 2012). Mereka menemukan bahwa ke mana bola ditendang, dan ke mana kiper akan membanting tubuhnya selama adu penalti, keduanya sepenuhnya bisa diberlakukan sebagai tindakan random atau acak. Artinya, tidak ada polanya. Percuma mempelajari polanya.

Mereka juga menemukan ke arah mana kiper akan terjun untuk menyelamatkan bola tidak ditentukan dari arah kaki atau tendangan si eksekutor. Artinya, kiper di tingkat elit ini sudah membuat keputusan mereka SEBELUM tendangan diambil.

NAMUN, sesudah tiga kali bola ditendang ke sisi yang sama, naaaahhh, di saat itulah kiper akan terjebak dalam “gambler’s fallacy” atau kesalahan penjudi tadi.

“Setelah tiga kali, itu mulai lebih signifikan sekedar peluang (50:50),” kata Erman Misirlisoy, penulis utama studi tersebut.

Jika tiga kali bola tertuju ke arah yang sama, maka sekitar 69 persen kiper akan membanting tubuhnya ke arah yang berlawanan dari arah bola terakhir, dan 31 persen tetap dalam arah yang sama seperti terakhir.

Anehnya, atau lucunya, para penendang eksekutor ternyata tidak mengambil keuntungan dari kecenderungan si kiper setelah sesama pemain mereka menujukan tiga bola ke sudut gawang yang sama.

“Karena kiper menampilkan kekeliruan para penjudi, penendang keempat bisa memprediksi secara lebih akurat ke arah mana kiper akan membanting tubuhnya di tendangan berikutnya. Itu jelas akan memberikan keuntungan bagi eksekutor. Kiper hanya akan mencari sisi berlawanan dari gawang,” kata Misirlisoy, dalam penjelasannya di majalah Current Biology yang terbit baru-baru ini.

Penulis senior Profesor Patrick Haggard menjelaskan, “Kemenangan di olahraga modern dan elit sering terjadi dengan memanfaatkan kelemahan kecil dalam strategi lawan. Kita hanya bisa berspekulasi, mengapa ada kiper bisa lolos dengan non-random, tanpa eksekutor lawan berhasil mengeksploitasinya. Salah satu kemungkinannya adalah, adu penalti relatif jarang terjadi.”

“Tapi ada kemungkinan yang secara psikologis lebih menarik. Adu penalti itu sifatnya asimetris. Satu kiper menghadapi beberapa penendang yang berbeda, satu demi satu. Eksekutor berada di bawah tekanan luar biasa besar, fokus hanya pada tendangan mereka sendiri. Setiap penendang individu mungkin tidak cukup memberi perhatian pada tendangan sebelumnya untuk bisa memprediksi apa yang akan kiper lakukan selanjutnya.”

Erman Misirlisoy menambahkan, “Orang-orang bisa belajar untuk memprediksi. Mungkin para pelatih sepakbola bisa mempelajari pola ‘gambler’s fallacy’ ini, dan bisa melatih eksekutor penalti mereka dalam persiapan Piala Dunia berikutnya. Pada saat yang sama, kiper juga bisa belajar agar kurang bisa diprediksi.”

Pada Piala Dunia 2014 ada empat pertandingan sistem gugur yang harus diselesaikan dengan adu penalti.

Sepakbola.cc