Cegah tragedi Ukraina, teknologi garis gawang akan diberlakukan

Cegah tragedi Ukraina terulang, teknologi garis gawang akan diberlakukan. Pada laga terakhir Grup D antara Inggris vs Ukraina, Rabu dinihari WIB sebuah tendangan Marko Devic di menit 62 berhasil dibuang keluar gawang oleh John Terry. Tapi tayangan ulang televisi memperlihatkan bola itu sudah terlebih dulu melewati garis gawang. Asisten wasit kelima yang berdiri di belakang […]

Cegah tragedi Ukraina terulang, teknologi garis gawang akan diberlakukan.

Internasional Liga Europa Liga Inggris  - Cegah tragedi Ukraina, teknologi garis gawang akan diberlakukan

Pada laga terakhir Grup D antara Inggris vs Ukraina, Rabu dinihari WIB sebuah tendangan Marko Devic di menit 62 berhasil dibuang keluar gawang oleh John Terry. Tapi tayangan ulang televisi memperlihatkan bola itu sudah terlebih dulu melewati garis gawang.

Asisten wasit kelima yang berdiri di belakang gawang tidak memberi tanda adanya gol. Wasit yang memimpin pertandingan memerintahkan laga untuk berjalan terus. Skor tetap 1-0 untuk The Three Lions. Betapa malangnya Ukraina, meski hasil draw belum tentu bisa menyelamatkan mereka tapi moral para pemain tuan rumah terlanjur jatuh.

Bos FIFA Sepp Blater pun ngamuk. Ia bilang melalui account Twitternya segera setelah insiden itu, “#GLT [teknologi garis gawang] bukan lagi sebuah alternatif, melainkan sebuah kebutuhan.”

Pelatih Ukraina Oleg Blokhin menyemprot wartawan, “Ada lima pengadil di lapangan dan bola sudah berhasil melewati garis (dan tidak disahkan). Jadi apa gunanya lima wasit kalau begitu?”

Namun di sisi lain, dari tayangan ulang juga terlihat bahwa penyuplai bola ke Devic, Artem Milevskiy, telah berdiri dalam posisi offside saat ia menerima bola yang kemudian diumpankan ke Devic. Jadi kalau pun gol itu disahkan wasit, akan ada persoalan lain lagi muncul. Inggris akan berbalik merasa dikerjai wasit.

Persoalan teknologi garis gawang ini sebenarnya sudah dibahas FIFA sejak Juli 2010 ketika satu tendangan Frank Lampard di laga Piala Dunia 2010 vs Jerman sudah melewati garis gawang tapi tidak disahkan wasit. Rio Ferdinand menyebut ini sebagai karmanya Inggris.

Waktu itu Blatter sudah minta teknologi diterapkan agar jangan ada lagi insiden “gol hantu”.

Awal tahun ini Blatter sempat minta maaf ke PSSI-nya Inggris untuk insiden gol hantu Lampard tersebut dan ketidakbecusan wasit atasnya. Ia mengatakan, “Kalau sampai ada insiden semacam itu lagi terjadi dan saya melihatnya, saya bisa mati berdiri.”

Blatter saat ini masih cuma ngamuk doang, tidak sampai mati.