Chelsea vs Munich: Tragedi penalti

Didier Drogba menjadi pahlawan Chelsea saat tendangan penalti di final Champions 2012 vs Bayern Munich. Mengambil eksekusi kelima bagi tim biru, ia mampu menaklukkan kiper tim Bayern, yang saat itu bermain di stadion sendiri. Namun ironisnya, beberapa bulan sebelumnya pada laga Piala Afrika, timnas yang dibela Drogba, Pantai Gading, kalah di final setelah dikalahkan Zambia […]

Didier Drogba menjadi pahlawan Chelsea saat tendangan penalti di final Champions 2012 vs Bayern Munich. Mengambil eksekusi kelima bagi tim biru, ia mampu menaklukkan kiper tim Bayern, yang saat itu bermain di stadion sendiri.

Namun ironisnya, beberapa bulan sebelumnya pada laga Piala Afrika, timnas yang dibela Drogba, Pantai Gading, kalah di final setelah dikalahkan Zambia melalui adu penalti. Saat itu Drogba mengatakan, ia kalah secara tidak adil melalui penalti.

Adu nasib melalui penalti sudah mencapai puncaknya. Presiden FIFA Sepp Blatter mengatakan: Cukup sudah! Musim depan final Champion tidak akan diakhiri dengan tendangan penalti. Ia lalu menugaskan Franz Beckenbauer untuk memikirkan sebuah cara lain jika sebuah partai puncak berakhir seri.

“Sepakbola adalah tragedi jika sampai adu penalti,” kata Blatter. “Sepakbola telah kehilangan esensinya jika harus penalti. Mungkin Beckenbauer bersama tim Gugus Tugas Sepakbola (FTA) bisa memberikan solusi tentang masalah ini di masa depan.”

Adu penalti kali ini merupakan yang kesepuluh kalinya dalam sejarah final Liga Champions. Sebelum diperkenalkan tahun 1970, laga seri diakhiri lewat sebuah pertandingan ulang atau diundi pakai koin. Tahun 1968 misalnya, Italia mengalahkan Uni Sovyet di semifinal Piala Eropa lewat koin.