Daftar Alasan Mengapa Pemain Sepakbola Suka Diving

40

Salah satu adegan diving paling terkenal. Final Piala Dunia 1990 antara Jerman Barat vs Argentina. Skor sama kuat, 0-0. Sudah menit ke-85. Hanya beberapa saat lagi laga reguler akan berakhir. Tiba-tiba, Jerman menguasai bola, umpan diteruskan ke Rudi Völler, yang berlari ke kotak penalti di depan gawang Argentina. Kakinya menyentuh bola daaaaaan… dia terjatuh. Lebih tepatnya, […]

Daftar Alasan Mengapa Pemain Sepakbola Suka Diving - berita Internasional Piala Dunia
Salah satu adegan diving paling terkenal. Final Piala Dunia 1990 antara Jerman Barat vs Argentina. Skor sama kuat, 0-0. Sudah menit ke-85. Hanya beberapa saat lagi laga reguler akan berakhir. Tiba-tiba, Jerman menguasai bola, umpan diteruskan ke Rudi Völler, yang berlari ke kotak penalti di depan gawang Argentina. Kakinya menyentuh bola daaaaaan… dia terjatuh. Lebih tepatnya, diving. Ia jatuh terlalu mudah.

Itu adalah salah satu pelanggaran diving paling terkenal dalam sejarah sepak bola dan paling buruk untuk korps wasit. Jerman Barat diberikan penalti, dan masuk! Dan mereka memenangkan hadiah terbesar sepakbola.

Diving, atau “simulasi” menurut istilah orang-orang di Fédération Internationale de Football (FIFA), mengapa para pemain sepakbola gemar melakukannya?

Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal mengenai perilaku PLoS ONE, karena hadiahnya lebih besar daripada usahanya.

Penelitian ini dilakukan oleh mahasiswa PhD Gwendolyn David dan rekan-rekannya di University of Queensland Australia (termasuk penulis artikel ini Robbie Wilson), yang percaya bahwa kapan dan di mana diving akan dilakukan terjadi dapat diprediksi dengan menggunakan teori sinyal dalam dunia hewan.

Ini bisa membantu mengidentifikasi cara untuk mengontrol aksi-aksi diving, yang dianggap memalukan untuk sepakbola.

Pada intinya, menurut penelitian itu, diving adalah sinyal antara pemain dan wasit.

Si pemain mengirim sinyal (tidak jujur​​) bahwa ia telah diberlakukan jahat; wasit harus melihat sinyal itu, menafsirkannya, dan memutuskan apakah akan menjatuhkan hukuman.

Teori sinyal memprediksi, jika penipuan menjadi lebih sering dan lebih umum, hal itu akan lebih mudah untuk dideteksi dan dijatuhi hukuman. David ingin mencari tahu mengapa penipuan menjadi begitu umum dalam olahraga sepakbola.

Berdasarkan teori sinyal, David berharap menemukan bahwa ketika diving menjadi lebih sering, hal itu akan terdeteksi dengan mudah dan dihukum dengan sangat berat; dengan demikian, supaya bisa sukses, penipuan seharusnya jarang-jarang terjadi.

Dan diving seharus terjadi ketika potensi hadiahnya lebih besar, yaitu dekat gawang lawan atau ketika skor pertandingan seimbang.

Untuk menguji prediksi ini, David menganalisis lebih dari 2.800 macam diving pada 60 pertandingan sepakbola profesional di 10 liga profesional berbeda. Dan apa yang dia temukan sungguh mengejutkan.

Dalam beberapa liga, diving lebih sering terjadi. Menurut sinyal teori, jika perilaku kecurangan (dalam hal ini diving) menjadi lebih umum, seharusnya keunggulan komparatifnya akan menurun. Semakin sering diving, wasit akan kurang menghargainya lagi karena sudah tahu.

Anehnya, hal ini tidak terjadi. Pada liga di mana pemain ditemukan diving lebih sering, wasit ternyata memberi hadiah lebih sering dengan tendangan bebas atau penalti.

Tidak jelas apakah itu si wasit atau si pemain yang menyebabkan pola semacam ini terjadi. Apakah wasit di beberapa liga tidak mampu mendeteksi diving? Atau pemain dalam liga tersebut lulusan sekolah drama semua?

Dan bagaimana, di mana, dan kapan diving terjadi? Ternyata diving lebih umum terjadi ketika ada lebih banyak kemungkinan mendapatkan hadiah: pada setengah lapangan depan, khususnya, di atau dekat kotak penalti – dan ketika skor antara dua tim masih seimbang.

Diving, seperti kebanyakan perilaku, terjadi ketika potensi keuntungan lebih besar daripada usahanya, dan di situlah masalahnya terletak pada sepakbola.

Seberapa mahal ongkos melakukan diving? Ongkos diving tidaklah mahal, bola diberikan ke lawan, pemain mendapatkan kartu kuning, dan si pemain bisa mendapatkan reputasi tukang diving.

Tapi secara keseluruhan dalam pertandingan yang lebih penting (seperti final Piala Dunia), biayanya akan jauh lebih besar daripada hadiahnya.

Jadi bagaimana untuk mengatasi masalah diving?

Pertama, dengan meningkatkan deteksi. Meningkatkan jumlah asisten wasit di lapangan, terutama dekat gawang, di mana sebagian besar diving terjadi.

Kedua, ongkos diving dinaikkan. Hukuman harus lebih berat daripada manfaat golnya supaya pemain harap-harap cemas melakukan diving.

Liga sepakbola yang lebih maju seperti Australia A-League dan MLS Amerika menggunakan analisis video pasca-pertandingan untuk menetapkan hukuman retrospektif untuk pemain yang curang.

Di negara-negara ini, ada persaingan dari olahraga fisik lainnya (seperti rugby, atau sepakbola Amerika) sehingga sepakbola akan dicemooh publik jika terlalu sering diving.

Video diving paling kocak sejagat. Pemain bisa tiba-tiba jatuh disenggol angin: