Diego Simeone, Manajer Paling Terkenal Saat Ini

7

Setelah tiga kali mengalahkan Real Madrid secara berurutan di kandangnya sendiri di Santiago Bernabeu, dengan yang terakhir dinihari tadi WIB, manajer Atletico Madrid Diego Simeone adalah orang yang paling banyak dibicarakan saat ini. Citra yang tergambar dari Diego Simeone adalah manajer yang bergairah, tak kenal lelah dan sangat, sangat sulit untuk dikalahkan. Ia tetap tidak terkalahkan bahkan ketika dia duduk di […]

Diego Simeone, Manajer Paling Terkenal Saat Ini - berita Internasional Liga Inggris Liga Spanyol
Setelah tiga kali mengalahkan Real Madrid secara berurutan di kandangnya sendiri di Santiago Bernabeu, dengan yang terakhir dinihari tadi WIB, manajer Atletico Madrid Diego Simeone adalah orang yang paling banyak dibicarakan saat ini.

Citra yang tergambar dari Diego Simeone adalah manajer yang bergairah, tak kenal lelah dan sangat, sangat sulit untuk dikalahkan. Ia tetap tidak terkalahkan bahkan ketika dia duduk di bangku penonton Bernabeu karena terkena sanksi hukuman delapan laga, akibat menghina ofisial pertandingan di laga Supercopa de Espana bulan lalu.

Siapa saja yang melihat atau menghabiskan waktu menonton Atletico bermain bisa mengerti mengapa klub-klub Eropa terbaik tertarik untuk merekrutnya, ingin mendapatkan sepotong keajaiban dari tangan Simeone.

Potensi pelamar termasuk Manchester United dan AS Monaco, yang ingin melihat pelatih yang meminta komitmen teguh dari para pemainnya, yang mulai percaya bahwa sesuatu yang hampir mustahil bisa saja terjadi di dalam negeri dan di level Eropa.

Jarang sebuah tim dipersonifikasi melalui pelatih mereka. Biasanya dari figur-figur pemain bintangnya. Sejak tiba beberapa hari sebelum Natal 2011, ia telah mengubah total Atletico dari tim yang tadinya terus menerus kurang berprestasi. Ia juga dengan mulus menggabungkan taktik defensif –yang mencirikan bekas timnya di Argentina (dan Catania)– dengan serangan balik secepat kilat yang menjadi semangat tim Atletico.

Salah satu kredo Simeone adalah kesetiaan dan kepercayaan. Pelatih kebugaran Oscar Ortega, yang telah bekerja bersama Simeone selama satu dekade, juga diberi tanggung jawab yang luas. Ortega mengharuskan pemain melalui 20 menit pemanasan setiap pagi bahkan sebelum pelatih kepala tiba di lapangan. Simeone memiliki kepercayaan total kepada Ortega (dan tangan kanannya, German Burgos), dan para pemainnya untuk mengikuti instruksi para asistennya.

Simeone meresepkan komitmen total. Dia tidak meminta para pemain untuk membuat pengorbanan yang dia sendiri tidak lakukan. Ketika ia mendapat pekerjaan di Atletico, Simeone mengambil keputusan sulit untuk meninggalkan keluarganya di Argentina, tidak ingin membawa mereka pindah untuk sebuah posisi pekerjaan yang mungkin saja cuma berumur beberapa bulan saja.

Sebelum pertandingan leg pertama semifinal vs Chelsea di Liga Champions musim lalu, anak-anaknya (yang dipimpin oleh Giovanni, seorang striker remaja di River Plate) mengiriminya sebuah pesan video yang menyentuh, memperlihatkan mereka bermain air mancur di depan rumah keluarga, dengan melambai-lambaikan bendera Atletico.

Dengan bebas dari gangguan urusan keluarga, Simeone sangat menghayati peran sebagai pelatih sebagaimana pemain. Ia terus-menerus berdiri di tepi lapangan, ingin menendang setiap bola, dan menyesuaikan setiap detail dalam permainan. Hanya menonton dia mondar-mandir di pinggir lapangan saja bisa menjadi pengalaman yang melelahkan.

Cuma berandai-andai. Apakah Simeone bisa berhasil jika bekerja di Premier League, masih bisa diperdebatkan. Liga Inggris ini penuh dengan pemain-pemain yang relatif lebih manja dibandingkan La Liga. Salah satu prasyarat metode Simeone adalah kepatuhan tanpa syarat dari semua orang di dalam skuad.

Kita bertanya-tanya apakah ia bisa benar-benar sukses di sebuah klub elit Inggris, jika memutuskan untuk pindah ke Inggris. Kita  melihat resistensi pemain untuk berubah sudah mengorbankan banyak pelatih Premier League dalam beberapa tahun terakhir (Andre Villas-Boas dan Gerard Houllier, contohnya).

Salah satu ciri lain dari Simeone adalah meminta para pemain untuk turun ke lapangan “seolah-olah ini adalah partai final.” Dengan begitu para pemain Atletico bermain habis-habisan seolah-olah tidak ada hari esok.