Dinas Intelejen Terbesar Ikut Selidiki Kasus Suap di Tubuh FIFA

Dugaan suap di tubuh organisasi sepakbola dunia, FIFA, rupanya mengganggu banyak pihak. Selain Inggris yang sangat gregetan melihat jatah Piala Dunia 2022 diberikan ke Qatar, Amerika Serikat pun demikian. Mereka bahkan mengerahkan dinas intelejen terbesar di dunia, FBI, untuk ikut menyelidiki kasus dugaan suap tersebut. Diduga FBI menggunakan salah satu pria paling berkuasa di dunia sepakbola, […]

Internasional Liga Inggris Piala Dunia  - Dinas Intelejen Terbesar Ikut Selidiki Kasus Suap di Tubuh FIFA

Dugaan suap di tubuh organisasi sepakbola dunia, FIFA, rupanya mengganggu banyak pihak.

Selain Inggris yang sangat gregetan melihat jatah Piala Dunia 2022 diberikan ke Qatar, Amerika Serikat pun demikian. Mereka bahkan mengerahkan dinas intelejen terbesar di dunia, FBI, untuk ikut menyelidiki kasus dugaan suap tersebut.

Diduga FBI menggunakan salah satu pria paling berkuasa di dunia sepakbola, mantan anggota Komite Eksekutif FIFA Chuck Blazer, untuk merekam secara tersembunyi semua percakapannya dengan banyak tokoh sepakbola lainnya.

Sebuah penyelidikan oleh New York Daily News mengungkapkan Chuck Blazer menjadi informan FBI setelah ia diancam oleh IRS (dinas pajak Amerika Serikat) mengenai tagihan pajak yang tak dibayarkannya selama satu dekade terakhir.

Sebagai gantinya, ia kemudian setuju untuk menjadi saksi, bekerja sama dalam penyelidikan kejahatan dalam kasus korupsi sepakbola.

Misi Blazer adalah untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi dari tokoh-tokoh politik sepakbola, dengan semua komunikasi dengan 44 pejabat top internasional, termasuk Presiden FIFA Sepp Blatter, dipantau dan direkam secara tersembunyi oleh FBI.

Salah satu ajang utama Blazer adalah Olimpiade London 2012, di mana ia berusaha untuk menghibur banyak tamu profil tinggi yang FBI percaya bisa memberikan petunjuk lebih lanjut.

Mereka yang direkam percakapannya antara lain adalah ketua Federasi Sepakbola Australia Frank Lowy. Selain itu Blazer juga mencoba untuk bertemu dengan Alexei Sorokin, ketua panitia Piala Dunia 2018 di Rusia.

Sebagaimana Australia, Amerika Serikat gagal mendapatkan hak tuan rumah Piala Dunia 2022, yang kemudian diberikan kepada Qatar.

Sejak negeri emirat kecil itu memenangkan hak sebagai tuan rumah, sudah marak tuduhan pembelian suara, dengan sorotan juga terarah, pada tingkat lebih rendah, pada tuan rumah 2018, Rusia.

Pada puncak kekuasaannya, Blazer adalah Sekretaris Jenderal CONCACAF (organisasi sepakbola untuk Amerika Utara, Tengah dan Karibia), serta anggota Komite Eksekutif FIFA, sampai ia digulingkan dari jabatannya pada tahun 2012.

Menurut klaim terbaru, Australia adalah salah satu negara yang ditargetkan oleh Blazer, bersama dengan sejumlah pihak lain yang pada waktu itu sedang dalam proses tender untuk 2018 dan 2022 Piala Dunia.

“Sebelum melakukan perjalanan ke London di bawah arahan penyidik pidana Amerika, Blazer mengirim email ke pejabat sepakbola Rusia, Hongaria, Australia dan Amerika untuk mengatur pertemuan yang akan direkamnya secara diam-diam sesuai arahan  FBI,” demikian kata laporan tersebut.

“Investigasi di sini [di Amerika Serikat] dan di seluruh dunia dapat menyebabkan tuntutan pidana, membuat gemetar eselon atas dari FIFA, badan internasional sepakbola yang berbasis di Swiss, asosiasi olahraga terkaya dan paling kuat di planet ini.”