Gara-gara Skandal Korupsi Emirates dan Sony Tinggalkan FIFA

Akibat maraknya pemberitaan korupsi di tubuh FIFA, dua sponsor besar mereka selama ini –Emirates dan Sony– tidak memperpanjang lagi kontrak dengan badan sepakbola dunia itu.

Maskapai penerbangan Emirates memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya dan raksasa elektronik Sony mengisyaratkan niatnya untuk meninjau hubungannya dengan badan dunia itu.

Konfirmasi tersebut datang hanya dalam waktu empat bulan setelah sejumlah pejabat dari perusahaan mitra Piala Dunia menyatakan keprihatinan tentang publisitas negatif seputar tuduhan korupsi di tubuh FIFA.

Kontrak Emirates berakhir bulan Desember dan maskapai penerbangan yang berbasis di Dubai itu telah mengkonfirmasi bahwa mereka tidak akan memperbaharui sponsorshipnya.

FIFA mengatakan telah diketahui keputusan itu sejak 2012 dan kabarnya Qatar Airways – yang dimiliki oleh tuan rumah Piala Dunia 2022 Qatar – sedang mempertimbangkan menjadi penggantinya.

Samsung, yang merupakan sponsor utama olimpiade juga dapat mengambil alih posisi sponsor utama FIFA dari Sony.

Keduanya,  Emirates dan Sony, adalah salah mitra resmi FIFA. Mereka adalah dua dari enam sponsor tingkat atas yang menyediakan ratusan juta pound pendapatan sponsor untuk badan dunia itu.

FIFA mengatakan dalam sebuah pernyataan kepada Press Association: “Emirates telah memberitahu FIFA pada bulan Juni 2012 tentang restrukturisasi konsep sponsorship. Dan karena negosiasi yang sedang berlangsung, kami tidak bisa memberikan informasi lebih lanjut tentang mitra masa depan dalam kategori ini pada tahap ini.”

“Kontrak saat ini dengan Sony masih berjalan sampai 31 Desember 2014 dan kami sedang dalam diskusi dengan Sony.”

Emirates mengkonfirmasi rencana itu dalam sebuah pernyataan, mengatakan, “Keputusan telah dibuat untuk tidak memperbaharui perjanjian sponsor dengan FIFA melewati 2014. Keputusan ini dibuat setelah mengevaluasi proposal kontrak FIFA yang tidak memenuhi harapan Emirates.”

Pada bulan Juni, sejumlah mitra termasuk Sony membuat keprihatinan publik tentang efek berkelanjutan publisitas negatif di sekitar FIFA. Ini diikuti publikasi tuduhan segar korupsi sekitar pemungutan suara Piala Dunia dan suap di sekitar pemilihan untuk posisi FIFA.

Adidas, perusahaan olahraga yang mungkin menjadi partner FIFA paling penting dan memiliki kesepakatan hingga 2030, mengatakan pada saat itu: “Nada negatif dari debat publik di sekitar FIFA saat ini tidak baik untuk sepakbola maupun untuk FIFA dan mitra-mitranya.”

Raksasa elektronik Jepang Sony mengatakan pada bulan Juni, tudingan korupsi harus “diselidiki secara sepantasnya” dan menyerukan FIFA untuk menjalankan “prinsip-prinsip integritas, etika dan fair play”.

FIFA mendapatkan lebih dari Rp 4,46 Trilyun dari sponsor dan mitra pemasaran lainnya tahun lalu.