Hukum Rusia, FIFA Didesak Batalkan Piala Dunia 2018

9

Sudah mulai muncul suara-suara yang menginginkan agar badan sepakbola dunia, FIFA, mencabut hak penyelenggaraan Piala Dunia 2018 dari tangan Rusia. Alasannya, negeri beruang putih itu terlibat secara tidak langsung dalam penembakan pesawat sipil Malaysian Airlines kode penerbangan MH17 di atas wilayah Ukraina. Sebanyak 300 orang tewas akibat penembakan pesawat itu, 189 di antaranya warga negara Belanda, […]

Hukum Rusia, FIFA Didesak Batalkan Piala Dunia 2018 - berita Internasional Piala Dunia Sudah mulai muncul suara-suara yang menginginkan agar badan sepakbola dunia, FIFA, mencabut hak penyelenggaraan Piala Dunia 2018 dari tangan Rusia. Alasannya, negeri beruang putih itu terlibat secara tidak langsung dalam penembakan pesawat sipil Malaysian Airlines kode penerbangan MH17 di atas wilayah Ukraina.

Sebanyak 300 orang tewas akibat penembakan pesawat itu, 189 di antaranya warga negara Belanda, mati di tangan pasukan milisi oposisi Ukraina yang berutang kesetiaan mereka kepada Vladimir Putin, Presiden Rusia, orang yang telah menempatkan dirinya di belakang pemberontakan bersenjata di Ukraina..

Senjata yang digunakan untuk menembak kabarnya adalah rudal Buk bikinan Rusia. Tidak semua negara memiliki sistem senjata itu. Dan itu pun tidak bisa dioperasikan oleh sembarang orang. Konon butuh 11 orang untuk mengoperasikan satu peluncur rudal darat-ke-udara itu.

Dari berbagai sadapan rekaman telepon diketahui bahwa pelaku penembakan adalah milisi oposisi Ukraina yang didukung Moskow di sisi sebelah timur negeri itu, yang sejak peristiwa pemisahan semenanjung Krimea tahun lalu, memulai kampanye negara terpisah dari Kiev.

Bagaimana cara terbaik menghukum presiden Rusia Vladimir Putin? Hukum Rusia, FIFA Didesak Batalkan Piala Dunia 2018.

Selama ini yang dilakukan negara-negara Barat adalah memberlakukan sanksi ekonomi. Tapi cara-cara seperti ini hanya akan menghukum rakyat Rusia yang tidak bersalah, bukan Putin.

Langkah pertama yang baik adalah berhenti berpura-pura bahwa olahraga adalah netral secara politik.

Menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 adalah senjata Putin untuk membuktikan kepada rakyatnya bahwa ia sungguh kuat, tidak terhentikan, dan bahwa tidak ada gunanya menentang dirinya. Putin menganggap pementasan turnamen itu sebagai propaganda, suara global untuk prestasinya. Bayangkan apa yang ia rasakan jika ia dicegah dari menyelenggarakan acara semacam itu.

Piala Dunia empat tahun lagi adalah waktu yang tepat untuk FIFA, badan sepak bola dunia, untuk membatalkan perjanjian formal dengan Moskow dan memberikan kesempatan bagi tuan rumah lain untuk menyediakan seluruh infrastruktur. Membangun stadion baru memakan waktu hingga dua tahun; bandara perlu ditingkatkan kapasitasnya; berbagai hotel harus dibangun, demikian juga kapasitas kereta api domestik dan angkutan jalan ditingkatkan untuk mengatasi masuknya ratusan ribu gilabola.

Berbagai kelompok pro-Ukraina penentang Putin sedang merancang boikot besar-besaran terhadap perusahaan yang akan mensponsori Piala Dunia di Rusia. Berapa lama sebelum perusahaan-perusahaan itu, yang meliputi Anheuser Busch, Visa, Kia Motors, dan Sony, mulai menekan FIFA untuk mengganti tuan rumah?

Piala Dunia sangat berbeda dengan Olimpiade, di mana setiap negara memiliki hak untuk berpartisipasi. Di Piala Dunia peserta diperoleh berdasarkan seleksi babak kualifikasi. Mayoritas tim yang lolos berasal dari Barat. Dua kekuatan bola Asia adalah Jepang dan Korea Selatan, dan negara-negara Afrika Barat yang cenderung tidak terikat pada Putin. Mengerahkan koalisi permanen ketidaksetujuan untuk Piala Dunia akan jauh lebih mudah daripada untuk Olimpiade.

Dalam semua ini terletak kesempatan juga bagi FIFA untuk menebus dirinya. Di bawah Sepp Blatter, citra FIFA semakin buram dan korup. Sekarang adalah saat yang tepat bagi  FIFA dan Blatter untuk mengambil sikap moral yang langka untuk mencabut hak tuan Rusia.

Siapa yang harus menjadi tuan rumah menggantikan Rusia? Tunku Varadarajan dari The Daily Beast mengusulkan Belanda, yang juga mengusulkan diri sebagai tuan rumah 2018 seperti juga Rusia. Berbeda dengan Rusia, Belanda adalah sebuah kekuatan sepak bola dunia, dengan masyarakat demokratis yang terbuka, dan sebuah teladan masyarakat spil.

“Dan setelah jatuhnya MH17, di mana begitu banyak warga Belanda yang tidak bersalah dibunuh oleh orang-orang yang setia kepada Putin, Piala Dunia di Belanda akan menjadi keadilan kosmik,” kata Varadarajan.