Ini Pada Niat Tidak Sih Berebut Juara Ketiga Piala Dunia 2014?

  • Sebelum ini pelatih Belanda Louis van Gaal sudah terang-terangan bicara, tak nafsu lagi memperebutkan posisi tempat ketiga. Lalu pemain-pemain tim tuan rumah juga menyatakan tidak semangat berlaga di partai yang akan dilangsungkan Minggu dinihari WIB.  Jadi, sebenarnya ini pada niat main di laga perebutan juara ketiga apa tidak sih? FIFA mungkin sudah harus mempertimbangkan penghapusan laga perebutan […]

Internasional Piala Dunia  - Ini Pada Niat Tidak Sih Berebut Juara Ketiga Piala Dunia 2014?

Sebelum ini pelatih Belanda Louis van Gaal sudah terang-terangan bicara, tak nafsu lagi memperebutkan posisi tempat ketiga. Lalu pemain-pemain tim tuan rumah juga menyatakan tidak semangat berlaga di partai yang akan dilangsungkan Minggu dinihari WIB.

 Jadi, sebenarnya ini pada niat main di laga perebutan juara ketiga apa tidak sih? FIFA mungkin sudah harus mempertimbangkan penghapusan laga perebutan juara ketiga pada Piala Dunia 2018 di Rusia.

Kita sebagai penonton juga mungkin tidak minat-minat amat. Coba cek, siapa yang ingat dua tim yang memperebutkan posisi juara ketiga Piala Dunia 2010? Dan siapa yang menang?

Jawabannya: Uruguay vs Jerman, dan Der Panzer keluar sebagai juara ketiga dengan skor 3-2.

Siapa yang memenangkan Piala Dunia 2006 dan yang mendapat kartu merah langsung? Cukup mudah bukan? Italia menang adu penalti, dan pemain legendaris Zinedine Zidane diusir dari lapangan karena menanduk Marco Materazzi.

Siapa dua tim yang berlaga untuk perunggu di hari sebelum tragedi tandukan Zizou itu? Satu adalah Jerman (lagi) tapi siapa tim lainnya? Jawaban yang benar adalah Portugal, yang kalah 3-1 untuk tuan rumah dan akibatnya duduk di urutan keempat.

Semua orang ingat Final Piala Dunia – yang menang, para pahlawan dan yang kalah, dan di mana mereka menontonnya. Tapi tidak ada yang ingat, atau sedikit saja yang ingat, perebutan posisi ketiga. Internasional Piala Dunia  - Ini Pada Niat Tidak Sih Berebut Juara Ketiga Piala Dunia 2014?

Jika medali perunggu Olimpiade berarti sesuatu, maka sebuah medali perunggu Piala Dunia berarti tim tersebut gagal di semifinal.

Tidak heran jika Louis van Gaal bersikeras, “Tidak usahlah dimainkan,” dan menggambarkannya sebagai sebuah partai yang ‘tidak adil’. Tim yang berlaga di perebutan tempat ketiga punya satu hari lebih sedikit untuk istirahat, dan jika kalah, akan jatuh secara mental karena mengalami dua kekalahan beruntun.

Tapi LVG punya pekerjaan lebih mudah. Belanda hanya kalah melalui adu penalti di semifinal. Bagaimana dengan Luiz Felipe Scolari? Dia punya tugas lebih sulit, mengumpulkan lagi hati pemain Brasil yang porak poranda setelah kekalahan 1-7 dari Jerman.

FIFA sendiri bersikeras memperpanjang penderitaan bagi semifinalis yang kalah, mungkin karena itu menghasilkan lebih banyak pendapatan dan memberikan para sponsornya satu hari ekstra untuk beriklan secara global. Permainan itu sendiri, meskipun seringkali lebih menghibur daripada partai final karena tekanan dari kedua tim, adalah sia-sia.

Brasil sejak awal diharapkan untuk memenangkan Piala Dunia itu sendiri, bukan posisi ketiga. Jadi kalau pun menang, tidak ada pujian yang akan didapat. Sungguh sia-sia. Bagaimana jika Belanda yang menang? Tuan rumah, yang telah malu satu kali, akan memperoleh ejekan sekali lagi.

Baik Brasil maupun Belanda akan melihat medali perunggu Piala Dunia sebagai penghiburan. Kepala LVG sudah ada di Manchester, memikirkan pekerjaan barunya. Ia mungkin juga sudah diomeli istrinya karena tidak kunjung pulang.

Perebutan tempat ketiga tetap layak tonton. Kedua tim sudah tak ada beban. Permainan akan sangat menghibur. Jika LVG berani, ia akan menurunkan beberapa pemain muda untuk menjajaki pengalaman internasional. Toh hadiah uang untuk posisi ketiga dan keempat tidak berbeda jauh, Rp 255 milyar dan Rp 231 milyar. Tapi pengalaman bagi pemain-pemain muda sungguh tidak ada nilainya. Para junior juga ingin membuktikan sesuatu, bahwa mereka layak turun di laga-laga Belanda berikutnya. Sementara Brasil jauh lebih berat bebannya.