Berita Bola - Kenapa Xherdan Shaqiri Penting Bagi Imigran Indonesia di Eropa? -

 

Xherdan Shaqiri. Dari namanya saja kita tahu dia bukan orang asli Swiss. Siapa dia? Dari mana asalnya?

Xherdan Shaqiri adalah imigran Albania keturunan etnik Kosovo, salah satu daerah di Balkan, sisa pecahan Yugoslavia di tahun 1990-an. Orangtuanya mengungsi ke Swiss tahun 1992 ketika pecah perang etnik di semenanjung Balkan, yang meluluhlantakkan dan memecahbelah Yugoslavia menjadi empat, atau lima, atau bahkan enam negara independen, tergantung dari sisi mana Anda melihatnya.

Serbia, misalnya, tidak mengakui kehadiran Kosovo. Dan karenanya pihak Serbia sangat murka ketika Xherdan Shaqiri selaku pemain Bayern Munich merayakan kemenangan klubnya di ajang Piala Champions tahun 2013 lalu dengan bendera Swiss dan Kosovo. Tayangan itu meluas ke seluruh dunia berkat televisi. Selaku imigran ia memang memiliki dua kewarganegaraan: Swiss dan Albania.

Ketua asosiasi sepakbola Serbia Tomislav Karadzic mengatakan, “Saya tidak tahu bagaimana mereka membiarkan dia membawa masuk (bendera-bendera itu), tapi jelas bahwa dia tak punya hak melakukannya, dan promosi politik apa pun bertentangan dengan ketentuan UEFA. Kosovo juga tidak diakui oleh PBB, FIFA, maupun UEFA. Jadi saya melihat ini sebagai kegagalan oleh pihak penyelenggara.”

Masa kecil Shaqiri dihabiskan di tim remaja SV Augst, Swiss. Ia berusia 10 tahun kala itu, dan ayahnya yang jeli melihat bakat yang lebih besar daripada sekedar sebuah klub pedesaan. Maka setiap hari ayahnya membawanya naik bus selama 30 menit ke tim junior FC Basel.  Shaqiri tidak suka dengan pilihan itu karena semua temannya ada di Augst. Namun belakangan, ia menyadari pilihan ayahnya sudah tepat.

Tahun 2007 ia mulai masuk tim U21 FC Basel. Dua tahun kemudian masuk tim senior, dan tahun 2012 ditransfer ke Bayern Munich pada usia 20 tahun.

Kosovo dan Serbia mencapai kesepakatan penting untuk menormalkan hubungan mereka pada bulan April 2013, tapi masih ada banyak ganjalan. Ini tidak selalu mudah bagi Shaqiri – dan rekan-rekannya sesama keturunan Kosovo-Albania, Granit Xhaka dan Valon Behrami – untuk berdiri teguh dalam loyalitas ganda kepada Kosovo dan Swiss.

Selama lebih dari satu dekade, Partai Rakyat (People’s Party) di Swiss telah menjalankan kampanye menentang imigran asing dan menargetkan keturunan Kosovo-Albania pada khususnya. Pada bulan Februari 2014 lalu, para pemilih Swiss mendukung proposal referendum untuk menetapkan kuota yang lebih ketat untuk imigran dari negara-negara Uni Eropa.

Shaqiri tetap berdiri teguh dalam dukungannya terhadap Kosovo dan pada tahun 2012 ia menandatangani petisi meminta UEFA untuk mengakui tim nasional Kosovo. Dua tahun kemudian, pada Januari 2014, FIFA mengumumkan bahwa Kosovo boleh memainkan pertandingan persahabatan melawan negara-negara anggota FIFA di level klub dan internasional. Ini adalah sebuah langkah besar bagi negara yang baru enam tahun menyatakan kemerdekaan dari Serbia.

Pada tanggal 5 Maret Kosovo, yang 90%-nya adalah orang Albania, melakukan laga perdana persahabatan yang diakui FIFA melawan Haiti di Mitrovica, dan berakhir 0-0. Presiden Kosovo Atifete Jahjaga dan perdana menteri Hashim Thaci hadir.

Kosovo telah memainkan dua pertandingan persahabatan lainnya sejak saat itu – melawan Turki dan Senegal – dan mungkin masih  sangat lama sebelum mereka bisa bermain di Piala Dunia. Namun saat ini mereka sudah memiliki tiga pemain yang akan mengibarkan bendera mereka di Brasil.

Jika Shaqiri bisa menang atas Argentina dan mencapai babak delapan besar Piala Dunia maka akan ada perayaan besar di Kosovo dan Swiss dan, siapa tahu, para pendukung Partai Rakyat yang ekstrim kanan itu juga ikut bersorak-sorai.

Mengapa Shaqiri penting bagi imigran Indonesia di Eropa? Karena saat ini sentimen anti imigran asing sedang naik daun nyaris di seantero Eropa. Jika Shaqiri menang, ini bisa mengingatkan lagi perihal sumbangsih imigran asing bagi kejayaan negara-negara Eropa, setidaknya di lapangan bola.