Kisah Pembelotan Tim Nasional Yang Tak Mau Balik Ke Negaranya

  •   Tahukah anda, sebuah tim sepakbola nasional yang membelot dan tak mau pulang ke negaranya lagi? Ini adalah Timnas Sepakbola Eritrea, sebuah negara di Afrika yang kini kodisinya memperihatinkan. Dan ini adalah kisah 18 orang skuad timnas Eritrea … Awal kisa bermula saat Tim Nasional Eritrea berlaga dalam sebuah pertandingan internasional di Uganda pada December 2012. […]

Internasional  - Kisah Pembelotan Tim Nasional Yang Tak Mau Balik Ke Negaranya

 

Tahukah anda, sebuah tim sepakbola nasional yang membelot dan tak mau pulang ke negaranya lagi? Ini adalah Timnas Sepakbola Eritrea, sebuah negara di Afrika yang kini kodisinya memperihatinkan. Dan ini adalah kisah 18 orang skuad timnas Eritrea …

Awal kisa bermula saat Tim Nasional Eritrea berlaga dalam sebuah pertandingan internasional di Uganda pada December 2012. Usai pertandingan, sebanyak 18 anggota timnas Eritrea termasuk seorang dokter timnas tiba tiba menghilang tak diketahui rimbanya. Beberapa jam kemudian, mereka muncul, bukan untuk pulang ke negaranya tapi mereka meminta suaka kepada Badan Pengungsi milik PBB di Uganda.

Pembelotan mereka bukan tanpa alasan, usai meraih kemerdekaan dari Ethiopea di tahun 1993, kondisi Eritrea semakin memburuk. Bahkan PBB memberi label sebagai salah satu negara dengan peringkat tidak aman tertinggi. Pembunuhan, penculikan, penyiksaan adalah makanan sehari-hari warga Eritrea. Pemimpin militer di negara ini bertindak arogan, bahkan karena ketakutan, 50.000 lebih warga Eritrea mengungsi ke Ethiopea di tahun 2011. Kini mereka semakin ketakutan karena perintah tembak ditempat oleh pihak militer bagi siapa saja warganya yang berusaha keluar dari perbatasan Eritrea.

Karena alasan inilah, skuad timnas Eritrea sebanyak 18 orang melarikan diri dan tak mau kembali ke negaranya. Selama 18 bulan mereka terombang ambing dari kamp pengungsian yang stau ke kamp yang lain. Kini mereka ditampung di Belanda, di mana mereka diberi fasilitas pengungsian yang istimewa. Keistimewaan itu ada pada fasilitas lapangan sepakbola. Pemerintah Belanda berbaik hati memberikan mereka sebuah lapangan yang mereka gunakan sebagai kamp pengungsiaan agar mereka dapat tetap dapat melakukan rutinitas mereka sepagai pemain sepakbola.

Kini 18 skuad timnas Eritrea ini masih menanti negara mana yang mau menampung mereka menjadi warga negaranya. Karena di Belanda sendiri, ada pro dan kontra soal kehadiran mereka. Apalai kalau bukan penggunaan uang negara untuk warga negara lain.