Korelasi Hobi Gigit Suárez dan Kehebatan Main Bolanya

18

Piala Dunia dipenuhi dengan momen-momen agresif-impulsif. Ada tendangan David Beckham kepada Diego Simeone tahun 1998, lalu tandukan Zinedine Zidane kepada tahun 2006, dan terakhir gigitan Luis Suárez di turnamen tahun 2014 ini. Mengapa ada peristiwa-peristiwa semacam itu? Menurut para ahli, sifat impulsif itu jugalah yang menyebabkan mereka menjadi pemain bola hebat. Kebiasaan untuk mengambil keputusan dalam […]

Internasional Liga Inggris Piala Dunia Xtra Time  - Korelasi Hobi Gigit Suárez dan Kehebatan Main Bolanya

Piala Dunia dipenuhi dengan momen-momen agresif-impulsif.

Ada tendangan David Beckham kepada Diego Simeone tahun 1998, lalu tandukan Zinedine Zidane kepada tahun 2006, dan terakhir gigitan Luis Suárez di turnamen tahun 2014 ini.

Mengapa ada peristiwa-peristiwa semacam itu?

Menurut para ahli, sifat impulsif itu jugalah yang menyebabkan mereka menjadi pemain bola hebat. Kebiasaan untuk mengambil keputusan dalam split second, sesegera mungkin, secepat kilat. Itu bisa membedakan antara sebuah gol atau bukan. Sebuah penyelamatan oleh kiper atau kebobolan. Dalam kasus Suárez, di detik itu dia memutuskan menggigit bahu pemain Italia, Giorgio Chiellini.

Sifat impulsif manusia itu bisa dilacak kembali jauh ke masa lalu evolusi kita. Secara alami, manusia dirancang untuk bisa membuat keputusan sangat cepat, yang beberapa di antaranya dapat menyebabkan penyesalan, dan dalam kasus Suárez: larangan main bola selama empat bulan.

Karakter impulsif sebenarnya adalah sebuah mekanisme untuk bertahan hidup dan sangat penting di tanah lapang savana Afrika di mana spesies manusia mulai berevolusi sekitar satu setengah juta tahun silam. Untuk nenek moyang kita, kemampuan untuk membuat keputusan sepersekian detik bisa membuat perbedaan antara hidup dan mati.

Sementara sebagian besar makhluk hidup membuat keputusan impulsif ini sebagai bagian dari mengendalikan risiko semata, manusia dapat mengendalikan nafsu impulsif atas dasar bagaimana citra mereka akan dinilai oleh orang lain, kemampuan yang muncul sekitar 100.000 tahun silam.

“Kita berevolusi menjadi hewan yang sangat sosial, hidup dalam kelompok besar, sehingga kita telah mengembangkan mekanisme penghambatan di bagian korteks prefrontal,” jelas Michael Harga dari School of Social Sciences, University of Brunel. “Ini adalah pusat sosial dari otak. Alasan besar kita untuk tidak melulu impulsif adalah karena reputasi Anda dan bagaimana orang lain akan menilai Anda, dan mungkin pengucilan, seperti yang kita lihat dengan David Beckham pasca peristiwa di Prancis tahun 1998.”

Namun, orang-orang tertentu merasa lebih sulit untuk mengendalikan dorongan impulsif mereka daripada yang lain, dan ini sebagian ditentukan oleh gen mereka. Hubungan pertama antara genetika dan impulsif ditemukan di Finlandia pada tahun 2010. Individu yang membawa varian gen HTR2B ditemukan jauh lebih cenderung untuk melakukan kejahatan kekerasan ketika mabuk daripada sisa ras manusia lainnya.

Khusus berkaitan dengan olahragawan adalah apa yang disebut monoamine oksidase A. Kombinasi dari kadar rendah monoamine oksidase A dan kadar testosteron tinggi membuat seseorang jauh lebih mungkin untuk kehilangan kontrol dan menjadi agresif. Hal ini terutama berlaku jika orang tersebut memiliki masa kecil yang sulit dan menderita banyak stres pada usia dini.

Laga-laga sepakbola menyajikan tantangan psikologis yang unik bagi individu semacam ini. Mempertahankan kontrol diri dalam kehidupan sehari-hari adalah masalah remeh. Tapi jika di bawah tekanan pertandingan dan ditonton ratusan juta pasang manusia melalui layar televisi, maka hasilnya bisa berbeda.

“Semua tipe olahraga kompetitif secara efektif meniru situasi agresi yang sangat intens,” kata  Michael Price dari The School of Social Sciences, University of Brunel. “Ini seperti kembali ke lingkungan leluhur kita ketika terjadi perang antara dua suku, dan bagaimana nasib Anda ditentukan dari perang semacam ini.”

“Ini tekanan sangat unik yang benar-benar menyebabkan orang masuk ke dalam kesulitan, bahkan jika Anda memiliki banyak pengalaman,” kata Professor David Goldman, kepala bagian neurogenetika di US National Institutes of Heath. “Ingat tandukan Zinedine Zidane di final tahun 2006? Anda mungkin mampu meniti buih selama bertahun-tahun dan tidak pernah jatuh, tapi tiba-tiba Anda berjalan di situasi yang sama dengan terpaan angin yang sangat kuat yang belum pernah dihadapi sebelumnya.”

Menariknya, aset biologis yang membuat seseorang seperti Suárez ditakuti, yakni reaksi cepat dan naluri predator untuk mencetak gol, mungkin juga berada di balik pertarungannya dengan aturan-aturan dunia beradab.

“Ini semacam tragedi,” kata Price. “Bagian-bagian yang sama dari otak yang memungkinkan dia untuk membuat keputusan impulsif dan memungkinkan dia untuk menjadi pemain hebat, juga yang menyebabkan dia kadang-kadang melewati batas dan melakukan hal-hal gila.”

Video tendangan David Beckham:

Video tandukan Zinedine Zidane: