Berita Bola - Laga-laga Sarat Kebencian di Piala Dunia 2014 (2) -

 

“Olahraga adalah kelanjutan dari perang dengan cara lain,” kata Carl von Clausewitz, seorang jenderal Prusia (Jerman hari ini) yang hidup tahun 1780-1831. Ia dikenal sebagai ahli militer yang percaya, masalah psikologis dan politik sangat menentukan kemenangan atau kekalahan dalam sebuah peperangan.

Berikut ini adalah kemungkinan konflik-konflik internasional dunia modern yang bisa berlanjut sampai ke lapangan hijau.

Para penikmat sejarah abad ke-16 Eropa mungkin tertarik pada pertandingan Spanyol vs Belanda, 14 Juni WIB. Rakyat Belanda berperang selama 80 tahun (1568–1648) untuk membebaskan diri dari penjajahan Spanyol.

Sebelum pertemuan Iran-Nigeria pada 17 Juni WIB, Anda bisa memeriksa laporan-laporan soal kegiatan intelijen Iran di Afrika Barat, meskipun tampaknya sedikit spekulatif pada saat ini.

Laga Amerika Serikat vs Jerman bisa menarik mengingat beberapa bulan lalu para petinggi Jerman sangat marah pada aktivitas spionase Amerika yang memata-matai pemerintah Jerman. Mereka marah karena sepatutnya sesama teman tidak saling memata-matai. Aktivitas itu bocor dalam laporan-laporan Edward Snowden, seorang mantan anggota badan intelijen Amerika.

Soal bercampurnya kebencian politik ini semakin panas saat masuk ke babak sistem gugur.

BACA JUGA  Prediksi Uruguay vs Brasil, 24 Maret 2017

Jika entah bagaimana Amerika –yang tidak diunggulkan– bisa lolos dari ‘grup maut’, kita bisa melihat kemungkinan AS melawan Rusia di babak 16 Besar. Menarik karena ketegangan pasca Perang Dingin telah memanas lagi akhir-akhir ini akibat campur tangan keduanya dalam perebutan kekuasaan di Suriah, pemberian suaka Rusia kepada pengkhianat Amerika, Edward Snowden, serta pemisahan diri beberapa bagian negara Ukraina.

Selain itu juga kemungkinan pertemuan Iran-Perancis di babak 16 besar terkait kegagalan perundingan senjata nuklir baru-baru ini.

Laga permusuhan klasik Amerika-Iran tidak semenarik jika turnamen ini terselenggara setahun lalu ketika keduanya masih saling  perang kata-kata. Namun kalau pun bertemu, tidak akan terjadi sebelum perempatfinal. Sama dengan peluang laga antara penjajah dan negara jajahan, Prancis vs Aljazair, hanya bisa terjadi di perempatfinal.

Sayangnya (atau mungkin untungnya) undian tidak akan membiarkan persaingan yang paling tegang sampai setidaknya semifinal. Jadi kita cukup mungkin untuk melihat Inggris dan Argentina bertarung lagi untuk isu 1982 pulau-pulau Malvinas. Juga sentimen sisa perang dunia kedua antara Korea Selatan dan Jepang, meski peluangnya kecil mereka maju ke semifinal.

BACA JUGA  Prediksi Spanyol vs Israel, 25 Maret 2017

Selain itu Yunani dan Jerman yang saling benci karena masalah pengetatan anggaran akibat krisis zona euro. Rakyat Jerman benci Yunani karena dinilai terlalu banyak menghamburkan uang sehingga menyebabkan kenaikan pajak di tanah Jerman. Rakyat Yunani membenci Jerman karena dinilai merampas uang dan menyebabkan banyak pengangguran dan kelaparan di Yunani. Tapi, mampukah Yunani lolos sampai semifinal?

Jika ada keajaiban maka kita juga akan menyaksikan Pantai Gading bertemu Perancis yang melakukan intervensi kekuatan militer baru-baru ini, dan Kroasia-Bosnia memulai kembali  perang saudara di Balkan.

Lihat rincian di tiap grup di bawah ini:

• Grup A
Brazil, Kamerun, Kroasia, Meksiko

• Grup B
Australia, Cile, Belanda, Spanyol

• Grup C
Kolombia, Yunani, Pantai Gading, Jepang

• Grup D
Kosta Rika, Inggris, Italia, Uruguay

• Grup E
Ekuador, Perancis, Honduras, Swiss

• Grup F
Argentina, Bosnia-Herzegovina, Iran, Nigeria

• Grup G
Jerman, Portugal, Amerika Serikat, Ghana

• Grup H
Belgia, Rusia, Aljazair, Korea Selatan

 

Gibolers! Berikan komentar terbaikmu untuk berita bola ini!