Laga memalukan: Bagaimana Argentina kalah 1-6 (I)

14

Siapa sangka bahwa tim sekuat Argentina ternyata pernah dibikin malu 1-6 vs tim lemah Bolivia gara-gara main di ketinggian 3.600 meter dari atas permukaan laut, di ibukota La Paz, bulan April 2009 lalu. Memangnya beda ya memainkan bola di atas gunung nona dan nendang bola di lapangan Persija? Jelas beda. Ketinggian menyebabkan tekanan udara menipis. […]

Internasional  - Laga memalukan: Bagaimana Argentina kalah 1-6 (I)

Siapa sangka bahwa tim sekuat Argentina ternyata pernah dibikin malu 1-6 vs tim lemah Bolivia gara-gara main di ketinggian 3.600 meter dari atas permukaan laut, di ibukota La Paz, bulan April 2009 lalu. Memangnya beda ya memainkan bola di atas gunung nona dan nendang bola di lapangan Persija?

Jelas beda. Ketinggian menyebabkan tekanan udara menipis. Bukan jumlah oksigennya. Persentase oksigen sama saja, 21%, baik di lapangan Persija maupun di atas gunung nona. Tapi tekanan udara lebih besar di Jakarta sehingga menyebabkan suplai oksigen dari paru-paru melalui membran tipis, tembus ke dalam kapiler-kapiler darah di paru-paru lebih mudah terjadi. Pada ketinggian seperti di pegunungan, hal itu lebih sulit dilaksanakan.

Itu sebabnya reaksi pertama tubuh dalam situasi seperti itu adalah nafas ngos-ngosan, nafas lebih cepat, lebih dalam, dan dada terasa sesak. Tubuh sedang berusaha menyuplai lebih banyak lagi oksigen ke dalam darah. Selain itu mungkin juga ada gejala seperti pusing kepala, mual, kepala terasa melayang-layang, dan keinginan untuk muntah. Semua itu adalah ciri-ciri kurangnya O2 dalam darah.

Istilah untuk gejala-gejala tersebut adalah acute mountain sickness. Biasanya penderitanya susah tidur, susah makan, dan dehidrasi. Susah tidur terjadi karena untuk masuk dalam fase tidur, tubuh harus melambatkan diri, frekuensi nafas menjadi lebih jarang, dan akibatnya suplai darah akan melambat. Lha, bagaimana bisa tidur kalau nafas terus ngos-ngosan akibat oksigen yang berkurang?

Dehidrasi terjadi secara tidak langsung dan merupakan gejala umum di ketinggian. Pada saat frekuensi nafas menjadi lebih sering, uap air yang keluar masuk seiring pernafasan menjadi lebih banyak terbuang. Dehidrasi dicirikan antara lain dengan kesulitan berkonsentrasi, pusing kepala, dan ciri-ciri aneh lain, seperti hilangnya koordinasi antar anggota tubuh, mudah terantuk, terjatuh, serta limbung.

Lanjutan: gilabola.com/laga-memalukan-bagaimana-argentina-kalah-1-6-ii