Sistem Gol Tandang Bikin Ex-Arsenal Bingung Mengapa Gagal Lolos

Berita bola: Kalau kamu juga bingung jangan khawatir. Sistem gol tandang yang diterapkan UEFA juga menyebabkan seorang mantan pemain Arsenal pusing kepala.

Liga Champions  - Sistem Gol Tandang Bikin Ex-Arsenal Bingung Mengapa Gagal Lolos
Sistem Gol Tandang Bikin Ex-Arsenal Bingung Mengapa Gagal Lolos

Berita bola: Kalau kamu juga bingung jangan khawatir. Sistem gol tandang yang diterapkan UEFA juga menyebabkan seorang mantan pemain Arsenal pusing kepala.

Sistem gol tandang telah menyebabkan ex -Arsenal Emmanuel Frimpong gagal paham mengapa The Gunners gagal lolos ke babak berikut Liga Champions padahal menang 2-0 vs Monaco tadi malam dan skor agregat imbang 3-3.

Emmanuel Frimpong tak kunjung bisa mengerti dengan sistem gol tandang Liga Champions sehingga tak memahami mengapa The Gunners tersingkir dari kompetisi elit itu terhadap AS Monaco pada Kamis dinihari WIB.

Meski unggul 0-2 di Riviera Perancis, dan skor agregat 3-3 secara keseluruhan, anak-anak Arsene Wenger tersingkir karena aturan sistem gol tandang. Monaco mencetak tiga gol di The Emirates dua pekan lalu.

Liga Champions  - Sistem Gol Tandang Bikin Ex-Arsenal Bingung Mengapa Gagal Lolos
Sistem Gol Tandang Bikin Ex-Arsenal Bingung Mengapa Gagal Lolos

Tapi Emmanuel Frimpong – yang hanya membuat 6 penampilan untuk tim London utara itu selama empat tahun – patah hati setelah menyadari bahwa kinerja heroik mantan timnya akan menghasilkan tidak lebih dari sebuah kemenangan hiburan.

Frimpong dengan sedih bercuit ke 758.000 followernya di Twitter: “Jadi, jika Arsenal menang 2-0, mereka gagal lolos?”

Liga Champions  - Sistem Gol Tandang Bikin Ex-Arsenal Bingung Mengapa Gagal Lolos
Sistem Gol Tandang Bikin Ex-Arsenal Bingung Mengapa Gagal Lolos

Presiden FIFA Sepp Blatter telah menyerukan agar aturan sistem gol tandang di Liga Champions dan Liga Europa ditinjau kembali.

Blatter ingin agar sistem gol tandang itu, di mana tim yang telah mencetak gol tandang terbanyak menang jika angka agregat setelah dua leg sama kuat (sebuah sistem yang telah digunakan sejak tahun 1965 di kompetisi Eropa, dan masih berlaku di Liga Champions dan Liga Europa) ditinjau ulang.

Menurutnya, aturan itu lebih memihak atau menguntungkan tim yang bertandang di leg kedua karena jika laga-laga ini berakhir melalui perpanjangan waktu karena skor agregat sama kuat, maka berarti akan ada lebih banyak waktu untuk mencetak gol tandang.

Atau dengan kata lain tim tamu diuntungkan dengan adanya perpanjangan waktu.

Dalam kolomnya di majalah Weekly FIFA, Swiss mengatakan: “Ini adalah waktu untuk mengkaji ulang sistem. Sepakbola telah berkembang sejak tahun 1960-an, sehingga aturan gol tandang mungkin sekarang dipertanyakan. Apakah gol tandang ketentuan yang masih masuk akal?”

“Idenya berawal saat laga tandang waktu itu (tahun 1960-an) menyusahkan, sering melibatkan perjalanan yang panjang dan sulit, dan kondisi bermain yang bervariasi.”

“Pada kenyataannya, itu menguntungkan klub yang main tandang di leg kedua. Jika skor agregat sama kuat, tim yang memiliki 30 menit lebih banyak dari lawan mereka mencetak gol tandang yang berharga. Apalagi, di leg pertama tidak ada perpanjangan waktu.”

“Ketidakseimbangan semacam telah dibuang di berbagai kompetisi. Aturan gol tandang tidak lagi digunakan di semi final playoff untuk laga promosi (naik divisi) di sepakbola Inggris.”

Blatter telah menyarankan menirukan playoff MLS di Amerika Serikat dan di Liga Champions CONCACAF – di mana gol tandang hanya dihitung ‘ganda’ di akhir waktu normal di leg kedua, bukan di perpanjangan waktu.

Sepakbola.cc