Main Sepakbola, Digigit Semut Api, Meninggal

8

  Kabar yang cukup jarang terjadi dalam dunia sepakbola terjadi di Texas sebagaimana dikabarkan ABC News Selasa (17/9/2013). Cameron Espinosa, remaja usia 13 tahun, meninggal setelah digigit semut di lapangan sepakbola pekan lalu. Sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, Cameron sempat dibawa ke rumah sakit akibat reaksi alergi yang parah. Ia meninggal beberapa hari setelah sempat […]

Main Sepakbola, Digigit Semut Api, Meninggal - berita Internasional Xtra Time

 

Kabar yang cukup jarang terjadi dalam dunia sepakbola terjadi di Texas sebagaimana dikabarkan ABC News Selasa (17/9/2013). Cameron Espinosa, remaja usia 13 tahun, meninggal setelah digigit semut di lapangan sepakbola pekan lalu. Sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, Cameron sempat dibawa ke rumah sakit akibat reaksi alergi yang parah. Ia meninggal beberapa hari setelah sempat koma karena pembengkakan dalam otaknya.

Saat itu, siswa kelas delapan di  Haas Middle School, Corpus Christi, Texas, ini sedang bermain sepakbola dengan sekolah tetangganya, Hamlin Middle School, saat tiba-tiba saja Cameron berteriak bahwa ada semut di kakinya. Pelatihnya kemudian berlari ke arahnya dan berusaha menjauhkan semut tersebut dari kaki Cameron menggunakan air botol. Tak lama setelah itu, Cameron perlahan terkulai lemas dan akhirnya hilang kesadaran.

Pelatih Cameron kemudian menelepon 911, Tak lama kemudian paramedis tiba dan membawa Cameron ke Bay Area Hospital, Corpus Christi. Sayangnya tak bisa diatasi di sana, ia kemudian dirujuk ke Driscoll Children’s Hospital.

Seorang ahli alergi di Atlanta Allergy and Asthma Clinic, Dr Stanley Fineman, mengungkapkan bahwa jika melihat reaksi Cameron, ia menduga semut yang ada di lapangan tersebut adalah semut api.

Menurutnya, semut api tersebut bisa saja berwarna merah atau hitam. Semut itu diketahui sebagai satu-satunya semut yang dapat menyuntikkan racun dan memicu reaksi alergi. Reaksi yang muncul pada tiap orang bisa bervariasi dari gatal, benjolan merah atau shock anafilaksis.

“Pada beberapa pasien, satu sengatan bisa memicu reaksi yang mengancam jiwa,” ujar Dr Fineman.