Mampukah Cristiano Ronaldo Patahkan Kutukan Ini?

  Ada satu gelar terhormat yang disebut-sebut memiliki kutukan abadi. Sejarah sepakbola memperlihatkan, sudah puluhan tahun pemain bola yang menerima gelar itu tidak bisa membawa tim nasionalnya berjaya di Piala Dunia tahun berikutnya. Nama gelar itu adalah Ballon d’Or. Para pemain penerima Ballon d’Or diketahui tak mampu membawa negaranya menjuarai Piala Dunia di tahun-tahun terdekatnya. Lihat saja contoh kasus […]

Pelatih Inter Milan, Stefano Pioli mengkritik mentalitas Inter Milan yang berakibat tersingkirnya mereka dari turnamen Liga Europa.

Internasional Piala Dunia  - Mampukah Cristiano Ronaldo Patahkan Kutukan Ini?

 

Ada satu gelar terhormat yang disebut-sebut memiliki kutukan abadi. Sejarah sepakbola memperlihatkan, sudah puluhan tahun pemain bola yang menerima gelar itu tidak bisa membawa tim nasionalnya berjaya di Piala Dunia tahun berikutnya.

Nama gelar itu adalah Ballon d’Or. Para pemain penerima Ballon d’Or diketahui tak mampu membawa negaranya menjuarai Piala Dunia di tahun-tahun terdekatnya. Lihat saja contoh kasus Lionel Messi, sang penerima penghargaan untuk tahun 2009, 2010, 2011, dan 2012. Di Piala Dunia 2010 Argentina berhasil masuk ke perempatfinal, namun tanpa satu gol pun sumbangan dari Messi. Dan di saat mereka sangat membutuhkan kreativitasnya, ia justru tidak bisa memberikan apa-apa, dan Argentina dipermalukan 0-4 vs Jerman di babak perempatfinal.

Kutukan yang sama bisa ditelusuri balik sampai ke tahun 1957. Tahun itu penerima penghargaan Ballon d’Or adalah legenda Real Madrid Alfredo Di Stéfano. Ia lalu memperoleh kewarganegaraan Spanyol tepat pada waktunya, tahun 1958, untuk periode kualifikasi namun gagal menolong negaranya lolos ke putaran final Piala Dunia.

Kasus lain yang mirip dengan itu adalah pada Piala Dunia tahun 1978, ketika striker Denmark Allan Simonsen, pemenang tahun 1977 dan finalis Piala Eropa bersama Borussia Mönchengladbach tahun yang sama, melihat harapan bangsanya sirna di babak kualifikasi.

Sebenarnya, sudah ada lima tim yang melibatkan pemenang Ballon d’Or saat itu sampai ke partai final.

Tapi rasanya tak ada yang setragis seperti yang dialami pemain Italia Roberto Baggio (pemenang Ballon d’Or tahun 1993) di Piala Dunia 1994 di Amerika.

Baggio sungguh berjasa mencetak kelima golnya di babak-babak sistem gugur, termasuk dua gol di semifinal melawan Bulgaria, yang mengirim tim Azzurri ke final melawan Brasil. Tapi setelah laga final berlangsung selama 120 menit tanpa gol, pemain Juventus itu membuang penaltinya dengan sebuah tembakan melambung di atas tiang gawang, yang memberi Brasil gelar juara dunia keempat mereka.

Cek videonya:

Sebelum itu juga ada pemegang gelar Ballon d’Or, Johan Cruyff dan Belanda, yang tampaknya paling mungkin mengakhiri kutukan tersebut di tahun 1974. Belanda dan permainan Total Football mereka menaklukkan semua lawan dalam perjalanan ke final dan sepertinya ditakdirkan untuk menjadi juara setelah sebuah penalti awal membuat mereka unggul melawan Jerman Barat.

Namun, Belanda malah takluk 2-1.

Tragedi yang sama menimpa para pemenang sebelumnya, seperti pemain Italia Gianna Rivera  di tahun 1970, striker Jerman Barat Karl-Heinz Rummenigge (1982) dan pemain depan asal Brazil Ronaldo. Mereka bertiga juga gagal menyandingkan penghargaan Ballon d’Or dan Piala Dunia.

Pemain Terbaik Eropa untuk 3 tahun berurutan, 1983-1984-1985, Michel Platini hanya bisa melihat Prancis tersingkir di babak semifinal tahun 1986.  Sedangkan Eusebio, meskipun memiliki kinerja berkilau pada tahun 1966 di mana ia mencetak sembilan kali gol untuk mengklaim Golden Boot, bersama timnas Portugal tersisih oleh tuan rumah Inggris di semifinal.

Pemenang penghargaan tahun 2001 Michael Owen hanya bisa membantu Inggris sejauh perempatfinal tahun berikutnya (2002) sebelum mereka dikirim pulang oleh Brasil, sementara pemenang 2002 Ronaldinho yang bermain di bawah standar terbaiknya, tidak berdaya untuk menyelamatkan negaranya yang ditendang keluar pada babak perempatfinal Piala Dunia 2006.

Marco van Basten (pemenang 1989) dan Omar Sivori (pemenang 1961) bahkan bernasib lebih buruk, kalah pada kutukan misterius Ballon d’Or .

Ballon d’Or atau Bola Emas pada awalnya ditujukan untuk Pemain Terbaik Eropa (khusus laki-laki). Sejak tahun 2010 digabung dengan penghargaan pemain terbaik versi FIFA dan lalu dinamakan FIFA Ballon d’Or.

Awalnya ini adalah sebuah penghargaan yang digagas di tahun 1956 oleh pemimpin redaksi majalah France Football, Gabriel Hanot, yang meminta rekan-rekannya untuk memilih pemain terbaik di kompetisi tahun sebelumnya. Pemenang perdana tahun itu adalah Stanley Matthews dari Blackpool.

Pada mulanya, wartawan hanya bisa memilih pemain berwarganegaraan Eropa di klub-klub Eropa, yang berarti bahwa pemain seperti legenda Argentina Diego Maradona (yang bermain di klub bola Eropa, tetapi bukan orang Eropa) dan legenda Brasil Pelé (yang tidak bermain untuk klub Eropa dan juga bukan orang Eropa) tidak memenuhi syarat untuk dimasukkan dalam nominasi penghargaan.

Sebuah perubahan lalu dilakukan pada tahun 1995 sehingga memungkinkan pemain non-Eropa bisa dicalonkan untuk penghargaan jika mereka bermain untuk klub Eropa. Orang pertama non-Eropa yang menang setelah perubahan aturan itu adalah pemain AC Milan George Weah pada tahun yang sama.

Mulai tahun 2007, setiap pemain di dunia –bermain di liga mana saja– boleh dinominasikan, dan jumlah wartawan yang boleh memilih juga meningkat, dari 52 jurnalis Eropa di tahun 2006, menjadi 96 wartawan dari seluruh dunia.

Hanya tiga pemain yang telah memenangkan penghargaan ini sebanyak tiga kali: Johan Cruyff, Michel Platini, dan Marco van Basten. Dari ketiganya, Platini adalah satu-satunya pemain yang memenangkan penghargaan ini tiga tahun berturut-turut: 1983-1985.

Ronaldo dari Brasil, bernama asli Luís Nazário de Lima, menjadi pemain Brasil pertama yang memenangkan penghargaan pada tahun 1997, pada periode setelah pemain non-Eropa boleh dinominasikan.

Negara yang paling sering menang dengan tujuh penghargaan masing-masing adalah pemain kewarganegaraan Belanda dan Jerman. Sedangkan klub yang paling sering memenangkan Ballon d’Or adalah Juventus dan AC Milan, masing-masing memiliki enam pemain yang memenangkan delapan penghargaan saat masih bermain untuk tim masing-masing. Marco van Basten menang tiga kali (1988, 1989, dan 1992) saat berkarir di AC Milan.

Penerima terakhir penghargaan Ballon d’Or, di tahun 2010, adalah Lionel Messi. Ia adalah orang Argentina ketiga penerima gelar ini, tetapi yang pertama sebagai warga negara Argentina.

Setelah 2010, Ballon d’Or dilebur bersama penghargaan pemain FIFA dengan nama baru ‘FIFA Ballon d’Or’. Dua tahun berurutan Lionel Messi menyabetnya (2011, 2012) dan baru setelah itu direbut Cristiano Ronaldo. Pemain Portugal itu juga pernah menerimanya saat masih menggunakan nama lama, tahun 2008, ketika masih tergabung dengan Manchester United.

Sepakbola.cc