Manchester United Tidak Mungkin 100% Menang, Kata LVG

18

Menghadapi hari pertamanya di Manchester United, Louis van Gaal (LVG) berharap fans bisa menerima kenyataan jika sesekali Setan Merah mengalami kekalahan. Pelatih asal Belanda ini baru saja kembali dari Piala Dunia, membawa tim Belanda tidak terkalahkan. Gagal lolos ke final semata-mata adu nasib, yakni melalui adu penalti vs Argentina. Banyak yang berharap rekor tidak terkalahkan […]

Internasional Liga Inggris Piala Dunia  - Manchester United Tidak Mungkin 100% Menang, Kata LVG

Menghadapi hari pertamanya di Manchester United, Louis van Gaal (LVG) berharap fans bisa menerima kenyataan jika sesekali Setan Merah mengalami kekalahan. Pelatih asal Belanda ini baru saja kembali dari Piala Dunia, membawa tim Belanda tidak terkalahkan. Gagal lolos ke final semata-mata adu nasib, yakni melalui adu penalti vs Argentina.

Banyak yang berharap rekor tidak terkalahkan yang sama akan dibawa LVG ke Old Trafford.

Ia memperingatkan pendukung Setan Merah bahwa mereka pasti akan menemukan diri mereka di pihak yang kalah dari waktu ke waktu.

“Aku tidak bisa melakukannya (terus menerus menang 100%) dengan Ajax, Barcelona atau Bayern Munich. Kalah adalah bagian dari olahraga,” katanya. “Saya hanya berharap bahwa di Manchester United saya bisa melakukan yang terbaik. Apakah itu cukup untuk para penggemar, kami harus menunggu dan melihat, tapi aku benar-benar berharap bahwa itu akan terjadi.”

Meski demikian pelatih berusia 62 tahun itu berharap ia bisa menjiplak semangat tim yang sama yang telah membawa Belanda ke tempat ketiga di Piala Dunia ketika ia tiba di Manchester United.

Dalam 24 atau 48 jam mendatang pelatih asal Belanda akan mengambil alih posisi sebagai manajer di Old Trafford dengan tugas berat mengembalikan raksasa Inggris itu kembali ke jalur juara setelah musim lalu yang sulit dan memalukan di bawah David Moyes, yang dirusak oleh rumor kerusuhan kamar ganti.

Namun agaknya LVG akan dengan segera beroleh rasa hormat pemain-pemain Manchester United. Bukan saja karena jejak prestasi Belanda di tanah Brasil, tapi juga kemampuannya memompa semangat tim.

Keputusannya untuk memasukkan kiper Michel Vorm di menit-menit akhir laga kemenangan 3-0 vs Brasil menjadikan ke-23 anggota skuad Belanda ikut turun memainkan beberapa bagian di turnamen.

“Akan selalu ada tempat di hati saya untuk ke-23 pemain ini,” kata van Gaal, yang akan meneruskan estafet kepemimpinan sebagai pelatih Belanda kepada Guus Hiddink.

LVG mengatakan dia ‘bangga’ dari cara Belanda tampil di Brasil, meskipun mereka sekali lagi gagal meraih gelar juara seperti ditargetkan semula.

Dan dia mengaku merasa sedikit puas membawa medali perunggu setelah mengklaim bahwa FIFA seharusnya tidak pernah menyetujui pertandingan perebutan tempat ketiga.

“Kami mencetak 15 gol dalam tujuh pertandingan dan kebobolan empat, dua di antaranya berasal dari penalti yang tidak adil. Saya pikir kita bisa melihat ini sebagai sebuah turnamen yang sukses dan saya bangga dengan para pemain dan staf saya,” kata van Gaal, yang timnya membuka turnamen dengan kemenangan 5-1 yang menakjubkan atas juara bertahan Spanyol.

“Aku tidak berubah pikiran. Laga ini seharusnya tidak pernah ada, dan tidak mudah dalam waktu tiga hari untuk membangun kembali skuad. Saya pikir kami fantastis.”

Bertentangan dengan tradisi Belanda yang memainkan formasi 4-3-3, LVG menggunakan sistem 3-5-2 di Brasil, yang membuat mereka begitu kuat dalam pertahanan dan hanya kebobolan satu gol dalam lima pertandingan terakhir mereka.

Sekarang ia berharap keberhasilannya akan ‘membuka mata’ para pengurus bola di Belanda dan membuat orang menyadari bahwa selalu ada cara lain untuk memenangkan pertandingan.

“Impian saya adalah menjadi juara dunia dan kami mungkin bisa saja melakukannya. Ini adalah pertandingan terakhir saya dan kami menyelesaikannya dengan medali. Tapi adalah penting juga untuk menampilkan gaya baru bermain sepakbola.”

“Saya mendengar pelatih baru mengatakan bahwa ia ingin bermain dengan gaya Belanda, tapi aku selalu bermain dengan cara Belanda.”

“Mungkin ini akan membuka mata semua orang di Belanda, membuat mereka menyadari, tersedia lebih dari satu sistem untuk membuat orang bahagia.”

“Saya lebih suka menggunakan kualitas skuad, dan itu berhasil. Kami tidak juara, tapi kami sangat dekat (dengan gelar juara).”