Mengapa 16 Jadi Angka Sial di Brasil, dan 13 Lebih Baik

  •   Ini adalah kali kedua Brasil jadi tuan rumah Piala Dunia, setelah kali pertama tahun 1950. Waktu itu seluruh rakyat Brasil sudah siap-siap menyambut negaranya jadi juara dunia, hanya untuk kecewa karena gol kemenangan Uruguay. Berbeda dengan hari ini, saat itu juara ditentukan oleh sistem setengah kompetisi oleh 4 finalis peserta teratas: Brasil, Uruguay, Swedia, dan […]

Internasional Piala Dunia  - Mengapa 16 Jadi Angka Sial di Brasil, dan 13 Lebih Baik

 

Ini adalah kali kedua Brasil jadi tuan rumah Piala Dunia, setelah kali pertama tahun 1950.

Waktu itu seluruh rakyat Brasil sudah siap-siap menyambut negaranya jadi juara dunia, hanya untuk kecewa karena gol kemenangan Uruguay.

Berbeda dengan hari ini, saat itu juara ditentukan oleh sistem setengah kompetisi oleh 4 finalis peserta teratas: Brasil, Uruguay, Swedia, dan Spanyol.

Unggul 1 poin dari Uruguay, di laga itu Tim Samba hanya butuh menghindari kekalahan, sementara Uruguay harus menang. Posisi 1-1 sampai menit ke-78 ketika Alcides Ghiggia dari Uruguay mencetak gol kedua ke tiang terdekat. Kiper Moacir Barbosa gagal mengantisipasi dan telat menangkap bola, 2-1 untuk Uruguay.

Saksi mata mengingat, seluruh stadion yang berkapasitas 183.000 orang itu langsung sunyi, sesenyap kuburan. Tak seorang pun mengantisipasi kekalahan. seluruh rakyat Brasil sudha menyiapkan pesta, bukan acara perkabungan.

Trauma tahun 1950 ternyata masih terbawa sampai dengan hari ini, selisih 64 tahun kemudian. Rakyat Brasil mengenang 1950 sebagai tahun yang menyebabkan perkabungan nasional dan munculnya seorang pria terkutuk.

“Setiap negara memiliki bencana nasional yang tak tersembuhkan, sesuatu seperti Hiroshima,” kata novelis dan jurnalis Brasil Nelson Rodrigues. “Bencana kami, Hiroshima kami, adalah kekalahan oleh Uruguay pada tahun 1950.”

Rasa sakit semakin dalam mengingat Brasil adalah satu-satunya penawar resmi tuan rumah untuk turnamen 1950 itu, pertama kalinya setelah istirahat 12 tahun akibat Perang Dunia II.

Untuk menandai acara tersebut, Brasil memutuskan untuk membangun stadion. Dan bukan sekedar stadion, tapi stadion yang terbesar di dunia. Stadion Maracana kemudian memiliki kapasitas 183.000 orang – lima kali ukuran stadion terbesar berikutnya di Rio de Janeiro.

Lebih dari 10.000 pekerja terlibat dalam pembangunan stadion, yang terletak di jantung Rio dan membagi kota ke dalam wilayah utara dan selatan.

Alcides Ghiggia, si pencetak gol, menggambarkan sebuah adegan menakutkan. “Benar-benar ada keheningan, itu keheningan,” katanya. Ia mencetak gol setelah memasuki kotak penalti: bukannya memberi umpan silang seperti yang ia lakukan untuk membuat gol pertama mereka, ia menembak langsung ke tiang terdekat dari sudut yang sempit. Ghiggia mengatakan Brasil begitu terkejut, mereka tidak pernah bisa menyamakan skor. Mental terlanjur jatuh. Trofi milik Uruguay.

Dan Barbosa menjadi pria Brasil yang terkutuk, selamanya dijauhi.

Pada tahun 1963, pada sebuah pesta di rumahnya, teman-temannya menemukan api yang luar biasa tinggi mendesis dari cat terbakar. Barbosa tidak menggunakan kayu biasa. Ia membakar tiang gawang Maracana dalam apa yang disebutnya sebagai “ritual buang sial.”

Sekitar 20 tahun setelah final, Barbosa sedang berada di sebuah toko Rio. Seorang ibu melihatnya dan mengatakan kepada anaknya: “Dia adalah orang yang membuat semua Brasil menangis”.

Waktu tidak menyembuhkan luka.

Pada tahun 1993, Barbosa pergi mengunjungi sebuah kamp pelatihan tim nasional Brasil – ia ditolak masuk, tim bola saat itu takut kutukan Barbosa akan membawa kesialan bagi mereka.

Antropolog Brasil Roberto daMatta pernah menulis laga final terakhir di tahun 1950 itu “mungkin merupakan tragedi terbesar dalam sejarah Brasil modern.”

Penulis Alex Bellos, dalam bukunya Futebol, The Way of Life Brasil, mengatakan tidak pernah ada sebuah hasil pertandingan seperti itu yang  “memberi dampak kuat dan abadi pada kehidupan emosional suatu bangsa.”

Waktu itu Brasil menggunaka jersey kemeja putih dengan kerah strip biru. Diganti dengan jersey kuning seperti dipakai hingga hari ini.

Lima puluh tahun setelah final, sang pencetak gol Uruguay Alcides Ghiggia berada di bandara Rio ketika seorang wanita di sebuah kios bertanya apakah ia menyadari bahwa hati setiap orang di Brasil merasakan sakit akibat golnya itu setiap saat.

“Kadang-kadang saya merasa seperti hantu Brasil. Aku selalu ada dalam ingatan mereka,” katanya kepada penulis Alex Bellos. “Brasil selalu bermain melawan dirinya sendiri, melawan setannya sendiri, melawan hantu dari Maracana.”

Ucapan lain dari Ghiggia yang terkenal adalah, “Hanya tiga orang yang pernah menyihir diam 200.000 orang di Maracanã dengan satu gerakan: Frank Sinatra, Paus Yohanes Paulus II dan saya.”

Hari final adalah 16 Juli.

Tidak mengherankan, jika panitia penyelenggara Brasil tahun ini menghindari tanggal yang ditakuti itu, dan menetapkan final pada tanggal 13 Juli.

Jika Brasil sampai gagal lagi tahun ini, apalagi kalah sebelum sampai final, siap-siaplah ada pemain terkutuk kedua, Moacir Barbosa kedua, yang mungkin akan ditolak masuk ke stadion, dan harus nonton seluruh laga di depan TV di rumahnya.

Saksikan video tragedi itu: