Mesut Özil Keturunan Turki Pertama di Final Piala Dunia

114

  Mesut Özil akan menjadi pemain pertama keturunan Turki yang bermain di final Piala Dunia Senin dinihari WIB nanti di stadion Maracana Rio ketika Jerman menghadapi pemenang dari laga semifinal Belanda-Argentina. Pemain timnas Jerman ini menjadi starter dan anggota kunci dari Die Mannschaft tetapi juga dikritik sebagai kurang bersemangat, lambat dan belum memberikan seluruh dirinya untuk kejayaan Jerman. Meskipun ada banyak kritik, tapi […]

 

Mesut Özil Keturunan Turki Pertama di Final Piala Dunia - berita Internasional Liga Jerman Piala Dunia

Mesut Özil akan menjadi pemain pertama keturunan Turki yang bermain di final Piala Dunia Senin dinihari WIB nanti di stadion Maracana Rio ketika Jerman menghadapi pemenang dari laga semifinal Belanda-Argentina.

Pemain timnas Jerman ini menjadi starter dan anggota kunci dari Die Mannschaft tetapi juga dikritik sebagai kurang bersemangat, lambat dan belum memberikan seluruh dirinya untuk kejayaan Jerman. Meskipun ada banyak kritik, tapi pemain berusia 25 tahun itu tidaklah seburuk yang kita duga.

Özil telah berhasil menunjukkan di Piala Dunia ini bahwa ia tidak benar-benar lambat, bahkan sebenarnya dia cukup cepat. Menurut statistik FIFA, Özil mencatatkan kecepatan tertinggi 32 kilometer per jam di partai kemenangan 1-0 Jerman atas Prancis, lebih cepat dari Neymar (31,8 kpj), Cristiano Ronaldo (31,2 kpj) dan Arjen Robben (31,6 kpj) .

Ia juga mencatatkan rata-rata 2,5 umpan dan 1,8 dribble per game dengan sukses. Angka ini lebih tinggi daripada pemain Jerman lainnya.

Mantan pemain timas Jerman Dietmar Hamann tampil sebagai salah satu pembela Özil.

“Kritik-kritik ini sangat keras. Saya pikir ia telah bermain baik, melakukan pekerjaan yang layak bagi tim,” katanya.

“Di Jerman, orang cenderung kritis, tak peduli bagaimana dia bermain.”

Özil merupakan bagian dari 4 juta komunitas Turki yang kuat di Jerman. Keturunan Turki di Jerman membentuk etnis minoritas terbesar di negara ini dan mencapai sekitar 4-5% dari populasi dan banyak dari mereka adalah keturunan dari pekerja tamu – yang dikenal sebagai Gastarbeiter – yang tiba ketika migrasi besar-besaran warga Turki ke Jerman Barat dikembangkan selama tahun 1960-an dan 1970-an. Jerman Barat kala itu mengalami kekurangan tenaga kerja yang parah karena adanya ledakan ekonomi pada tahun 1961 dan menegosiasikan impor tenaga kerja dari Turki guna mengisi kekosongan. Mesut Özil Keturunan Turki Pertama di Final Piala Dunia - berita Internasional Liga Jerman Piala Dunia

Sebagian besar orang Turki pindah ke daerah industri Jerman seperti Rhine-Westphalia Utara, Baden-Württemberg dan bekerja di lingkungan kelas pekerja di kota-kota seperti Berlin, Cologne, Duisburg, Düsseldorf, Frankfurt, Mannheim, Mainz, Munich, dan Stuttgart. Özil dibesarkan di kota Gelsenkirchen di Rhine-Westphalia Utara sebagai Turki generasi ketiga. Si Altintop kembar – Halil dan Hamit – juga lahir dan dibesarkan di kota yang sama tetapi memutuskan untuk mewakili negara orang tua mereka, Turki.

Pemain timnas Turki Nuri Şahin dibesarkan di kota Ludenscheid, yang terletak 60 kilometer di sebelah selatan Gelsenkirchen. Demikian juga anggota tim Turki lainnya: Gökhan Tore, Ömer Toprak, Hakan Balta, Hasan Ali Kaldırım, Olcay Sahan dan pemain baru yang diperkirakan akan menjadi Özil berikutnya – Hakan Çalhanoğlu – semuanya lahir dan besar di dalam batas-batas negara bagian Rhine-Westphalia Utara dan Baden-Württemberg.

Pemain Turki yang lahir di Jerman bukan fenomena baru bagi tim nasional. Turki mencapai semifinal Piala Dunia 2002 dengan orang-orang seperti İlhan Mansız, Yildiray Basturk dan Ümit Davala, yang semuanya merupakan pemain kelahiran Jerman.

Gagasan bahwa anak yang lahir dan dibesarkan di sebuah negara namun memilih untuk mewakili tim nasional lain mungkin tampak sedikit aneh pada awalnya, tetapi selama beberapa dekade, hukum kewarganegaraan Jerman rumit dan tidak inklusif bagi anak-anak imigran Turki. Seorang anak yang lahir dari orang tua Turki di Jerman dianggap sebagai warga negara Turki.

Hukum itu berubah pada tahun 1999 tetapi masih sulit untuk memegang kewarganegaraan ganda dan jika seorang Turki menginginkan paspor Jerman, maka mereka harus meninggalkan kewarganegaraan Turki mereka.

Situasi ini telah mengakibatkan konflik loyalitas, ada banyak kasus generasi ketiga Turki di Jerman memilih untuk mewakili timnas Turki dan dalam beberapa tahun ke depan kita mungkin akan mulai menyaksikan anak-anak pertama dari generasi keempat Turki memilih bermain untuk salah satu tim nasional. Sebagai generasi ketiga, keputusan Özil untuk mewakili Jerman adalah salah satu keputusan tersulit yang pernah dibuatnya.  Mesut Özil Keturunan Turki Pertama di Final Piala Dunia - berita Internasional Liga Jerman Piala Dunia

Özil mengatakan, “Saya dan keluarga saya akan selalu Turki tapi saya lahir dan dibesarkan di negeri ini. Saya berhasil dengan tim  U-21 mereka dan saya merasa baik-baik saja di sini. Saya memilih Jerman karena alasan itu. Tidak ada alasan mengapa saya tidak akan menjadi sukses bersama dengan mereka.”

Pemain berusia 25 tahun tersebut adalah muslim yang selalu mengucapkan doa-doa sebelum pertandingan dan bukannya menyanyikan lagu kebangsaan Jerman. Özil mempertahankan hubungan yang kuat dengan Turki. Ia fasih berbahasa Turki dan secara teratur mengunjungi kerabatnya di Devrek, Zonguldak di Turki barat laut.

Jumlah pemain keturunan Turki di Bundesliga telah meningkat pesat untuk setiap musim yang lewat. Saat ini total ada 26 pemain Turki di 18 klub papan atas selama musim 2013-14 dan diperkirakan akan terus meningkat secara signifikan selama beberapa tahun ke depan.

Dortmund memiliki enam anak muda keturunan Turki di musim terakhir Youth Liga Champions mereka, denganMehmet Kurt dan Cihan Yıldız mengakhiri turnamen sebagai topscorer Borussia Dortmund. Sistem sepakbola Jerman yang sangat efisien berkembang menjadi sebuah pabrik pemain sepakbola yang bukan hanya membantu pengembangan Die Mannschaft tetapi juga sistem sepakbola Turki.

Fenomena terbaru di kompetisi Super Lig Turki adalah imigrasi terbalik. Federasi Sepak Bola Turki baru-baru ini menerapkan perubahan radikal, membatasi jumlah pemain asing di tiap klub Super Lig, guna meningkatkan kualitas pemain lokal.

Pemain-pemain keturunan Turki di Jerman cenderung lebih terlatih, berpendidikan lebih baik dalam sepakbola modern dan lebih mungkin untuk lolos bermain sebagai pemain domestik. Jumlah pemain keturunan Turki di Super Lig yang lahir di luar batas negara Turki begitu menakjubkan. Musim lalu ada 94 dari 291 pemain domestik Turki yang tidak lahir dalam batas-batas negara. Sebanyak 64 lahir di Jerman dan sisanya lahir di Belgia, Belanda, Australia, Austria, Inggris, Swedia dan Swiss.

Özil akan membuat sejarah pada Senin dinihari WIB ketika ia melangkah masuk ke lapangan Maracana. Putra dari Gastarbeiter akan menjadi pusat perhatian pada pertandingan terbesar di dunia sepakbola dan menjadi sumber inspirasi bagi anak-anak muda Turki di Jerman.