Patrick Kluivert, Pemain Bola Yang Pernah Bunuh Orang

62

Di antara staf kepelatihan Louis van Gaal di timnas Belanda, duduklah pria ini: berkulit hitam, tinggi, berjas seragam dengan dasi oranye, tidak selangsing dulu tapi jauh lebih menarik ukuran perutnya daripada sang pelatih. Ia adalah Patrick Kluivert. Usianya kini 38 tahun. 19 tahun silam pemain profesional untuk Ajax (1994-1997), AC Milan (1997-1998), Barcelona (1998-2004) ini pernah […]

Patrick Kluivert, Pemain Bola Yang Pernah Bunuh Orang - berita Internasional Piala Dunia

Di antara staf kepelatihan Louis van Gaal di timnas Belanda, duduklah pria ini: berkulit hitam, tinggi, berjas seragam dengan dasi oranye, tidak selangsing dulu tapi jauh lebih menarik ukuran perutnya daripada sang pelatih. Ia adalah Patrick Kluivert. Usianya kini 38 tahun.

19 tahun silam pemain profesional untuk Ajax (1994-1997), AC Milan (1997-1998), Barcelona (1998-2004) ini pernah didakwa sebagai seorang pembunuh.

Pada 9 September 1995, seorang sutradara teater berusia 56 tahun dan ayah dari dua anak, Marten Putman, meninggalkan rumahnya saudaranya di Amsterdam Utara setelah makan malam keluarga. Selagi ia melakukan U-turn dengan mobilnya, Ford Orion, sedan merah BMW cabriolet Kluivert menghantam sisi pintu sopir mobil keluarga itu dengan kecepatan 88,5 km/jam. Patrick Kluivert, Pemain Bola Yang Pernah Bunuh Orang - berita Internasional Piala Dunia

Dikenal sebagai gilabola Ajax seumur hidupnya, Putman tewas seketika. Sementara istrinya yang menderita cedera parah dan koma akhirnya selamat dari kecelakaan tragis itu. Batas kecepatan adalah 56 km/jam pada saat itu, dan karena tidak ada bukti bahwa Kluivert mabuk malam itu, dia hanya didakwa dengan tuduhan mengemudi secara berbahaya dan belakangan dinyatakan bersalah melakukan pembunuhan. Patrick Kluivert, Pemain Bola Yang Pernah Bunuh Orang - berita Internasional Piala Dunia

Kluivert yang saat itu berusia 19 tahun menerima hukuman layanan masyarakat dan larangan mengemudi. Kuasa hukumnya mendesak para gilabola dan kritikus agar dengan cepat memaafkan pemain ini dan melupakannya. Tetapi untuk keluarga Putman, Kluivert telah menghancurkan hidup mereka selamanya.

Mantan pemain timnas  Belanda ini telah mempesona jutaan penggemar di seluruh dunia selama karir sepakbolanya yang  berwarna-warni. Dengan total 40 gol, Kluivert masih tercatat sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa untuk Belanda dan juga telah dipilih oleh Pele sebagai salah satu dari 125 Pesepakbola Besar yang masih hidup.

Bagi para kritikus, pertanyaan yang diajukan adalah: Apakah seorang pria yang pernah dihukum karena pembunuhan benar-benar layak diberi kehormatan itu? Jadi, apa pun yang terjadi pada malam tragis itu akan terlupakan selamanya karena ia adalah seorang pesepakbola berbakat? Bagaimana dengan keluarga korban?

Klub dan timnas Belanda memberi sokongan kepada Kluivert selama kasus ini, tetapi tidak ada yang dapat memprediksi efek jangka panjang dari kecelakaan mobil tersebut.

“Sesuatu dalam diriku telah rusak,” kata Kluivert kepada majalah Voetbal International. “Saya tidak pernah dapat sepenuhnya bahagia lagi. Sebelum kecelakaan itu, aku kadang-kadang ceroboh, tapi itu normal untuk usia saya. Sekarang, dalam satu saat, (rasa bahagia) itu hilang. Sifat anak dalam diriku telah mati dibunuh. Hanya ketika saya di lapangan, saya dapat menjadi diri saya sendiri [dan] merasa benar-benar bebas.”

Pada hari pemakaman korban, Kluivert untuk pertama kalinya dijadikan pemain cadangan. Ketika akhirnya ia kembali turun ke lapangan hijau untuk pertandingan Ajax vs tuan rumah NAC Breda, gilabola pesaing meneriakinya, “Pembunuh, pembunuh, pembunuh!”

Kluivent mencetak gol kemenangan tetapi menjadi sangat tertekan. “Saya tidak berani keluar,” katanya. “Aku takut orang akan meneriaki saya, bahkan dari cara mereka memandang saya … semuanya benar-benar berbeda dari sebelumnya. Sepanjang waktu, gambar kecelakaan terus kembali padaku.”

Istri korban, Hanny Putman, mengatakan, “Mobil itu datang dengan kecepatan tinggi. Kami tidak bisa melihatnya. Saya senang bahwa suami saya tidak sempat merasakan rasa sakit atau takut.”

“Kluivert mengirim sebuah surat sesudahnya, tapi hanya sebuah surat pendek, seperti seorang guru mendiktekan kalimat-kalimat atasnya. Mungkin karena dia masih berusia 19 tahun, tapi saya menilai kelakuannya tidak berkarakter sama sekali. Dia menghancurkan hidup saya, tapi sangatlah penting bagi saya, bahwa dia divonis bersalah. Itu merupakan hukuman yang ringan, tapi hal itu biasa terjadi diBelanda. Hakim bertindak benar.”

“Setiap orang di keluarga saya menjadi gilabola Ajax. Suami saya, ayah saya. Ketika saya muda, saya menyukai mereka juga. Anak saya dulu sering pergi ke laga bersama kakeknya. Sekarang dia masih nonton laga Ajax tapi hanya melalui video. Jadi kalau kalau tampangnya Kluivert kelihatan, dia bisa tekan tombol fast forward videonya sehingga tidak kelihatan lagi.”

Sebegitu tragis dan sedihnya kisah Patrick Kluivert menjadi seorang pembunuh.