Pemain Tim Ini Harus Menang Agar Bebas Wajib Militer

Jarang ada yang begitu banyak dipertaruhkan di sebuah final sepakbola Asian Games. Tapi final kali ini akan melakoni laga Utara vs Selatan, sebagaimana pembagian wilayah di semenanjung Korea. Ini adalah sebuah game di mana pemain Korea Selatan berusaha keras untuk menang. Harus menang bukan hanya karena Asian Games itu terjadi di kandang sendiri melawan tetangga terdekat mereka, tetapi […]

Internasional  - Pemain Tim Ini Harus Menang Agar Bebas Wajib Militer
Jarang ada yang begitu banyak dipertaruhkan di sebuah final sepakbola Asian Games.

Tapi final kali ini akan melakoni laga Utara vs Selatan, sebagaimana pembagian wilayah di semenanjung Korea.

Ini adalah sebuah game di mana pemain Korea Selatan berusaha keras untuk menang.

Harus menang bukan hanya karena Asian Games itu terjadi di kandang sendiri melawan tetangga terdekat mereka, tetapi juga karena medali emas akan memberi mereka pembebasan dari wajib militer, yang terjadi karena kedua negara secara teknis masih dalam peperangan.

Ketika Korea Utara dan Korea Selatan bertemu di final Asian Games pada tahun 1978, pertandingan berakhir tanpa gol dan medali emas pun dibagi dua.

Namun, sementara skor draw yang sama adalah mungkin di Incheon pada hari Kamis besok, terutama mengingat kekuatan kedua tim di lini belakang, medali emas tidak akan dibagi dua saat ini. Harus ada pemenang, bahkan jika harus melewati adu penalti.

Sebuah kemenangan bagi Korea Selatan akan berarti pemain seperti Park Joo-ho, 27, salah satu dari tiga pemain khusus di atas usia yang diperbolehkan untuk tim U-23, tidak perlu kembali ke Korea Selatan dari klub Jerman FSV Mainz 05 dalam dua tahun ke depan guna menjalani layanan wajib militer.

Sebuah kemenangan juga bisa mempermudah para pemain muda skuad untuk pindah transfer ke klub luar negeri di masa depan.

“Saya ingin memakai medali emas di leher saya,” kata Lee Jong-ho, pencetak gol pertama dalam kemenangan 2-0 Korea Selatan atas Thailand di partai semifinal.

“Secara teknis dan fisik, Korea Utara adalah tim yang sangat bagus dan kami harus mempelajarinya dengan baik. Tapi kami sudah berada di posisi yang kami inginkan. Kami memiliki satu pertandingan penting tersisa dan kami akan berjuang sampai akhir untuk mencapai impian kami.”

Korea Utara adalah hambatan besar untuk medali emas.

Sejauh ini Korea Utara  telah memenangkan setiap pertandingan, hanya kebobolan satu gol dan mengeliminasi tim berbakat Uni Emirat Arab di perempatfinal dan kemudian Irak, untuk akhirnya lolos ke final.

Namun, lini belakang Korea Selatan masih bisa ditembus dan tim ini berhasil maju ke final dengan ujian terberat datang dipartai perempat final vs Jepang yang berakhir 1-0.

“Para pemain telah bekerja keras untuk sampai ke sini dan saya sangat bangga dengan mereka dan kita harus menyelesaikan pekerjaan ini terlepas dari siapa pun lawannya,” kata pelatih Korea Selatan Lee Kwang-jong, berharap untuk memberikan emas sepakbola pertama negara itu di Asian Games sejak tahun 1986.

Dengan hanya 48 jam antara semifinal dan final, Lee percaya bahwa kondisi fisik pemain akan menjadi kuncinya, mengatakan bahwa timnya memegang keuntungan karena Korea Utara harus menjalani waktu ekstra dan “harus menggunakan banyak energi”.

Tuan rumah memiliki keuntungan besar lain.

Striker Korea Utara Jong Il Gwan yang menduduki posisi kedua top scorer dengan lima gol tidak mungkin turun di partai final karena diusir dikeluarkan dari lapangan setelah mencetak gol kemenangan melawan Irak.

“Akan lebih baik jika wasit adil di final,” kata pelatih Korea Utara Yoon Jung-soo.

“Ini ada rasa malu bahwa Jong tidak bisa bermain, tapi kami memiliki pemain yang secara mental dan fisik siap untuk datang dan menggantikannya.”

Perhatian utama Korea Selatan adalah kebugaran striker utama Kim Shin-wook, pemain utama untuk tim nasional senior yang merupakan salah satu pemain di negara itu yang tampil lebih baik daripada rekan-rekannya di Piala Dunia yang mengecewakan pada bulan Juni, tetapi cedera saat laga grup kedua melawan Arab Saudi.

Terhadap lawan yang terorganisir dengan baik, tidak bisa diharapkan akan ada banyak peluang mencetak gol dan striker Ulsan Horangi itu, yang diharapkan pindah ke Eropa pada tahun 2015, bisa menjadi sangat menentukan.